"Hah?!" Rayyan tersentak. "A-apa maksudnya itu?"Melihat muka merah Rayyan, Chintya menyeringai lebar. "Hehe, gampang sekali menggodamu, Rayyan." ucapnya. Gadis itu menoleh ke samping lalu mengedipkan matanya dua kali sebagai pertanda. Albert, Bu Sri, dan beberapa pelayan yang masih di ruang makan segera menangkap tanda itu. Satu demi satu perlahan mulai meninggalkan ruangan itu. Sekarang hanya tersisa Chintya dan Rayyan yang masih memikirkan ucapan gadis di hadapannya. "Aku tadi dengar kamu mau membeli keperluan harianmu, kan?"Rayyan mengangguk. "Iya,""Nah, memangnya kamu sering belanja hal begituan?"Rayyan membeku sejenak lalu akhirnya menggeleng. Seketika raut muka Chintya menjadi cerah. Matanya berbinar-binar seolah berkata bahwa ini adalah kesempatannya. Setelah itu Chintya menunjuk dirinya sendiri dengan percaya diri. "Oleh karena itu, aku akan menemanimu untuk berbelanja sekaligus membantumu memilih barang-barang yang bagus dan berkualitas.""Memangnya kamu sering b
Last Updated : 2026-06-08 Read more