Jovita duduk di depan meja rias, tangannya lincah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, sementara Raymond berdiri di belakangnya mengikat dan merapikan dasinya.Melalui pantulan cermin, Jovita menatap wajah suaminya yang terlihat begitu tampan, matang, dan gagah dalam balutan kemeja kerja.“Om, foto pernikahannya yang mau dipasang di kamar nanti setelah wisuda atau pas kita fitting kebaya sekalian?” tanya Jovita berbarengan suara hair dryer.Raymond melirik istrinya lewat cermin seraya merapikan kerah kemejanya. “Habis fitting kebaya saja. Om takutnya pas wisuda nanti perut kamu tahu-tahu udah gede aja.”Jovita menyengit geli, memutar badannya sedikit. “Masa tiba-tiba gede sih, Om? Ya kalaupun promil berhasil, pas wisuda nanti kan paling baru jalan dua atau tiga bulan. Belum kelihatan.”“Kalau kembarnya jadi, kan langsung gede,” sahut Raymond santai dengan cengiran tipis di bibirnya.“Satu-satu dulu aja kenapa sih, Om? Biar nggak repot ngurusnya nanti,” senggol Jovita bernada prot
Leer más