Mag-log inPengorbanan Anindira Putri Adinata (42), seorang ibu yang berpikir bisa membentuk putranya dengan cara mencurahkan kasih sayang dan perhatian, hanya berbuah pengkhianatan yang mematahkan hati. Siapa sangka, itu menjadi hari kebangkitan seorang ratu yang terlalu lama memilih bersembunyi di balik kain lusuh. Mereka yang meremehkan, merendahkan, dan mengkhianatinya akan merasakan penyesalan yang tak bisa dibeli dengan uang. Anindira kembali dan pembalasan pun dimulai.
view more"Ya ampun, Bu! Lihat tuh lantainya jadi kotor semua!"
Langkah Anindira terhenti mendengar bentakan Rina, menantunya. Anindira menoleh ke belakang. Ia baru sadar ternyata sedikit lumpur dari sandalnya terbawa ke lantai dalam rumah. Dengan suara sedikit parau, Anindira berkata, “Maaf, Rin. Ibu baru dari pasar. Nanti Ibu pel sendiri sampai bersih.” Namun, sepertinya Rina tidak puas dengan ucapan sang mertua. Ia menahan langkah Anindira dengan omelannya. "Nanti, nanti!” tukas Rina kesal. “Ibu nyadar nggak ini sudah jam lima sore?! Teman-teman arisanku bentar lagi datang!” Belum sempat Anindira menjawab, Rina kembali mencecar. “Makan malam juga belum disiapin. Ibu tuh ngapain aja sih di luar?! Jualan batu kali rongsokan itu lagi?!" Rina meludah di samping sepatu butut Anindira yang compang-camping. Netra Anindira membulat kaget mendapat perlakuan itu. ‘Kalau bukan karena tujuan yang sudah kususun sejak lama, aku nggak sudi bertahan dengan kelakukan buruk mereka!’ raung Anindira dalam hati, berusaha menahan amarah. "Ibu mesti antar pesanan ke pasar loak dulu, Rin,” jelas Anindira. “Lagian, kata Bayu hari ini kalian mau pesan makanan dari luar." Anindira tidak pernah membentak atau ingin berdebat masalah kecil. Namun, bukan berarti ia tidak bisa tegas jika diperlukan. Tenaga dan pikiran Anindira sudah habis untuk hal yang lebih penting daripada hanya meladeni menantunya. "Pesan antar apa?!” Rina mengelak tajam. ”Bayu sedang pusing sama tagihan kartu kredit yang belum Ibu bayar. Sekarang Ibu pulang dan bikin rumah ini bau sampah." Mata Rina melirik ke sebuah lemari kaca dan melihat bayangan Bayu yang sedang mendengarkan perdebatan mereka. Begitupun, Rina berdusta, “Bayu lagi tidur di kamar!” Teriakan Rina menggema di ruang tengah rumah mewah itu. Terbiasa dibiarkan tanpa teguran oleh suaminya membuat sikap Rina kian melunjak dari hari ke hari. "Tolong deh, jangan bikin malu terus, Bu! Tanggung jawab urus rumah itu ya dikerjain yang bener! Jangan manja!" omel Rina lagi. Anindira menahan diri. Bertindak gegabah sekarang hanya akan menghancurkan rencananya. Semua yang selama ini ia perjuangkan akan sia-sia. "Iya, nanti Ibu kerjain semua,” ujar Anindira sambil mulai beranjak menjauh. “Tapi kamu kan bisa masak sendiri, Rin. Toh itu tugas kamu sebagai istrinya Bayu.” Langkah Anindira tertahan lagi ketika Rina kembali membuka suara. "Masak?!” seru Rina jengkel. ”Aku ini lagi hamil tua, Bu!! Kenapa malah disuruh masak?!" Seolah tidak puas mengoceh, Rina terus membuat luka baru di hati ibu mertuanya. "Kerjaan ibu jual batu di pasar loak nggak bisa aku banggain ke temen-temenku. Seenggaknya bantuin masak dan jadi mertua baik dong!” Tiba-tiba, perhatian mereka teralihkan oleh suara derap kaki sepatu hak tinggi yang tajam terdengar dari arah teras belakang. Ibunda Rina, Merry, berjalan masuk. Ia memegang sebuah kain microfiber dan kotak kecil berwarna emas. Senyum ramah memang terukir di wajah Merry, tetapi tatapannya pada Anindira menyiratkan pandangan merendahkan. Seolah besannya adalah kotoran di sepatu mahalnya. "Ada apa sih kalian ribut-ribut?" tegur Merry dengan nada yang sok tenang. Melihat ibunya datang, Rina langsung mendekat dan mulai merengek. Rina langsung mengeluh, "Ma, lihat tuh! Ibu pulang cuma bikin kotor rumah doang! Disuruh masak malah banyak alasan!" Merry mengelus bahu putrinya. "Sabar, Rin. Maklumin aja, orang kelas bawah biasanya emang nggak paham etika kerja.” Merry kemudian menunduk, pura-pura panik mengecek kotak emas di tangannya. "Loh, sebentar ... jam tangan Rolex punyaku mana, ya?!” pekik Merry. “Perasaan tadi aku taruh di atas nakas pas cuci tangan di dapur.” Ruangan itu tiba-tiba menjadi hening. Hawa dingin merambat di sela-sela pertikaian itu. "Jam tangan Mama yang baru beli seharga dua ratus juta itu?!" Mata Rina membulat. "Wah, Mama jangan bercanda! Siapa lagi yang masuk ke dapur selain kita?" Mata Merry dan Rina serempak tertuju pada Anindira yang masih berdiri mematung di sana. "Bu, jangan bilang …." Rina menggantung kalimatnya, menatap tajam ke arah Anindira. “Bilang apa?” tanya Anindira dengan dahi berkerut. “Kenapa kamu lihat saya begitu, Rina?” Rina tersenyum seolah ia memenangkan sesuatu. Lalu katanya, “Ibu kan juga sering bolak-balik ke dapur. Ibu bisa aja ambil jam Mama.” Anindira mendengus geli. Jelas sekali ini fitnah. Jebakan paling murah, tapi sangat menyakitkan, karena dilakukan oleh orang terdekat. "Ibu aja baru sampai rumah, Rin. Terus langsung ke sini.” Anindira membela diri. Tak membiarkan menantu dan besannya melanjutkan ucapan mereka, Anindira menambahkan, “Lagian, aneh juga. Pas ibu datang, tiba-tiba ada yang ngaku kehilangan barang. Jangan asal nuduh!" "Nggak usah bohong deh, Dir!” tuding Merry, tidak gentar. “Kamu ‘kan kerjanya jual batu bekas. Wajar kalau langsung ngiler lihat jam tangan emas!" Tanpa bisa dicegah, Merry melangkah cepat mengambil tas plastik kusam milik Anindira yang ada di lantai. Netra Anindira membulat seketika. Ia baru saja akan membuka mulut untuk protes, tetapi Merry menumpahkan seluruh isi tas ke lantai marmer. Isinya hanyalah botol minum plastik yang hampir penyok, dua buah roti lima ribuan, dan gumpalan kain untuk membungkus batu kali. Namun, barang terakhir yang terjatuh adalah sebuah jam tangan keemasan yang mengkilap. Menggelinding jatuh, menghantam lantai. Bunyi logam beradu marmer terdengar begitu keras di telinga Anindira. Kedua bola mata Anindira membola sempurna, terkejut bukan main. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa jam itu ada di sana. "Tuh, kan! Apa kubilang!" Rina berseru penuh kemenangan seraya memungut jam tangan tersebut "Pencuri! Jadi, ini alasannya Ibu cari kerja di luar? Biar gampang jualin barang-barang kami?" serang Rina membabi buta. Dada Anindira naik-turun. Selama ini ia rela menahan diri menerima perlakuan semena-mena, tapi dituduh mencuri adalah batas kesabarannya. "Jaga ucapanmu, Rina!" geram Anindira dengan rahang mengeras. "Ibu bukan pencuri!” Rina sama sekali tak gentar, justru melangkah maju menantang mertuanya. “Tega banget ya Ibu! Bakal aku laporin kelakuan Ibu ke Bayu sekarang juga. Biar dia tahu ibunya maling!" Dengan kasar, Rina mendorong bahu Anindira. Tubuh paruh baya itu terhuyung ke belakang nyaris tumbang. Air mata amarah mengalir. Tangan Anindira mengepal erat, menahan emosi yang mendidih di ubun-ubun. “Ibu sudah bilang, ibu tidak mengambilnya! Siapa yang kau sebut maling, Rina?!”" Sekarang aku harus bagaimana?" lirih Rina. Wanita itu, duduk di sebuah kafe sederhana yang sepi, Rina terpuruk dalam keheningan. Kopi dingin di hadapannya tak lagi menarik selera. Ia tak pernah menyangka akan berakhir seperti ini. Dijanjikan kebebasan oleh Sang Naga Malam, namun malah dijadikan umpan dalam sebuah rencana pembunuhan. Anindira memang licik. Seluruh pergerakannya bagai tarian indah, sementara Rina terus terjerat dalam jurang kesalahan. Rina memandang tangan kanannya yang mulai memucat. Tangan yang takkan pernah bisa terobati, meski Anindira membiarkannya bebas dari penjara. Sang Naga Malam, pria yang memberinya segenggam harapan palsu itu, ternyata hanya menjadi perantara. Ada rencana besar yang harus ia jalankan, sebuah rencana yang membahayakan dirinya, namun ia tak punya pilihan. Anindira punya cara untuk menjebaknya agar tetap tunduk, dan kali ini, ia tak punya tenaga untuk melawannya. "Kamu pikir bisa lolos dari aku, Rina?" sebuah suara serak dan dingi
"Semua sudah siap, Arion?" tanya Anindira, suaranya terdengar halus namun menusuk tajam.Anindira menyesap teh herbalnya perlahan, menikmati setiap tetes yang menyejukkan tenggorokannya. Kebiasaan wanita itu benar-benar tidak berubah sama sekali namun, di balik ketenangan ritual pagi itu, gejolak di dadanya begitu hebat.Di layar holografis yang membentang di hadapannya, rangkaian data tak henti-hentinya mengalir. Semua mata rantai kejahatan yang selama ini ia lacak, kini mulai menyatu menjadi satu titik krusial. Puncak balas dendamnya sebentar lagi akan tercapai. Arion berdiri di sampingnya, tenang namun penuh kewaspadaan, siap untuk setiap perintah. Ia tak pernah terlihat begitu dingin dan perhitungan sebelumnya. Mata safirnya menatap langsung ke inti layar, ke nama yang menjadi pusat dari segalanya Rudi. "Siap, Madam," jawab Arion mantap."Seluruh jaringan kita sudah aktif dan memantau setiap pergerakan mereka. sang Naga Malam pun sudah mulai beraksi, sesuai instruksi kita. Peng
"Kamu menyalahkan dirimu sendiri? Sejak dulu memang ini salah mu," ucap Rina, nadanya terdengar datar. Tiba-tiba, sebuah bayangan wanita muncul dari balik tumpukan kontainer. Sesosok wanita dengan rambut tergerai kusut, bergaun putih lusuh yang entah dari mana ia dapatkan. "Dan Anindira, dia memang sudah seperti itu, ia hanya suka melihatmu sengsara." sambung Rina. Dia adalah Rina. Mantan istrinya, yang kini telah ditolong keluar dari penjara oleh Anindira dengan satu syarat harus berjuang melawan kejahatan. Rina mendudukkan diri di samping Bayu, ekspresinya sedikit merenung. Bayu menggeleng kuat. "Tidak! Mama tidak seperti itu. Dia hanya ingin aku jadi orang yang lebih baik. Tapi aku terlalu lemah." Bayu kembali terisak. Air mata yang terus menetes itu mulai membasahi tanah kering di sekitarnya. "Dia menolong mu keluar dari penjara karena dia ingin menggunakan aku untuk menghancurkan mu," lanjut Rina, matanya menyapu sekitar dengan tajam. "Dan aku tahu persis apa yang dia
“Arion,” panggil Anindira. Anindira menyesap teh herbalnya. Senyum tipis terlukis di bibirnya. Ini bukan tentang kemenangan pribadi, tetapi tentang kejayaan warisan leluhurnya yang harus ia jaga. Anindira berterima kasih pada Arion atas semua dukungan yang telah diberikan. Arion, sahabat setianya yang telah menjadi tangan kanan dan pelindung tak terhingga baginya. Namun, di tengah kebahagiaannya, Anindira merenung. Bagaimana dengan Bayu? Ia takkan pernah lupa betapa besar ia mencintai putranya. Betapa sulitnya ia melihat Bayu tenggelam dalam kesedihan dan kehancuran. “Bayu harus segera kita selamatkan. Walaupun ia telah banyak menyakiti aku, tapi ia tetaplah anakku. Aku harus memberinya kesempatan kedua.” perintah Anindira Anindira ingin Bayu belajar dari kesalahan. Namun ia juga tahu, hukuman penjara takkan mengubah apapun. Arion mengangguk. Ia memahami betapa besar cinta Anindira pada putranya. Anindira memang tidak akan pernah membiarkan seorangpun menyakiti anak kandung
“Ha! Kenapa lagi si Bayu itu?!” Rina mengintip dari balik pintu kamarnya, memperhatikan Bayu yang tengah mengepalkan tangan sambil bicara sendiri. "Seperti orang gila! Tampangnya juga bodoh begitu!” rutuk Rina dengan suara berbisik. “Kalau bukan karena hartanya, mana mau aku sama dia itu!” Rin
"Gerah!” raung Bayu setelah mencoba memejamkan matanya selama 15 menit. “Ibu udah bayar listriknya belum sih? Kok belum nyala juga?" Helaan napas panjang penuh kekesalan terdengar, diiringi rasa malas yang khas. Namun, aroma kopi pagi yang tercium dari arah dapur menggugah selera makannya. Lu
"Ahh! Sayang!” jerit Rina dari dalam kamar mandi. “Kok tiba-tiba gelap?!” Rina baru saja mengeramasi rambut ketika semua pandangan menggelap. Dengan kesal Rina kembali berteriak menuduh mertuanya. “Jangan-jangan ini ulah wanita sialan itu! "Cih! Sialan! Kenapa bisa listriknya mendadak mati
“Mati saja sekalian!" Pintu besar kayu jati itu ditutup dengan bantingan keras oleh Bayu. Lampu-lampu kristal di dalam rumah masih berpijar terang, menerangi kehangatan palsu yang ditinggalkan di dalam. Sedangkan di dalam rumah, mereka sedang bahagia dengan kepergian wanita paruh baya itu. "






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu