Kabut turun lebih cepat malam itu. Pelabuhan tua di sisi timur London tampak lengang, hanya ditemani derit crane berkarat yang sesekali bergoyang diterpa angin laut. Gudang-gudang tua berdiri seperti bangkai raksasa yang ditinggalkan waktu, menyimpan kisah penyelundupan, pengkhianatan, dan kematian yang tak pernah tercatat. Di dalam mansion Lancaster, suasana jauh berbeda. Devano baru saja menyelesaikan rapat daring dengan dewan direksi cabang New York. Begitu laptopnya ditutup, ia melirik jam dinding. Pukul sembilan malam, matanya tanpa sadar mengarah ke pintu ruang kerja. Biasanya pada jam seperti ini, Miya akan datang membawakannya secangkir kopi hangat atau sekadar duduk diam membaca buku di sofa dekat jendela. Mereka tak selalu berbicara, tetapi kehadiran perempuan itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang tanpa sadar ia nantikan. Namun malam ini, ruangan tetap sunyi. Devano mengernyit, perasaan tak nyaman yang sejak beberapa hari terakhir terus menghantuinya kembali munc
Read more