Masuk"Apa kau keberatan?" Suara Rion membuyarkan lamunannya.Helena mengangkat kepala. Tatapan merah pria itu tertuju padanya dengan tenang, seolah benar-benar menunggu jawaban."Tidak." Jawaban itu keluar setelah jeda singkat. "Aku tidak keberatan."Rion tidak mengatakan apa-apa.Helena menghela napas pelan sebelum melanjutkan."Hanya saja... semuanya terasa begitu tiba-tiba."Sudut bibir Rion terangkat tipis. Namun kali ini senyum itu tidak mengandung godaan seperti biasanya. Justru terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang menurutnya menarik."Tidak ada yang tiba-tiba."Helena mengernyit."Tidak?""Tidak."Rion berjalan perlahan menuju jendela di belakang meja kerjanya."Kau adalah Marchioness Laurent." Nada suaranya terdengar datar, namun tegas. "Seharusnya kau sudah memahami posisimu bahkan sebelum menyetujui pernikahan ini."Helena tidak langsung menjawab.Tatapannya turun sesaat ke lembaran kertas di tangannya. Ia tahu Rion tidak sepenuhnya salah. Sejak awal,
Helena mengikuti pelayan yang mengantarnya hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu besar di ujung lorong. Setelah mendapat izin masuk, ia melangkah ke dalam ruangan yang ternyata jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.Ruangan itu tidak terlihat seperti ruang kerja seorang bangsawan pada umumnya. Tidak ada hiasan berlebihan ataupun perabot mewah yang sengaja dipamerkan untuk menunjukkan kekuasaan pemiliknya.Yang ada hanyalah rak-rak buku yang memenuhi sebagian besar dinding, meja kerja besar yang dipenuhi tumpukan dokumen, serta jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya siang masuk dengan leluasa.Di balik meja itu, Rion sedang duduk sambil membaca sesuatu. Ia bahkan tidak langsung menyambut kedatangannya.Tatapan merah gelapnya masih tertuju pada dokumen di tangannya, sementara jemarinya yang panjang membalik halaman dengan tenang. Baru setelah beberapa saat, pria itu meletakkan dokumen tersebut dan mengangkat kepalanya."Aku rasa aku memintamu datang setelah kau selesai
Dorote terdiam setelah mendengar pertanyaan itu. Helena yang duduk di depan meja rias memperhatikan wanita tersebut melalui pantulan cermin.Perubahan pada wajah Dorote sebenarnya nyaris tidak terlihat, hanya jeda sesaat sebelum menjawab dan cara pandangannya turun ke lantai seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Namun bagi Helena yang sejak kecil dibesarkan di lingkungan bangsawan, hal-hal kecil seperti itu justru lebih mudah ditangkap daripada kata-kata yang diucapkan dengan lantang."Aku hanya memastikan kepada Sir Tom," jawab Dorote akhirnya dengan nada hati-hati. "Beliau mengatakan bahwa Tuan memang datang ke kamar Anda sebelum fajar."Helena mengangguk pelan. Secara logika, jawaban itu seharusnya cukup. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Dorote telah memastikan kebenaran ucapannya dan kesalahpahaman itu selesai sampai di sana. Namun entah mengapa, semakin ia memikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Yang mengganggunya bukanlah isi jawaban Dorote, melainkan cara wanita
Helena membuka mata saat cahaya matahari sudah memenuhi sebagian besar kamar.Untuk beberapa saat ia hanya berbaring diam sambil menatap kanopi ranjang di atas kepalanya. Tubuhnya terasa lemas, sementara selimut yang membungkusnya masih menyimpan kehangatan yang belum sepenuhnya hilang. Ia menoleh ke samping secara refleks dan mendapati sisi ranjang di sebelahnya telah kosong.Tidak ada siapa pun di sana.Pemandangan itu seharusnya tidak mengejutkannya lagi.Sejak menikah, pria yang datang ke kamarnya selalu menghilang sebelum pagi benar-benar tiba. Namun entah mengapa, pagi ini terasa berbeda. Mungkin karena apa yang terjadi sebelum fajar masih terlalu jelas di kepalanya. Begitu jelas sampai-sampai wajah Helena langsung memanas hanya karena mengingatnya.Ia segera menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Ya Tuhan..." gumamnya pelan.Semalam atau lebih tepatnya beberapa jam yang lalu, ia benar-benar kehilangan kendali atas mulutnya sendiri. Dalam keadaan setengah sadar dan
Helena menegang ketika mendnegar suara itu, suara Marquess yang pertama kali ia dengar.Sangat serak dan sangat rendah. Seperti suara seseorang yang sudah lama tidak bicara seseorang yang suaranya sudah berkarat karena keheningan.Tapi ada sesuatu di balik suara itu. Sesuatu yang bergetar di frekuensi rendah, yang terasa seperti gelombang yang menjalar dari telinga Helena ke tulang belakangnya, lalu ke seluruh tubuhnya."Aku ingin kau bergerak."Helena tertegun.Suaminya.Ini kali pertama ia mendengar suara ini. Suara lelaki yang selama ini nyaris tidak pernah bicara, yang kehadirannya selalu diiringi keheningan, yang sentuhannya selalu lebih keras dari kata-kata. Suara yang pernah ia dengar hanya sekilas perintah pendek, bisikan singkat. Tapi tidak pernah seperti ini.Helena menelan ludah. Ia ingin berkata sesuatu. Ia ingin bertanya. Ia ingin, entah apa. Tapi pikirannya terputus.Karena Marquess bergerak.Tangannya naik dari pinggul Helena. Jari-jarinya yang besar dan kuat menyentuh
Marquess tidak menjawab.Tapi tangannya bergerak. Jari-jarinya yang besar dan kuat naik dari pinggang Helena ke perutnya, tangannya bergerak lebih lambat.Helena menahan napas.Tidak, pikirnya. Aku masih lelah. Tubuhku masih sakit. Aku—Tapi pikirannya terputus saat tangan itu naik lebih tinggi. Jari-jarinya menyentuh bawah dada Helena. Menyentuh kulitnya yang lembut."Ahh—" Desahan itu lolos dari bibir Helena sebelum ia bisa menahannya.Helena tidak pernah menyangka sensasi ini.Tubuhnya meremang. Bulu-bulu di lengannya berdiri. Perutnya terasa seperti digelitik , sensasi aneh yang menjalar dari dadanya ke seluruh tubuhnya.Pria itu bergerak di belakangnya. Tubuhnya yang besar bergeser, dan Helena merasakan beratnya berubah. Lalu dengan pelan, tanpa suara tubuh Helana tertarik dan ia membaringkannya telentang di ranjang.Helena membuka matanya. Dalam cahaya pagi yang samar, ia bisa melihat Marquess di atasnya. Siluetnya yang besar menghalangi cahaya. Rambutnya berantakan. Matanya set