LOGIN"Maunya Nyonya saya jawab apa?" tanya Bejo dengan seringai tipis di wajahnya yang membuat Mila melengos melihat itu. Mila mulai melahap ramen yang masih mengeluarkan kepulan asap. Mila begitu sangat menikmati tetapi tak lama kemudian tubuh wanita itu menegang saat Bejo meraih tangan Mila yang tengah memegang sendok hingga mulut Mila terbuka kala melihatnya. "Makannya nggak usah terlalu buru-buru, Nyonya. Kuahnya mengotori bibir Nyonya." Cup Bejo menyerusup bibir Mila. Dia memagut bibir itu yang terdapat kuah ramen, menyapu membersihkan hingga Mila mengangkat kepala dengan bibir yang masih terbuka. Mila pasrah kemudian membalas kecupannya tetapi tidak lama Bejo melepaskan sapuan lidahnya di bibir Mila. Terlihat jelas, Mila seperti kehilangan dan segera menelan salivanya. Bejo mengusap bibir Mila dan meminta wanita itu untuk melanjutkan makannya. "Makan lagi, Nyonya! Kalau dingin nggak enak." Bejo tersenyum tipis melihat ekspresi Mila. Pipi wanita itu semakin merona d
"Buat...." Mila menggigit bibir bawahnya kemudian melirik ponsel yang ada di atas meja. Dering ponsel itu membuat Bejo pun menoleh dan bergerak meraihnya. "Siapa, Jo?" "Suami Nyonya." "Oh Mas Saka. Bawa sini, Jo!" perintah Mila dan Bejo kembali duduk seraya memberikan ponsel pada majikannya. "Semangat amat dapet telepon dari suami," sindir Bejo dan Mila hanya berdecak kemudian menggelengkan kepala. "Hallo, Mas." "Sudah makan siang? Katanya mau ke sini. Padahal aku sedang senggang." "Tadi kamu menolak aku datang, sekarang kamu menagih inginku. Ucapanmu nggak bisa dipegang, Mas!" Mila menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan-pelan. Bejo pun menoleh memerhatikan mimik wajah Mila yang terlihat jengah. Dia tidak bicara, tetapi bergerak menempelkan telinga ke ponsel yang ada di telinga Mila. "Aku tidak menolak, tapi aku mengatakan kalau kamu harus buat janji dulu padaku." "Kapan-kapan saja!" celetuk Mila. "Kamu merajuk terus, Sayang. Sudah ada Bejo kan di
Mila mengecek perlengkapan di gudang. Semua yang sekiranya habis dan stok-stok yang menipis segera dia catat. Belum lagi semua keluhan dan juga saran di tampung dengan telinga, pikiran dan tangan terbuka. Namun berulang kali Mila memijit pelipisnya karena pekerjaan tersebut harus berperang dengan masalah pribadi. Badan di sana tetapi pikiran ke mana-mana. Mila tidak bisa fokus hanya dengan satu pikiran saja. "Ini repeat ordernya, Nyonya!" "Sudah menjangkau semua?" tanya Mila setelah menerima berkas dari pekerjanya. "Sudah, Nyonya. Itu sudah mencangkup area depan dan juga kamar mandi. Kalau untuk bagian cafenya itu masih proses katanya, Nyonya." "Oke kalau begitu saya tunggu di ruangan ya. Batasnya sampai jam satu. Kalau untuk bahan basah harian bisa langsung diorder saja!" kata Mila. "Baik, Nyonya." "Kerjanya yang semangat ya! Jangan sampai kasih kendor. Kalau penjualan mencapai target atau syukur-syukur bisa melebihi, akan saya berikan bonus untun kalian." "Sia
"Mau gue ajak ke dukun santet. Punya laki kayak begitu nggak cukup dikeruk habis hartanya tapi juga dibikin sakit, minimal dibuat nggak bisa berdiri tuh burungnya biar nggak ngawinin perempuan terus." "Nggak usah ngajak Nyonya kemana-mana! Lo mau gue maki? Udah paling bener diam begini aja. Jauh-jauh sama yang berbau mistis, berbau perdukunan. Gue nggak demen begituan. Awas Lo ya kalau sampai bawa Nyonya kesana! Gue tarik kaki Lo keliling Jakarta," ancam Bejo yang tidak sama sekali ditanggapi oleh Edo. Pria itu malah diam dengan kedua mata yang terlihat sibuk sekali memikirkan sesuatu. Dua jari menyangga dagu dan telunjuk mengusap pipi seperti orang yang sedang mengatur strategi. "Do!" "Hhmm...." "Mikir apa Lo?" tanya Bejo geregetan. "Gue lagi ngeracik racun. Kalau emang nggak boleh pake dukun. Langsung aja di racun tapi jangan yang langsun bikin mati. Paling nggak siksa dulu sampe dia ngerasa hidupnya udah nggak berguna lagi," kata Edo dan Bejo menganggukkan kepala.
"Dimana, Nyonya?" "Toko cabang." "Oke." Bejo segera melangkah menuju parkiran tetapi dia lupa kalau di sana tidak ada mobil ataupun motornya. Kembali Bejo mendekati Edo dan Didi yang hendak mampir ke kantin. "Do!" panggilnya. "Lah Lo ngapa balik lagi?" tanya Edo dan Didi pun menoleh memperhatikan. "Iya Lo ngapa balik lagi? Ada masalah?" tanya Didi menambahi. "Nggak ada, cuma mau minta Edo buat anterin gue ke bengkel tadi. Abis itu balik sini lagi nggak masalah," jawab Bejo seraya merangkul pundak Edo dan menatik sahabatnya dari sana. "Ya elaaaahhhh... Gue kira ada apaan. Gue nganter dulu, Di. Lo pesenin gue bakso tapi kuahnya belakangan aja! Kalau gue udah sampe baru suruh kuahin," perintah Edo pada Didi. "Ribet Lo! Nanti aja pesennya kalau Lo udah balik. Pake ngatur jadwal nguahin segala. Ogah gue banyak ngomong. Udah sana anterin dulu! Gue tunggu di kantin." "Okelah!" kata Edo kemudian mengantarnya menuju bengkel. Namun selama perjalanan, pria itu se
Bejo menyipitkan kedua mata menatap penuh selidik pada Keysa. Wanita itu menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Sialnya Keysa memilih bungkam. "Saya tidak bisa mengatakan itu padamu, Jo!" kata Keysa yang kemudian merapatkan bibirnya. Bejo menghela nafas berat mendengar apa yang beliau sampaikan. Setelah membuatnya penasaran, sekarang malah memilih diam. Dia hawanya ingin memaksa wanita itu untuk bicara. "Anda berpendidikan Bu. Jika ada kesalahan yang anda tutupi, apalagi itu menyangkut hukum seharusnya Anda tidak diam saja. Anda pasti paham pasalnya. Tidak mungkin anda tidak tau resiko menyembunyikan itu semua." "Menutupinya karena saya terpaksa Jo. Semua terjadi karena saya memang sangat mencintai Mas Saka waktu itu. Kamu pikir saya tidak takut? Kamu pikir saya tidak frustasi? Saya sempat menyesali pernikahan itu tetapi lagi-lagi saya cinta dan ancamannya kala itu sangat menghancurkan Saya." Keysa tersenyum getir dan kembali bicara. Namun kali ini Keysa terlihat le
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







