Suasana di kedai kayu kakek Hans mendadak membeku total. Gavin yang berdiri tegak dengan mata tajam yang terkunci sepenuhnya pada punggung gadis bercadar itu. "Tunggu, Nona—" panggil Gavin tiba-tiba. "— bisakah kau sebutkan namamu dulu sebelum masuk?" selidiknya. Rosalynd menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Di balik cadar hijaunya, ia menarik napas panjang seraya memejamkan netranya erat. Jantungnya berdegup kencang hingga dadanya terasa sesak. 'Kendalikan dirimu, Rosalynd. Jangan tunjukkan kelemahan mu,' batinnya menguatkan dirinya sendiri. Rosalynd kembali memutar tubuhnya menghadap Gavin. Ia menundukkan kepala sedikit dengan sopan, namun membalas pandangan Gavin dengan kaku. "Nama saya Rosa, Tuan. Saya hanyalah—" belum sempat Rosalynd menjelaskan siapa dirinya. Kakek Hans langsung memotong perkataan Rosalynd. "Dia adalah Rosa, cucu angkat saya. Fisiknya memang agak lemah dan ia sedikit pemalu jika bertemu dengan orang asing. Jadi kalau boleh, biarkan cu
Baca selengkapnya