Lidah Raymond menjilat tanpa ampun, dua jarinya bergerak semakin dalam, menekan titik yang membuat paha Jovita bergetar hebat.Napas Jovita itu semakin pendek. Tangannya masih menekan kepala suaminya, kuku-kuku menancap di rambut Raymond.“Om… aku… ahh…”Tubuhnya menegang. Punggung melengkung, dinding dalamnya menyempit di sekitar jari Raymond, dan erangan panjang keluar saat klimaks pertama menyapunya. Cairan basah membasahi bibir dan dagu pria itu. Raymond tidak berhenti seketika. Ia terus menghisap pelan sampai getaran di tubuh istrinya mereda, baru kemudian mengangkat wajah.Bibirnya basah, mata gelap. Ia naik ke atas, siap menekan tubuh Jovita ke kasur, tapi tangan kecil istrinya menahan dadanya.“Biarkan aku…” bisik JovitaRaymond mengerutkan alis, tapi menurut. Ia berbalik terlentang di samping istrinya. Jovita duduk, masih terengah. Menatap sang suami yang lembur hampir setiap malam, ia tahu betul betapa lelahnya pria itu.Malam ini, Jovita tidak ingin hanya menerima. Dia ingi
Read more