Se connecterHelena putri dari kerajaan yang bangkrut dipaksa menikahi Marquess Laurent demi melunasi hutang kerajaannya. Ia telah diperingatkan bahwa jangan pernah menyalakan lampu setiap malam. Dalam kegelapan total, ia hanya bisa merasakan napas berat dan sentuhan seorang pria yang ia tahu bahwa itu suaminya. Namun, saat pagi datang, ia diperkenalkan adik iparnya yang baru usai perang. Masalahnya, mengapa pria ini terasa sangat familiar seperti semalam? Jika dia bukan suaminya, lantas siapa yang bermain dengannya di tiap malam?
Voir plus"Ah..."
"Ah. Ah... Hah.."
Napas Helena keluar dalam hembusan pendek dan berat, dadanya naik turun tak beraturan di bawah bobot tubuh Marquess Laurent.
Rambutnya kusut, menempel di leher dan dahinya yang memerah. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar panas yang mengalir dari titik pertemuan mereka, menjalar ke perut, ke dada, hingga ke ujung jari-jari kakinya yang menekuk kuat.
"Ugh—"
Suara itu rendah dan berat, hembusan nafas menyapu seluruh wajah Helena. Ia tahu lelaki yang bahkan tidak bisa ia lihat wajahnya ini tengah terlarut dalam penyatuan pada malam pernikahan ini.
Nafas Helena memburu, lututnya jatuh kesamping, membuka dirinya lebih lebar untuk pria diatasnya.
Helena berusaha melihat sosok di hadapannya dalam kegelapan. Lampu di kamarnya sengaja dimatikan, hanya cahaya bulan dari jendela menerangi ruangan samar-samar.
Sejak tiba di Kastil Laurent, ia sudah diberi tahu bahwa lampu tidak boleh dinyalakan saat Marquess Laurent datang, karena ia tidak menyukai cahaya, dan pelanggaran terhadap aturan itu akan berujung pada hukuman.
Hari ini Helena, putri kerajaan Elvard dinikahkan dengan Marquess Rezef Laurent untuk melunasi hutang keluarganya.
Namun ia hampir tidak tahu apa pun tentang pria itu, selain kabar bahwa Marquess Laurent adalah bangsawan tertutup yang sakit-sakitan dan jarang meninggalkan kastilnya.
"Ah—!"
Hentakan keras membuat Helena tersadar dari lamunanya, sepertinya Marquess tak suka melamun.
Ruangan gelap gulita namun tak membuat pergerakannya melambat. Aroma lelaki itu memenuhi lubang hidung Helena, merasuk kedalam paru-parunya membuat kepalanya berputar. Ia tidak bisa lagi menahan diri.
Gerakan semakin cepat. Pinggulnya menghunjam berulang kali, dalam dan keras, membuat Helena tersentak setiap kali tubuhnya dipenuhi. Dia mengerang panjang, putus asa, dengan sisa-sisa harga diri yang luruh bersama keringat yang mengalir di punggungnya.
Uuugghhh!
Suara itu lolos begitu saja. Helena tidak peduli lagi siapa yang mendengar. Yang ada hanya sensasi dari gesekan, panas, tekanan yang membangun di dalam perutnya seperti gelombang yang siap pecah.
Napas mereka sama-sama memburu, bercampur dan saling mengisi.
Detik selanjutnya sebuah ciuman mendarat dibibir Helena, bukan ciuman lembut. Namun sebelum Helena bisa membalas, ia menjauh.
Ia merebahkan diri di samping Helena, tubuhnya masih gemetar hebat setelah menumpahkan cairannya yang hangat dan banyak di dalam tubuh wanita itu.
Helena menatap langit-langit ranjang. Matanya kosong untuk sesaat sebelum perlahan terpejam. Napasnya mulai stabil, satu per satu, seperti ombak yang surut setelah badai.
...
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela tinggi aula kastel tidak mampu menghilangkan rasa penasaran dikepala Helena.
Ia berdiri diam di depan meja panjang aula utama sementara kepala pelayan merapikan penampilannya sebelum sarapan dimulai. Wajahnya terlihat tenang, meski tubuhnya masih terasa pegal akibat semalam.
“Hari ini Anda akan diperkenalkan dengan keluarga Laurent lainnya, Nyonya,” ucap kepala pelayan pelan.
Helena hanya mengangguk kecil. Tatapannya tanpa sadar mengarah pada kursi kosong di ujung meja makan, kursi milik suaminya. Rezef Laurent belum juga terlihat.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari lorong aula. Pelan, berat, dan tenang. Entah kenapa, jantung Helena langsung berdetak lebih cepat hingga ia perlahan mengangkat kepalanya.
Seorang pria muda berjalan memasuki aula. Tubuhnya tinggi dan tegap, dibalut pakaian hitam yang membuat sosoknya semakin mencolok di tengah aula yang terang.
Rambut hitamnya jatuh rapi di dahinya, sementara mata merah gelapnya menatap Helena dengan tenang.
Terlalu tampan untuk seseorang dengan aura sedingin itu, ia lalu berhenti beberapa langkah di depan Helena lalu membungkuk sopan.
“Selamat pagi.”
Suara berat dan rendah itu membuat tubuh Helena langsung menegang. Napas pria itu terasa begitu familiar hingga bulu kuduknya berdiri perlahan.
Detik berikutnya lelaki itu mengulurkan tangan membuat dada Helena terasa sesak.
Helena justru terpaku pada telapak tangan pria itu. Jemarinya panjang dengan kapalan kasar bekas pegangan pedang.
Dan anehnya, terasa sangat familiar.
Ingatan tentang malam sebelumnya langsung memenuhi kepala Helena. Bahkan aura intimidasi yang menguar kuat dari tubuhnya sama persis dengan sosok yang mengukungnya dalam kegelapan semalam.
Napas Helena tertahan sesaat.
“Saya Rion Laurent,” ucap pria itu sambil mengangkat wajahnya. “Adik dari suamimu.”
Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok."Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis."Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Helena mengernyit. "Maksud Anda?""Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"Pertanyaan itu membuat Helena terdi
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.Itu saja.Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.Dunia bangsawan memang kejam.Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebu
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena. “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.“Saya mengerti, Nyonya.”Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.“Kondisi Tuan Marquess b
Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.