Mag-log inSetelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn
Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit
Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da
Count Vernois terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas. Wajahnya yang sejak tadi keras perlahan berubah serius, seolah apa yang hendak dikatakannya bukan sesuatu yang mudah untuk dibicarakan.“Aku tidak tahu pasti bagaimana Vincent akan menyingkirkan Duke Elgard.”Yuniver langsung terdiam. Jawaban itu sama sekali tidak membuatnya lega. Justru sebaliknya, ada sesuatu dalam nada suara ayahnya yang membuat perasaannya semakin tidak tenang.“Namun satu hal yang harus kau ketahui, Yuniver. Caranya tidak akan sesederhana yang kau bayangkan.” Count Vernois melanjutkan.Yuniver menundukkan pandangan. Jemarinya perlahan saling menggenggam di atas pangkuannya. Ia sudah menduga Vincent tidak akan melakukan sesuatu secara terbuka. Jika benar pria itu berniat menjatuhkan Ditrian, tentu ia akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menghubungkan dirinya dengan kejadian tersebut.“Sejak dulu Vincent memang memiliki ambisi,” ujar Count Vernois. “Dan seharusnya kau tahu itu lebih baik d
Yuniver membeku. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Count Vernois tanpa mampu memberikan jawaban. Kalimat ayahnya terus berputar di kepalanya, mengingatkannya pada dirinya yang dulu—wanita yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Vincent.Dulu, mungkin jawabannya memang iya.Yuniver yang asli akan melakukan apa pun untuk Vincent. Ia bahkan rela menutup mata terhadap banyak hal hanya karena pria itu meminta sesuatu darinya. Pernikahannya dengan Ditrian pun tidak pernah benar-benar ia anggap sebagai sebuah pernikahan. Baginya, gelar Duchess Elgard hanyalah sebuah jalan untuk tetap berada di dekat Vincent dan membantunya mendapatkan apa yang diinginkannya.Namun semua itu berubah.Perlahan, Yuniver menarik napas panjang. Ia menundukkan wajah sejenak sebelum kembali menatap ayahnya.“Aku dulu memang seperti itu.”Count Vernois mengernyit. Ia mungkin mengira Yuniver akhirnya mengakui kesalahannya.Namun Yuniver melanjutkan dengan suara yang jauh lebih tenang.“Tapi sekara
Count Vernois terdiam cukup lama. Tatapannya berpindah kepada para pengawal yang berdiri di luar ruang kerja, kemudian kembali kepada Yuniver. Jelas sekali ia tidak mungkin membicarakan sesuatu yang sensitif selama masih ada orang lain yang bisa mendengarnya.Yuniver sendiri tidak bergeming. Ia berdiri di hadapan meja kerja ayahnya dengan wajah tenang, meskipun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.“Aku tidak datang untuk mencari masalah, Ayah,” katanya akhirnya. “Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Count Vernois menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Dan kalau aku tidak ingin memberitahumu?”Yuniver menatapnya beberapa saat.“Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku melaporkannya kepada Ditrian.”Wajah Count Vernois langsung berubah.Yuniver melanjutkan sebelum ayahnya sempat menyela.“Ayah pikir sampai kapan Ayah bisa terus menyembunyikan semuanya?”Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini tidak ada keraguan di dalamnya.“Sekarang aku sudah menjadi Duchess El
Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam







