Pecahan kayu masih beterbangan ketika pintu perpustakaan itu runtuh.Debu memenuhi ruangan, menyesakkan napas.Alexander tidak bergerak.Tatapannya tetap tertuju pada pria yang berdiri paling depan.Usianya sekitar empat puluh tahun. Jas hitamnya bersih, nyaris tanpa debu, seolah perjalanan panjang melewati lorong bawah tanah bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Di tangan kirinya tergenggam sebuah map kulit hitam yang tampak sudah tua. Tidak ada senjata yang terlihat.Namun justru itulah yang membuat Alexander semakin waspada.Orang yang datang tanpa senjata biasanya memiliki keyakinan yang jauh lebih berbahaya daripada orang yang membawa senapan.Pria itu berhenti sekitar lima meter di depan Alexander.Tatapan mereka saling mengunci."Maaf," katanya tenang. "Aku datang untuk mengambil warisan yang seharusnya menjadi milikku."Alexander tidak terpancing.Ia justru melirik cepat ke arah belasan orang di belakang pria itu.Formasi mereka rapi.Tidak ada yang berdiri sembarangan.Empat o
Last Updated : 2026-07-23 Read more