"Tunggu, Pa," kata Bayu mencoba meyakinkan dirinya. "Bagaimana mungkin? Ibu itu sangat cerdas. Semua ini sudah diatur oleh Ibu sendiri." tanya Bayu. Rudi tertawa kecil, nada tawanya terdengar mengejek. "Anakku, kau terlalu meremehkan ibumu. Anindira bukan sekadar pandai, dia itu licik. Ia punya tangan tak terlihat yang bisa melakukan apa saja." "Anindira tahu persis kapan harus melancarkan serangan dan kapan harus menunggu waktu. Penjaramu ini, ini bukanlah hadiah dari Anindira." "Ini adalah bagian dari rencana besarnya. Kau di sini bukan untuk dihukum, tapi untuk... disembunyikan sementara." "Sementara ia membangun kerajaan nya yang baru. Menggunakan apa saja yang bisa ia ambil darimu, dari keluargamu, bahkan dari Rina." ucap Rudi menjelaskan hasutan yang membuat Bayu percaya. Bayu menggeleng tak percaya. Ini semakin membingungkan. Terkurung di sini, jauh dari kenyataan, di mana kebenaran pun semakin terasa kabur. "Lalu, apa gunanya Papa di sini? Untuk menghiburku?" tanya
Read more