Getaran ponsel di atas meja makan apartemen meredakan ketegangan sesaat, namun tidak dengan badai batin yang sedang berkecamuk di dada Malikha. Pesan darurat dari Hendra mengenai pergerakan faksi lawan di kantor membuat Reyhan harus menunda argumennya. Namun, begitu jam dinding menunjukkan pukul delapan malam dan mereka telah kembali ke dalam ruang tengah apartemen, Malikha tidak ingin membiarkan masalah pagi tadi menguap begitu saja tanpa kejelasan.Reyhan baru saja meletakkan berkas kerjanya ketika Malikha berjalan mendekat, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di sofa tunggal, sengaja memberi jarak yang tegas, sementara Reyhan berada di sofa panjang."Mas Reyhan, kita perlu melanjutkan pembicaraan subuh tadi," buka Malikha dengan suara tenang namun menuntut perhatian penuh.Reyhan memijat pangkal hidungnya, tampak lelah. "Malikha, semua yang kulakukan tadi pagi, termasuk rencana mengumumkan pernikahan kita secara bertahap, murni demi kebaikanmu. Aku tida
Terakhir Diperbarui : 2026-06-11 Baca selengkapnya