เข้าสู่ระบบ"K-kakak!"
"N-nona Yuni!"Rayyan dan Chintya buru-buru merapikan pakaian mereka.Saking paniknya, celana dalam Rayyan jatuh beberapa kali, membuat pria itu jengkel sendiri.Setelah itu keduanya berdiri berdempetan di kamar mandi yang sempit dan menghadap pada Yuni.Rayyan dan Chintya menundukkan kepala.Kepanikan menguasai pikiran mereka.Bagaimana ini?Apa yang harus dilakukan?Penjelasan macam apa yang mRayyan berdiri mematung di depan roller coaster yang sedang melaju di rel. Kereta di wahana itu menanjak naik ke puncak, lalu meluncur deras ke bawah. Hembusan angin dan teriakan para penumpangnya bercampur."Waahh!!!""Tolongg!!!"Beberapa penumpang tampak memegang perut dengan muka pucat. Sepertinya wahana itu memang tidak cocok untuk semua kalangan. Rayyan sendiri terdiam saja dengan wajah kusam."Kenapa aku harus kesini?" "Kenapa pula aku harus menuruti Yuni.." gerutunya. Ia menghela nafas panjang. "Sialan.""Jika kau punya keluhan, sampaikan langsung di depanku, Rayyan." tegur Yuni. Wanita itu datang sambil membawa es krim warna-warni di kedua tangannya. Pakaiannya cerah dan terlihat cocok untuk bermain-main. Vanya mengekor di belakang kakaknya. Gadis itu datang dengan memakai kemeja longgar, rok panjang, dan kacamata yang membuat penampilannya semakin terlihat seperti seorang kutu buku.Orang-orang yang melihat mereka mungkin akan mengira ketiganya sedang tidak bersemang
Rayyan dan Hanya bangkit lalu perlahan berjalan masuk ke lorong antar rak buku di pojok ruangan. Itu adalah satu-satunya tempat dimana pandangan seseorang pasti kesusahan untuk menjangkaunya. Dan disanalah mereka akan berpose."Uh.. Ini, seriusan, Rayyan?" tanya Vanya gugup.Rayyan menelan ludah. "Kalau tidak begini pasti kita nanti dimarahi Yuni." "I-iya, sih. Tapi ini..."Vanya menoleh ke sekeliling, memastikan tempat mereka saat ini benar-benar terisolasi dari mata siapapun. Namun, meskipun ia tahu posisinya sudah aman, rasa khawatir tetap saja masih menghantuinya.Kalau ada satu orang saja yang tidak sengaja menuju ke lorong rak itu dan melihat mereka berdua... Vanya tidak yakin bisa tidur dengan nyaman. "Uhh... Harusnya aku tetap tidur di kasur saja." gerutunya pelan. Rayyan di sampingnya juga berpikiran sama. "Ehem."Deheman yang tiba-tiba itu membuat Ra
Rayyan duduk termenung di tepi kasur milik Yuni. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja ia alami. Fakta bahwa Yuni adalah seorang pembuat komik 18+ dan sedang berencana untuk membuat dirinya sebagai salah satu karakter komik cukup mengganggunya."Haaah... "Rayyan menghela nafas panjang. "Pembuat komik dewasa.. Apa semua orang mengetahui hal itu?"Rayyan tidak bisa membayangkan kalau anggota keluarga Sanjaya yang lain mengetahui tentang fakta itu. Yang lebih aneh adalah jika Kakek Arman mengetahuinya. Dia tahu cucunya seseorang yang cabul tapi dia terima begitu saja? Uh.. Membayangkan itu membuat Rayyan bergidik sendiri. Cklek.Pintu kamar dibuka. Yuni datang dengan membawa Vanya di belakangnya. Begitu melihat Rayyan, Vanya langsung tersipu malu. "A-ah.. Apa yang kamu lakukan disini, Rayyan?" "Uh, yah..." Rayyan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia menoleh ke arah Yuni, memberinya isyarat untuk menjelaskan semua hal yang sudah terjadi.Yuni membalas lirikan
Yuni berjalan di menuju kamarnya dengan cepat. Di belakang, Rayyan mengikuti dengan pikiran yang kembali dilanda kekhawatiran dan ketakutan. "Apa yang akan dia lakukan padaku?"Keduanya menaiki tangga menuju lantai dua, berjalan di lorong panjang hingga sampai di kamar milik Yuni. Pintu kamarnya berwarna ungu —warna yang berbeda dengan kebanyakan ruangan yang berwarna dasar kuning. Yuni membuka pintu lalu masuk. Kali ini Rayyan tidak mengekor, ia takut kalau menimbulkan kesalahpahaman dengan ikut masuk.Namun ucapan Yuni membuatnya terkejut. "Ayo masuk,""Eh?"Rayyan mengernyitkan dahi. Yuni memiringkan kepala. "Apa yang kamu lakukan? Ayo masuk sini." "Ah, anu.. Tapi bukannya nanti bakal menim—""Masuk atau rahasiamu bocor." potong Yuni cepat. "Uh, baik, baik." Rayyan segera ikut masuk ke dalam.Yuni menutup pintu. Di dalam, Rayyan terus menundukkan kepala. Ia khawatir kalau melihat apapun di kamar Yuni akan membuat wanita itu marah padanya. Sementara itu, Yuni dengan san
"K-kakak!""N-nona Yuni!"Rayyan dan Chintya buru-buru merapikan pakaian mereka. Saking paniknya, celana dalam Rayyan jatuh beberapa kali, membuat pria itu jengkel sendiri. Setelah itu keduanya berdiri berdempetan di kamar mandi yang sempit dan menghadap pada Yuni. Rayyan dan Chintya menundukkan kepala. Kepanikan menguasai pikiran mereka. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan? Penjelasan macam apa yang masuk akal? Rayyan bahkan sempat menyesali keputusannya untuk melakukan di kamar mandi perempuan. Saat itu nafsu sudah mengambil alih pikirannya, membuat akal sehatnya tumpul. Harusnya sejak awal dia tidak terpancing oleh nafsunya. Sementata itu Yuni hanya menatap keduanya dalam diam. Raut mukanya datar, tatapannya biasa saja seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.Chintya mengangkat kepala. "Um.. Kak..?" ucapnya ragu.
Rayyan memang sempat memprediksi reaksi Yuni saat ia memperkenalkan diri sebagai terapis keluarga Sanjaya. Yah, kurang lebih sama seperti saat ia pertama kali bertemu Aurel dulu.Yuni kaget sejenak sebelum kemudian berubah menjadi prasangka buruk. Meski selama ini berada di luar negeri, tidak mungkin ia tidak mendapat kabar sama sekali soal insiden terapis cabul sebelumnya. Untungnya wanita itu berbeda dengan Aurel. Sedikit saja penjelasan dari Rayyan dan Kakek Arman mampu membuatnya tenang. Tidak seperti Aurel yang masih saja tantrum saat melihatnya dulu. "Sekali lagi maafkan aku, Rayyan." ucap Yuni sambil menundukkan kepala. "Ah, tidak apa-apa, nona Yuni. Saya bisa memaklumi tuduhan anda." balas Rayyan. "Syukurlah kalau begitu." Saat ini keluarga Sanjaya sedang berangkat menuju restoran rekomendasi Aurel. Katanya ia sering kesana bersama dengan teman-temannya. Mobil hitam yang mereka tumpangi meluncur di jalan raya yang sibuk. Sesekali suara klakson berbunyi. Tak lama kemu
Mendengar namanya disebut, sosok perempuan itu berbalik. Lampu jalan yang samar-samar menampakkan wajahnya yang familiar. Rayyan menyipitkan mata, hampir saja ia mengalihkan pandangan karena tidak sudi melihat Desi. "Eh, Rayyan..." gumam Desi canggung. Gadis itu spontan menundukkan kepala. Matan
"Iyaaaa!!! Aku dan Rayyan ada disini! Kamu jangan masuk, yaa!!" Bukannya merasa takut atau khawatir, Chintya justru berteriak kencang untuk menjawab panggilan pelayan. "Eh, C-Chintya!" tegur Rayyan gugup. Ia melirik ke arah pintu, takut pelayan masuk. Akan tetapi hal itu tidak terjadi. Alih-alih
Sepanjang perjalanan, Rayyan hanya bisa terdiam. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, tetapi tidak satu pun ia ucapkan.Lebih tepatnya, ia merasa mengajukan pertanyaan pun tidak ada gunanya. Kakek tua itu selalu menjawabnya bahkan sebelum pertanyaan sempat keluar dari mulutnya."Sebenarnya apa
"Ahh.. Ahhh.. Yeaaahh.." Desahan seorang perempuan merembes keluar dari balik pintu hotel.Langkah Rayyan spontan berhenti. Tangannya yang hendak membuka pintu kamar hotel membeku di udara. Ia tercekat. "Suara itu kan... " Adegan panas sudah mulai terbayang di kepala Rayyan. Ia menggeram, tangann







