Hujan belum juga berhenti sejak malam sebelumnya. Kabut tipis menyelimuti halaman mansion Lancaster, membuat seluruh taman terlihat samar di balik jendela-jendela tinggi. Cahaya lampu taman memantul di genangan air, menciptakan suasana yang tenang, namun menyimpan kegelisahan yang tak terlihat. Di ruang kerjanya, Devano duduk di depan layar komputer. Laporan keuangan, proposal investasi, hingga dokumen akuisisi terbuka di hadapannya. Tak satu pun benar-benar dibacanya, pikirannya kembali kepada Miya. Sejak perempuan itu hadir di mansion, ritme hidupnya berubah sedikit demi sedikit. Ia masih bangun di jam yang sama, masih memimpin rapat dengan ketegasan yang sama, masih mengambil keputusan tanpa ragu. Namun ada satu kebiasaan yang tak lagi bisa ia sangkal, Ia selalu mencari Miya. Dan ketika tidak melihat perempuan itu, muncul kekosongan yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Devano menutup laptopnya, Ia menyerah. Di sisi lain mansion, Miya berdiri di balkon kamarnya. Telepon teren
Read more