Tama terdiam.Jakunnya bergerak naik turun, menelan saliva dengan susah payah. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan, tetapi ucapan Airin barusan berhasil membuatnya terpaku.Apa itu berarti Airin sudah tidak membutuhkan penjelasannya lagi?“Sudah siang, Mas. Ayo, sarapan. Nanti kamu terlambat.”Airin bersuara lebih dulu. Tanpa menunggu jawaban Tama, ia berbalik dan berjalan keluar kamar.Tama masih berdiri di tempatnya selama beberapa saat.Biasanya Airin akan menunggunya. Bertanya. Meminta penjelasan.Tapi kali ini tidak.Dan entah kenapa, sikap Airin yang seperti itu justru membuat dada Tama terasa sesak.Di ruang makan, ada Bu Kedasih, Pak Adi dan Arka sudah duduk mengelilingi meja. Airin ikut duduk di sana, disusul Tama yang duduk di sebelahnya.“Nek, aku senang sekali. Besok-besok kita ke playground lagi ya, kayak kemarin.”Suara Arka dengan riangnya bercerita mengenai kejadian
Last Updated : 2026-08-18 Read more