MasukPada hari jadi pernikahan mereka yang kelima, Amelia Hart menerima hadiah yang tidak pernah ia bayangkan: surat cerai dari suaminya sendiri. Alexander Kingston, CEO muda sekaligus miliarder paling berpengaruh di kota, memilih mengakhiri pernikahan mereka demi kembali bersama cinta pertamanya yang baru pulang dari luar negeri. Setelah bertahun-tahun berjuang menjadi istri yang sempurna, Amelia akhirnya menyerah. Ia menandatangani surat cerai itu dan pergi tanpa memberi tahu satu rahasia yang akan mengubah segalanya. Ia sedang mengandung anak Alexander. Tiga tahun kemudian, Amelia kembali sebagai wanita yang berbeda. Bukan lagi istri yang selalu mengalah dan hidup di bawah bayang-bayang suaminya, melainkan pendiri perusahaan fashion mewah yang sukses dan ibu dari sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Alexander terkejut melihat dua anak yang memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Semakin banyak rahasia yang terungkap, semakin ia menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah melepaskan Amelia. Kini, pria yang dulu menceraikannya mulai mengejar kembali cinta yang pernah ia abaikan. Namun Amelia telah membangun hidup baru tanpa dirinya. Ketika cinta lama, rahasia keluarga, pengkhianatan, dan perebutan hak atas anak-anak mereka mulai terungkap, Alexander harus berjuang membuktikan bahwa penyesalannya bukan sekadar terlambat. Bisakah Amelia memaafkan pria yang pernah menghancurkan hatinya? Ataukah kali ini sang miliarder harus menerima bahwa tidak semua kesalahan bisa diperbaiki?
Lihat lebih banyakAmelia Hart berdiri di depan cermin kamar mereka.
Gaun merah yang ia kenakan memeluk tubuhnya dengan sempurna.
Malam ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang kelima.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alexander mengajaknya makan malam.
Ia bahkan membatalkan dua rapat penting demi menghadiri undangan suaminya.
Meski selama bertahun-tahun Alexander selalu bersikap dingin, Amelia tetap tidak bisa menghentikan harapannya.
Mungkin malam ini berbeda.
Mungkin akhirnya Alexander mulai membuka hatinya.
Dengan senyum kecil, Amelia menyentuh kalung berlian yang pernah diberikan Alexander saat tahun pertama pernikahan mereka.
Satu-satunya hadiah yang pernah ia terima dari pria itu.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Alexander.
"Aku sudah sampai."
Jantung Amelia langsung berdebar.
Ia segera meninggalkan apartemen penthouse mereka dan menuju restoran paling mewah di kota.
Namun saat tiba, langkahnya mendadak terhenti.
Alexander memang ada di sana.
Tetapi dia tidak sendirian.
Di sampingnya duduk seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang.
Wanita itu sedang tersenyum.
Dan tangan Alexander berada di atas tangannya.
Dunia Amelia seolah berhenti berputar.
Sophia Bennett.
Nama itu langsung muncul di benaknya.
Cinta pertama Alexander.
Wanita yang konon tidak pernah berhasil ia lupakan.
Sophia seharusnya masih berada di luar negeri.
Lalu kenapa dia ada di sini?
Dan kenapa Alexander memegang tangannya?
Saat melihat Amelia datang, Sophia tersenyum manis.
Terlalu manis.
Seolah dia adalah pemenang yang sedang menunjukkan belas kasihan kepada pihak yang kalah.
"Amelia, akhirnya kau datang."
Alexander berdiri.
Namun tidak ada kehangatan di wajahnya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada ucapan selamat ulang tahun pernikahan.
Yang ada hanyalah sebuah map hitam yang didorong ke arahnya.
Amelia menatap map itu.
Entah kenapa firasat buruk mulai muncul.
"Bukalah."
Suara Alexander terdengar datar.
Dengan tangan gemetar, Amelia membuka map tersebut.
Beberapa lembar dokumen muncul.
Matanya langsung membeku.
SURAT PERMOHONAN CERAI.
Wajah Amelia mendadak pucat.
"Apa ini?"
Alexander menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku ingin mengakhiri pernikahan kita."
Kalimat itu menghantamnya seperti truk yang melaju dengan kecepatan penuh.
Amelia bahkan tidak bisa bernapas.
Hari jadi pernikahan mereka.
Restoran penuh pasangan romantis.
Dan suaminya menyerahkan surat cerai.
Di depan wanita lain.
"Alexander..."
Suaranya bergetar.
"Apa ini lelucon?"
"Tidak."
Jawaban singkat itu menghancurkan sisa harapannya.
Sophia lalu menyandarkan tubuh ke kursinya.
"Aku sebenarnya merasa tidak enak berada di sini," katanya dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal.
"Tapi Alexander bilang dia ingin jujur sejak awal."
Amelia memandang wanita itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar ingin menampar seseorang.
Namun ia menahan diri.
Tatapannya kembali pada Alexander.
"Kenapa?"
Alexander terlihat tenang.
Terlalu tenang.
"Aku tidak pernah mencintaimu."
Ruangan terasa sunyi.
Bahkan suara musik restoran menghilang dari telinganya.
Amelia merasa seperti baru saja ditusuk tepat di jantung.
"Apa?"
"Aku menikahimu karena kakek memaksaku."
Setiap kata terasa seperti pisau.
"Tapi sekarang Sophia sudah kembali."
Alexander mengambil napas pendek.
"Aku tidak ingin terus hidup dalam pernikahan yang tidak kuinginkan."
Air mata mulai memenuhi mata Amelia.
Lima tahun.
Lima tahun hidupnya.
Lima tahun mencintai pria ini.
Lima tahun berharap.
Ternyata semuanya tidak berarti apa-apa.
Sophia tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Lalu membukanya.
Sebuah cincin berlian besar berkilau di bawah cahaya lampu restoran.
Jantung Amelia berhenti berdetak.
"Aku menerima lamaran Alexander tadi sore."
Sophia tersenyum.
"Kami akan menikah bulan depan."
Kepala Amelia berdengung.
Mereka bahkan belum resmi bercerai.
Namun pria itu sudah melamar wanita lain.
Tangan Amelia mengepal begitu kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan sendiri.
"Jadi kau mengundangku ke sini hanya untuk mempermalukanku?"
Untuk pertama kalinya, Alexander tampak sedikit tidak nyaman.
Namun hanya sesaat.
"Kau akan menerima kompensasi."
Amelia tertawa.
Tawa yang terdengar seperti tangisan.
"Kompensasi?"
Ia menatap pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.
"Menurutmu lima tahun hidupku bisa dibayar dengan uang?"
Alexander tidak menjawab.
Karena jauh di dalam hati, bahkan dia tahu jawabannya tidak.
Namun egonya tidak mengizinkannya mengakuinya.
Amelia perlahan mengambil pena.
Alexander mengira ia akan menolak.
Mengira ia akan menangis.
Mengemis.
Memohon.
Seperti yang biasa dilakukan wanita dalam drama murahan.
Namun Amelia justru menandatangani surat itu.
Satu goresan.
Dua goresan.
Selesai.
Kemudian ia melemparkan pena ke atas meja.
"Kau bebas sekarang."
Alexander menatap tanda tangan itu.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah sesuatu yang penting baru saja lepas dari genggamannya.
Namun sebelum sempat memikirkannya lebih jauh, Sophia memeluk lengannya.
"Ayo pulang, Alex."
Alexander mengangguk.
Tidak satu kali pun dia mencoba menahan Amelia.
Tidak satu kali pun dia meminta maaf.
Tidak satu kali pun dia menoleh saat Amelia berjalan keluar dari restoran.
Malam itu hujan turun deras.
Amelia berjalan tanpa tujuan.
Air mata bercampur dengan air hujan di wajahnya.
Sampai tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
Tubuhnya limbung.
Dan dia jatuh pingsan di tengah trotoar.
Saat membuka mata, Amelia sudah berada di rumah sakit.
Seorang dokter wanita berdiri di samping tempat tidurnya.
"Syukurlah Anda sudah sadar."
Amelia mengusap kepalanya.
"Apa yang terjadi?"
Dokter tersenyum tipis.
"Kondisi Anda sebenarnya baik."
"Lalu kenapa saya pingsan?"
Dokter membuka hasil pemeriksaan.
Kemudian mengucapkan kalimat yang mengubah hidup Amelia selamanya.
"Selamat."
"Anda sedang hamil."
Amelia membeku.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Hamil?"
Dokter mengangguk.
"Usianya sekitar enam minggu."
Air mata kembali mengalir dari mata Amelia.
Namun kali ini bukan karena patah hati.
Melainkan karena kenyataan yang jauh lebih kejam.
Beberapa jam lalu suaminya menceraikannya.
Dan sekarang dia mengetahui bahwa dia sedang mengandung anak pria tersebut.
Anak yang bahkan mungkin tidak pernah diinginkan oleh ayahnya.
Jalan cahaya itu membentang tanpa ujung.Alexander melangkah perlahan.Di belakangnya, suara runtuhnya Sanctum semakin samar, seolah dunia yang selama ribuan tahun berdiri mulai melepaskan dirinya dari sejarah.Tidak ada lagi rasa sakit.Tidak ada lagi suara Genesis.Hanya keheningan.Di ujung jalan, sebuah pohon berdiri sendirian.Bukan pohon raksasa seperti Genesis.Bukan pula bibit kecil yang pernah dilihat Alexander.Hanya sebuah pohon sederhana.Daunnya hijau.Akarnya menembus tanah.Dahan-dahannya bergoyang pelan diterpa angin.Di bawah pohon itu berdiri seorang wanita.Ia mengenakan gaun putih yang sangat dikenalnya."Evelyn..."bisik Alexander.Wanita itu tersenyum.Namun kali ini Alexander tidak berlari.Ia hanya berjalan hingga berdiri beberapa langkah di depannya."Aku tahu..."katanya pelan."Kau bukan Ibu."Wanita itu tersenyum semakin hangat."Benar.""Lalu siapa?""Aku...""...adalah rumah yang selama ini kau cari."Alexander memejamkan mata.Ia akhirnya mengerti.Rumah
Cahaya putih yang menyelimuti tubuh Alexander semakin terang. Mula-mula hanya berupa kilatan lembut yang keluar dari telapak tangannya, tetapi dalam hitungan detik cahaya itu berkembang menjadi lautan sinar yang memenuhi seluruh Sanctum. Dinding-dinding batu yang telah berdiri selama ribuan tahun memantulkan kilau putih keemasan hingga setiap sudut ruangan tampak seolah berubah menjadi langit yang dipenuhi bintang.Semua orang refleks menutup mata.Bahkan Samuel yang sejak tadi berdiri paling dekat terpaksa mengangkat lengannya untuk melindungi penglihatannya."Apa ini...?"gumamnya.Daniel tidak menjawab.Tatapannya tidak pernah lepas dari tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri setiap perubahan data yang muncul hampir setiap detik.Status sistem berubah dengan kecepatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.FINAL TRANSFER : 12%MEMORY ARCHIVE : ACTIVEHOST STABILITY : UNKNOWNDaniel mengernyit."Host Stability?"Ia belum pernah menemukan parameter itu di seluruh
Cahaya putih yang menyelimuti tubuh Alexander semakin terang hingga seluruh Sanctum dipenuhi kilatan yang hampir membuat semua orang tidak dapat membuka mata.Daniel terus memantau tablet.Status sistem berubah sangat cepat.> **FINAL TRANSFER : 12%**> **MEMORY ARCHIVE : ACTIVE**> **HOST STABILITY : UNKNOWN**Tidak ada seorang pun yang mengerti arti "Host Stability".Namun satu hal mulai terlihat.Semakin banyak akar Genesis yang menyatu ke tubuh Alexander, semakin pucat wajahnya.Edward mencoba mendekat, tetapi sebuah dinding cahaya menghalanginya.Samuel memukul penghalang itu berkali-kali, tetapi tidak berhasil menembusnya.Elias akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi.Genesis bukan sedang memilih pemimpin baru.Genesis sedang mengembalikan seluruh tanggung jawab terakhir kepada manusia yang dianggap paling layak.---Di tengah proses transfer, sebuah rekaman lama muncul di udara.Rekaman itu berasal dari hari ketika Genesis pertama kali diaktifkan.Seluruh orang menyaksikan
Alexander berdiri di depan bibit pohon pertama yang kini menjadi pusat Sanctum. Cahaya putih yang keluar dari batangnya terus berdenyut mengikuti detak jantung semua orang yang berada di ruangan itu. Sistem kembali mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi kali ini dengan suara yang jauh lebih lembut, seolah memahami bahwa keputusan berikutnya akan menentukan nasib Genesis untuk selamanya.> **"Apakah seluruh kenangan manusia akan dikembalikan kepada pemiliknya?"**Alexander menoleh ke arah semua orang. Ia melihat Edward, Samuel, Daniel, Noel, Orion, Cael, Amon, Elias, dan yang lainnya. Mereka tidak mengatakan apa pun. Tidak ada lagi nasihat atau perdebatan. Semua menyerahkan keputusan itu kepadanya.Alexander akhirnya menjawab, "Ya."Sistem meminta konfirmasi kedua dan memperingatkan bahwa proses tidak dapat dibatalkan. Setelah Alexander kembali mengiyakan, seluruh Sanctum mulai berubah. Hitung mundur yang sebelumnya hampir satu jam langsung meloncat menjadi empat puluh lima menit. Itu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan