Rani langsung terpaku di tempat. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya dia dipukul ibunya, terlebih lagi, langsung ditampar di wajah. Dari kuatnya hantaman tangan ibunya, jelas sekali jika Kamila tidak menahan diri. Rasa sakit di pipinya masih bisa ditahan Rani, tetapi luka di dalam hatinya adalah sesuatu yang tidak sanggup diterima Rani."Bu, Ibu menamparku?"Melihat tatapan polos putrinya, Kamila juga merasa jika pukulannya tadi memang agak terlalu keras. Namun, sorot mata Kamila tetap tajam. Dia menatap Rani lekat-lekat sambil mencoba mengelus pipi Rani. Melihat Rani sengaja menghindar, Kamila pun berkata, "Ibu kan sudah bilang sebelumnya, kalau ayahmu nggak pulang, kalian juga nggak boleh pulang! Yang Ibu mau, kalian bawa ayah kalian pulang ke rumah. Dia memang lagi ribut sama Ibu, tapi dia nggak akan mungkin menyulitkan anak-anaknya. Tapi kamu, malah pulang sendirian. Lalu yang kedua, kamu itu anak kandung Ibu. Memangnya ada orang lain yang lebih tahu siapa ayahmu dibanding Ibu sen
Read more