Jovita berbaring di atas ranjang periksa dengan perasaan campur aduk. Suasana ruang pemeriksaan terasa cukup menakutkan baginya, membuat tubuhnya kaku dan napasnya tertahan. Raymond yang berdiri setia di samping ranjang terus memegang erat jemari istrinya, menyalurkan rasa aman.Dokter Amira yang sangat berpengalaman membaca ketegangan pada raut wajah Jovita. Dengan cekatan dan lembut, sang dokter mulai menyiapkan alat untuk pemeriksaan USG transvaginal. Untuk memecah ketegangan, Dokter Amira membuka obrolan ringan dengan nada santai.“Tadi Pak Raymond bilang Bu Jovita baru saja selesai sidang skripsi, ya?” tanya Dokter Amira seraya mengoleskan gel khusus pada alat periksa.Jovita mengangguk pelan, berusaha mengontrol napasnya. “I-iya, Dok. Baru tadi siang.”“Wah, selamat ya!” Dokter Amira tersenyum hangat. “Ngomong-ngomong, ambil jurusan apa waktu kuliah?”“Arsitektur, Dok,” jawab Jovita, perlahan mulai merasa lebih tenang.“Wah, hebat sekali! Pasti pusing ya urusan maket dan hitunga
Leer más