“Mati saja sekalian!" Pintu besar kayu jati itu ditutup dengan bantingan keras oleh Bayu. Lampu-lampu kristal di dalam rumah masih berpijar terang, menerangi kehangatan palsu yang ditinggalkan di dalam. Sedangkan di dalam rumah, mereka sedang bahagia dengan kepergian wanita paruh baya itu. "Akhirnya dia pergi! Kalau nggak, dia bisa bawa sial buat anak kita, Sayang," ujar Rina sambil bergelayut manja di tangan Bayu. Bayu, Merry, dan Rina duduk di ruang tamu dengan wajah bahagia. Mereka berhasil menguasai rumah mewah tanpa harus bersusah payah. Bayu mengusap rambut istrinya, "Demi kamu dan anak kita, aku bakal beresein semua yang bikin kalian nggak nyaman. Kamu tinggal bilang aku, Sayang.” "Mama senang kamu bisa pertahanin rumah ini, Nak!" ujar Merry penuh kebanggaan. “Lagian, dia pikir dia siapa? Bayu aja cukup kok buat menuhin kebutuhan kita!” Merry tidak tahu kalau selama ini Anindira yang membiayai semua kebutuhan rumah. Mereka bertiga hanya sibuk dengan gaya hidup
اقرأ المزيد