Drrrtttt ….Suara getar handphone di meja bufet sampingku. Aku langsung meraihnya, aku tersenyum sangat lebar saat melihat handphone lamaku kembali. Ayahku menelpon, langsung saja kujawab teleponnya. “Hallo,” ucapku ragu-ragu. “Ayah?”“Eleanor, Ayah akan sampai sebentar lagi. Tunggu di sana ya. Kau baik-baik saja?”Suara ayahku yang terdengar panik membuat air mataku meleleh begitu saja. Rasanya begitu rindu.“Ya Ayah, aku tunggu.”“Nona Eleanor, Anda akan dipindah di ruang rawat inap sore ini. Dokter masih harus memeriksa keadaan, Anda.”Suster mengganti air infus, dia berkata aku harus istirahat selama tiga hari, dan Eric mendengar itu dari balik tirai, dia langsung masuk ke dalam. “Tidak bisa, Eleanor harus ikut aku memilih souvenir, dan hadiah pertunangan.”“Hadiah pertunangan apa?” tanyaku penasaran.“Mobil hitam itu, aku sudah bilang padamu tempo lalu. Kau lupa? Kau akan membelikannya sebagai hadiah.”Dia tersenyum padaku, seakan sedang merayu. Keningku berkerut, kutatap waja
Last Updated : 2026-08-01 Read more