Alvin berdiri di belakangku."Kok kamu datang?" tanyaku. "Bukannya kamu bilang males hadapin acara kayak gini?""Sebenarnya males." Dia menyesap minumannya, tatapannya tertuju padaku. "Tapi, aku mikir, kamu sendirian ngadepin orang sebanyak ini, pasti capek.""Makanya kamu datang?""Iya."Aku menatapnya, lalu tiba-tiba terkekeh."Kenapa ketawa?" tanyanya."Ketawain kamu," jawabku. "Kamu ini ya, ngasih perhatian ke orang aja caranya kaku banget."Dia mengangkat sebelah alis, tidak membantah.Hening selama dua detik, tiba-tiba dia bertanya, "Tadi di balkon, kamu ngobrolin apa sama orang itu?"Aku tertegun sejenak, lalu tersadar.Dia melihatku dan Devan di balkon tadi."Kamu lihat semuanya?" tanyaku."Iya," jawabnya. "Dari ruang VIP lantai dua."Aku tidak berkata apa-apa.Angin malam berembus masuk dari jendela, menerpa anak rambut di dahinya.Dia berdiri di hadapanku, seluruh tubuhnya diselimuti cahaya hangat dari lampu ruang perjamuan, membuatnya terlihat begitu tampan hingga seolah tid
Magbasa pa