Pertanyaan itu belum sempat bergema sepenuhnya di ruangan itu ketika pria itu bergerak.Tanpa satu kata pun, pria bertubuh tinggi besar itu membungkam bibir Helena. Ia tidak menciumnya dengan lembut, ia menyerang. Itu adalah ciuman yang lapar, dominan, dan penuh tuntutan, seolah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya.Helena tersentak, namun dalam detik berikutnya, tubuhnya justru bereaksi dengan pengenalan yang instan.Aroma maskulin yang tajam, tekanan tubuh yang masif, dan cara pria itu menguasai napasnya...Helena tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa ini. Ciuman ini yang kasar namun memabukkan hanya milik satu orang. Sentuhan tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang menghancurkan juga terlalu familiar untuk diabaikan.Suaminya.Kesadaran itu mengirimkan gelombang panas yang seketika melumpuhkan akal sehat Helena. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh gairah yang meledak-ledak. Ia mengenal ciuman ini. Ia menghafal setiap inci dari bagaimana pri
Terakhir Diperbarui : 2026-06-11 Baca selengkapnya