"Hei, Rayyan!!"Chintya menghampiri Rayyan yang baru saja datang ke aula.Di belakangnya, Aurel mengekor pelan dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Bagaimana hasilnya?" tanya Chintya. Rayyan mengedikkan bahunya. "Aku belum tahu, Chintya.""Eh, apa maksudnya itu?" "Yah, seperti kataku tadi. Hasilnya baru akan diumumkan sebentar lagi. Katanya sih bakal ada perayaan disini." "Oh, kau serius?" Rayyan mengangguk.Chintya mengerutkan kening. "Hmm, perayaan?"Ia menolehkan kepala ke kanan dan kiri, menyusuri keseluruhan aula. "Memangnya perayaan macam apa yang akan diadakan hanya dengan sedikit orang disini?" tanyanya. Rayyan tertegun. Chintya benar. Di aula yang luas itu, hanya terdapat kurang dari dua puluh orang yang hadir jika tidak menghitung panitia. Para peserta yang sebelumnya diusir oleh Tuan Herman masih berada disana. Masing-masing ditemani dengan pendamping entah itu orang tua atau kekasih.Walau begitu jumlahnya terlalu sedikit untuk perayaan, bukan?"Ini sudah
Read more