登入Di mata dunia, pertunangan Devano Lancaster dan Mirabelle Sinclair adalah simbol sempurna dua keluarga elite Eropa. Namun di balik itu, tersimpan dosa masa lalu yang menghancurkan hidup seorang anak kecil. Miya, kini wanita berusia 27 tahun yang dikenal dingin di dunia bawah, kembali dengan satu tujuan: membalas dendam pada keluarga Sinclair yang menghancurkan keluarganya. Target utamanya adalah Devano Lancaster, pewaris sekaligus tunangan Mirabelle. Awalnya Miya hanya menjadikannya alat untuk mendekati pusat kehancuran keluarga Sinclair. Namun rencana yang dingin berubah ketika perasaan mulai muncul di tengah permainan berbahaya itu. Antara dendam yang membesarkannya dan cinta yang tak pernah ia rencanakan, Miya harus memilih: menghancurkan semuanya atau kehilangan dirinya sendiri dalam perasaan yang justru lahir dari musuhnya.
查看更多Hujan turun tipis di atas kota London malam itu. Butiran air membasahi kaca-kaca tinggi gedung pencakar langit yang berdiri angkuh di jantung distrik finansial. Lampu-lampu kota berpendar seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi, memantulkan kemewahan dunia para elite yang tak tersentuh.
Di puncak salah satu gedung termegah itu, pesta pertunangan keluarga paling berpengaruh di Eropa tengah berlangsung. Keluarga Lancaster. Nama besar yang cukup membuat para pebisnis dunia menahan napas. Malam ini, pewaris tunggal mereka, Devano Lancaster, resmi memperkenalkan tunangannya kepada publik. Mirabelle Sinclair. Putri keluarga aristokrat Sinclair yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol kejayaan, kehormatan, dan garis darah bangsawan yang nyaris tanpa cela. Setidaknya, itulah yang dipercaya dunia. Tak seorang pun tahu bahwa di balik nama besar Sinclair, tersimpan sejarah kelam yang dibangun di atas air mata perempuan lain. Tak seorang pun tahu bahwa dua puluh empat tahun lalu, seorang pria bernama Alfredo menghancurkan keluarganya sendiri demi memanjat tangga kekuasaan. Dan malam ini, masa lalu itu datang menagih hutang. Di seberang gedung Lancaster, seorang perempuan berdiri di balkon suite tertinggi sebuah hotel mewah. Gaun hitamnya sederhana, tanpa banyak hiasan, namun justru memancarkan aura dingin yang sulit dijelaskan. Rambut hitam panjangnya digerai, bergelombang halus tertiup angin malam. Di tangannya, segelas anggur merah berkilau seperti darah. Tatapannya lurus menembus kaca menuju ballroom megah di gedung seberang. Miya. Tak banyak orang mengenal nama perempuan itu. Di dunia bawah, mereka mengenalnya dengan julukan yang membuat banyak orang menelan ludah—The Black Widow. Perempuan dingin yang tak pernah gagal menuntaskan misinya, tak ada yang tahu wajah aslinya. Tak ada yang pernah bisa menebak langkahnya. Dan malam ini, ia datang bukan sebagai pemburu bayaran. Ia datang sebagai putri yang menagih balas. Miya menyesap anggurnya perlahan. Di layar tablet di hadapannya terpampang foto keluarga Sinclair. Sophia Sinclair tersenyum anggun di samping Alfredo Moretti. Di antara mereka berdiri Mirabelle, putri tunggal kebanggaan keluarga itu. Jari Miya menyentuh wajah Alfredo di layar, tatapannya membeku. “Dua puluh empat tahun, Ayah.“ Suaranya lirih. “Cukup lama untuk membuat seseorang belajar bagaimana menghancurkanmu tanpa meninggalkan jejak.” Kilasan masa lalu menyambar benaknya. Seorang perempuan muda menangis di lantai rumah sederhana. Rambutnya berantakan, tatapan matanya kosong. Tangannya memeluk seorang anak kecil berusia tiga tahun yang menangis ketakutan. Di luar rumah, seorang pria pergi tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan mereka, selamanya. Ibunya hancur malam itu. Dan beberapa bulan kemudian, kewarasannya ikut runtuh. Miya kecil belajar satu hal dari tragedi itu, dunia tidak pernah adil. Jika kau ingin keadilan, kau harus merebutnya sendiri. Pintu suite terbuka, seorang pria bertubuh tegap masuk dengan langkah tenang. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, mengenakan setelan abu gelap sempurna. Namanya Arsen, satu-satunya orang yang mengetahui identitas asli Miya. “Mobil sudah siap.” Miya tak menoleh. “Semua sesuai rencana?” “Ya.” Arsen meletakkan map hitam di atas meja. “Devano Lancaster akan meninggalkan pesta tepat pukul sebelas malam untuk menghadiri rapat darurat di kantor pusat.” Baru lah, Miya menoleh. Matanya yang gelap memancarkan ketajaman mematikan. “Mirabelle?” “Masih sibuk menjadi pusat perhatian.” Bibir Miya melengkung tipis, malam ini adalah langkah pertama. Ia tidak akan langsung menyerang keluarga Sinclair, Ia akan mengambil sesuatu yang paling berharga bagi mereka. Devano Lancaster, tunangan sempurna kebanggaan Mirabelle. Aliansi bisnis terbesar yang sedang dibangun keluarga Sinclair. Jika Devano jatuh ke tangannya… maka fondasi keluarga itu akan mulai retak. Dan Miya akan menikmati setiap detiknya. Ballroom Lancaster dipenuhi kilatan kamera, Mirabelle Sinclair tersenyum anggun dalam balutan gaun putih berlian. Ia berdiri di sisi Devano, memeluk lengan pria itu dengan posesif. “Kita pasangan paling sempurna malam ini,” bisiknya. Devano hanya mengangguk datar, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan sorot mata kelabu dingin. Ia adalah tipe pria yang kehadirannya otomatis menarik perhatian, tetapi tatapannya selalu sulit dibaca. Tak ada kehangatan di sana. Mirabelle menatap pria itu. “Kenapa kau terlihat tidak menikmati malam ini?” “Aku tidak menyukai keramaian.” Jawaban singkat. Dingin. Seperti biasa. Mirabelle menahan rasa kesalnya. Selama dua tahun pertunangan mereka, Devano tak pernah benar-benar menunjukkan ketertarikan. Namun ia tak peduli. Yang penting pria itu akan menjadi miliknya. Tak ada perempuan lain yang cukup pantas mendampingi pewaris Lancaster selain dirinya. Seorang asisten mendekat. “Tuan Devano, rapat darurat dimulai dalam tiga puluh menit.” Devano mengangguk, Ia melepaskan tangan Mirabelle dari lengannya. “Aku harus pergi.” “Sekarang?” “Ini penting.” Mirabelle menggigit bibir. Namun di depan banyak tamu, ia tak bisa memaksa. “Baiklah, tapi jangan lama-lama.” Devano berlalu tanpa menoleh. Tak jauh dari sana, Sophia Sinclair memperhatikan dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang mengusiknya malam ini. Perasaan tak nyaman yang tak bisa ia jelaskan, seolah badai besar sedang mendekat. Mobil hitam Devano meluncur menembus jalanan basah. Di persimpangan sepi dekat jembatan tua, sebuah sosok tiba-tiba berlari menyeberang. “Sial!” Supir menginjak rem mendadak. Mobil berhenti beberapa senti dari tubuh seorang perempuan yang terjatuh di aspal. Devano mengernyit. “Apa yang terjadi?” “Seorang wanita, Tuan.” Devano membuka pintu dan turun, hujan membasahi bahunya. Di bawah cahaya lampu jalan, seorang perempuan terbaring dengan gaun hitam basah menempel di tubuh rampingnya. Rambut hitamnya menutupi sebagian wajah. Saat ia perlahan mengangkat kepala… Devano terpaku. Sepasang mata gelap menatapnya, mata yang terlihat rapuh dan lugu. Namun menyimpan sesuatu yang tak bisa ia definisikan. “Tolong…” Suara perempuan itu gemetar. “Seseorang mengejarku…” Devano menoleh ke sekitar, jalanan kosong. Ketika kembali menatap perempuan itu, ia mendapati wajah pucat dengan bibir bergetar menahan takut. Dan entah mengapa, naluri protektif yang jarang muncul dalam dirinya tiba-tiba terusik. “Bantu saya…” Perempuan itu nyaris pingsan. Tanpa berpikir panjang lagi, Devano membungkuk dan mengangkat tubuhnya ke dalam pelukan. Tubuh perempuan itu ringan, dingin. Dan beraroma samar melati. Di balik bulu matanya yang tertutup, bibir Miya melengkung nyaris tak terlihat. Langkah pertama berhasil, Ia membiarkan kepalanya bersandar lemah di dada Devano. Mendengarkan detak jantung pewaris Lancaster yang stabil. Sebentar lagi… Pria ini akan masuk ke dalam perang yang bahkan tak ia sadari sedang dimulai. Dan ketika semuanya berakhir, Devano Lancaster akan menjadi senjata paling mematikan untuk menghancurkan keluarga Sinclair. Sementara dari kejauhan, di balik kaca mobil yang terparkir dalam gelap, Arsen memandangi semuanya dengan rahang mengeras. Ia tahu rencana ini akan berhasil. Namun tetap saja, ada sesuatu di matanya saat menatap Miya. Kekhawatiran. Karena ia tahu, bermain terlalu dekat dengan pria seperti Devano Lancaster bisa berakhir jauh lebih berbahaya dari sekadar balas dendam.Hujan berhenti menjelang pagi, menyisakan langit London yang pucat dan jalanan yang masih mengilap oleh sisa air. Dari jendela kamarnya, Miya memandangi taman mansion Lancaster yang perlahan mulai dipenuhi aktivitas para pelayan. Semuanya berjalan teratur, nyaris tanpa suara. Rumah itu hidup dengan disiplin yang nyaris menyerupai markas militer.Ia menyesap kopi hitam yang baru dibuatnya sendiri. Sejak tinggal di mansion itu, Miya mulai memahami satu kebiasaan Devano Lancaster. Pria itu selalu bangun sebelum matahari benar-benar terbit, berolahraga selama empat puluh menit, lalu sarapan tepat pukul tujuh tanpa pernah terlambat satu menit pun.Devano hidup dengan rutinitas.Dan rutinitas adalah sesuatu yang bisa dimasuki... sedikit demi sedikit.Ponselnya bergetar.Arsen: Hari ini Lancaster Corporation mengadakan jamuan makan malam dengan beberapa investor Eropa. Mirabelle pasti hadir.Miya membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi. Beberapa detik kemudian muncul pesan berikutnya.Ars
Langit London diselimuti awan kelabu sejak pagi. Hujan yang semalam mengguyur kota kini hanya menyisakan embun tipis di dedaunan taman mansion Lancaster. Udara terasa dingin, namun suasana di dalam rumah jauh lebih dingin daripada cuaca di luar.Miya berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan gaun rajut berwarna krem yang sederhana, rambut hitamnya dibiarkan tergerai hingga melewati bahu. Penampilannya jauh berbeda dari sosok The Black Widow yang ditakuti dunia bawah. Tak ada riasan tajam, apalagi aura mematikan. Yang tampak hanyalah seorang perempuan muda yang masih berusaha memulihkan diri setelah mengalami kejadian traumatis.Ia menatap bayangannya sendiri cukup lama."Kalau ingin membuat seseorang jatuh cinta... jangan buat dia mengejarmu. Buat dia percaya bahwa dialah yang ingin melindungimu."Kalimat itu adalah salah satu pelajaran pertama yang diajarkan Arsen bertahun-tahun lalu.Manusia lebih mudah terikat pada seseorang yang mereka selamatkan.Ponselnya bergetar.Arsen:
Di ruang kerja Devano, lampu menyala sepanjang malam. Di dinding, beberapa monitor menampilkan rekaman berbeda dari seluruh sudut mansion. Semua tampak normal, tapi Devano tidak percaya pada “normal”. Tangannya menyilang di depan dada, matanya tajam. Ia memperbesar satu rekaman, di koridor lantai dua kosong, tidak ada gerakan. Namun sistem sempat memberikan peringatan dini beberapa jam lalu. Anomali kecil, 0.8 detik akses tidak teridentifikasi. Itu cukup... cukup untuk seseorang yang tahu apa yang sedang ia lakukan. Devano menghela napas pelan. “Aku membiarkan seseorang masuk.” Kalimat itu tidak terdengar seperti penyesalan, tapi lebih seperti konfirmasi. Ia tidak marah, ia justru… penasaran. Dan itu adalah sesuatu yang jarang terjadi. Devano berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, lampu taman masih menyala. Mansion itu tenang, tapi di dalam kepalanya, sesuatu tidak lagi tenang. Miya—perempuan itu terlalu sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Terlalu rapuh untuk seseorang yang m
Malam di London tidak benar-benar pernah tidur. Lampu-lampu kota masih berkelip seperti denyut nadi yang tidak stabil, menyimpan rahasia, ambisi, dan dosa yang tidak pernah selesai dibayar. Di dalam mansion Lancaster, semua tampak sempurna. Dan justru kesempurnaan itu yang membuatnya terasa seperti jebakan yang belum ditutup. Miya berdiri di depan jendela kamarnya, tangannya terlipat di belakang punggung. Dari lantai atas itu, ia bisa melihat taman luas yang tertata rapi, lampu-lampu kecil yang membentuk jalur cahaya, dan pagar tinggi yang mengelilingi seluruh area seperti sangkar emas. Namun Miya tidak merasa terkurung, ia justru merasa sedang masuk lebih dalam ke wilayah musuh. “Akses keamanan meningkat 12% dalam semalam,” gumamnya pelan. Tablet di tangannya menampilkan data yang ia kumpulkan secara diam-diam. Perubahan kecil tapi signifikan. Devano Lancaster bukan tipe pria yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan itu berarti satu hal, pria itu mulai curiga. Miya menut
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.