"Dukun anu apa? Apa itu dukun anu?" "Dukun anu, ya anu, lagian jaman sekarang masih aja percaya sama dukun. Punya mata, punya tangan, punya kaki, kita bisa selidiki sendiri. Nggak perlu pake dukun!" oceh Bejo tetapi kali ini tidak bisa menenangkan hati Mila. Agaknya apa yang Bejo sampaikan tidak membuat Mila tergerak untuk diam dan menerima. Bejo tidak lagi mendengar suara wanita itu. Di seberang sana Mila terdiam. Bejo menunggu Mila kembali berceloteh seraya melirik pada kedua sahabatnya yang memandang penuh tanya. "Kepo Lo berdua!" umpat Bejo kemudian beranjak dari hadapan mereka. "Woy! Belum kelar ngupingnya gue. Lo lagi bahas dukun? Gue ada kenalan dukun. Mau yang ilmu tinggi, dukun anu, ada juga dukun santet. Mau yang mana?" "Berisik Lo, Do! Gue lempar mulut Lo pake sepatu," sahut Bejo menutupi bagian bawah ponselnya agar Mila tidak mendengar. Bukan apa, Bejo tidak cocok kalau Mila pergi ke dukun. Dia lebih cenderung ingin usaha yang jelas. Bukan dari hal megic y
Read more