Saat mata pisau itu membelah udara, aku tak menghindar.Sebaliknya, aku justru memiringkan tubuh, mencengkeram pergelangan tangan Adira, lalu menekan lengannya ke bawah kuat-kuat.Jleb!Pisau bedah yang tajam itu tepat menusuk perutnya yang membuncit.Mata Adira membelalak.Kegilaan di wajahnya seketika membeku, berganti dengan rasa sakit yang luar biasa.Dia menunduk, menatap pisau yang tertancap di perutnya.Bibirnya bergetar. Namun, untuk beberapa saat, tak satu kata pun keluar.Darah perlahan merembes keluar di sepanjang gagang pisau, menodai gaunnya menjadi merah pekat.“Aaa… Anakkku!”Beberapa detik kemudian, jeritan pilu terdengar dari tenggorokannya.Dia memegangi perutnya dan tersungkur ke lantai. Tatapannya menancap tajam ke arahku, seolah ingin mencabikku hidup-hidup.“Lana! Bahkan kalau aku jadi hantu, aku nggak akan melepaskanmu!”“Oh? Kalau begitu, kamu harus turun lebih dulu dan bertanya pada anakku… apa dia mau melepaskanmu.”Rey seakan kehilangan seluruh tenaganya.Dia
Read more