Teilen

Bab 2

Sanfa
“Kasih ke dia?”

Aku langsung mendorong Rey menjauh. Kepalaku berdengung hebat.

“Rey! Gimana bisa kamu setega itu merebut obatku?”

Kamu sudah lupa sama sumpahmu dulu, hah?”

Di hari pernikahan kami, saat dia menunduk dan menciumku, dia bersumpah dengan penuh ketulusan di hadapan Tuhan.

“Lana… mulai sekarang, hidupmu adalah hidupku. Nggak seorang pun boleh menyakitimu.”

Tapi sekarang?

Aku menjerit histeris dan menerjang maju ke arahnya. Air mata bercampur darah mengotori jas putih yang dikenakannya.

Rey terhuyung selangkah ke belakang. Namun, dia tetap bersikeras membela dirinya.

“Hanya kali ini. Adira sakit kepala dan terus menangis. Aku nggak bisa membiarkannya begitu saja.”

Begitu membicarakan Adira, sorot matanya dipenuhi kasih sayang yang meluap.

Dalam sekejap, api kemarahan dalam diriku langsung padam, seperti disiram air dingin.

Hatiku terasa mati.

Aku mendesah sinis, sementara air mata jatuh deras seperti manik-manik yang putus.

“Kalau begitu, gimana denganku?”

“Saat kamu menunda operasiku sembilan puluh sembilan kali, kenapa kamu nggak pernah berpikir kalau aku juga nggak bisa terus diabaikan?”

Rey menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa.

Tepat saat itu, suara jeritan kesakitan Adira terdengar dari bangsal sebelah.

Rey langsung mendongak.

Keraguan terakhir yang masih tersisa di matanya lenyap dalam sekejap.

Tanpa memberi penjelasan apa pun, dia berbalik dan bergegas pergi.

Bahkan tak melirikku sedikit pun.

Aku memegangi pelipisku yang berdenyut hebat. Tubuhku lemas tak bertenaga. Darah dari dahiku mengalir melewati pipi hingga masuk ke mulutku.

Pada saat yang sama, samar-samar terdengar suara dari bangsal sebelah.

“Ayo, cepat minum obat ini, Aku sengaja menyimpannya untukmu!”

Itu suara Rey.

Nada bicaranya begitu lembut, seolah mampu mencairkan segalanya.

Sangat berbeda dengan sikap dingin dan keras yang baru saja dia tunjukkan padaku.

Tak lama kemudian, terdengar suara manja Adira.

“Aku nggak mau minum. Pahit…”

Obat yang sama.

Obat yang bahkan tak bisa kudapatkan meski sudah membenturkan kepala ke dinding.

Namun di sana, Rey justru membujuk orang lain agar mau meminumnya.

Tiba-tiba rasa mual menghampiri.

Perutku bergejolak hebat.

Aku tak sanggup menahannya lagi.

Membungkuk di sisi ranjang, aku muntah hebat.

Di tengah kesadaran yang perlahan memudar, hanya tersisa satu pikiran yang menyedihkan dalam benakku.

Rey…

Saat kamu membujuk Adira untuk meminum obat itu...

Bisakah kau ingat juga bahwa aku di sini masih menanti obat impor yang sempat kamu janjikan.

Namun dari tengah malam hingga fajar menyingsing, obat impor yang dia katakan tak kunjung datang.

Sama halnya dengan Rey.

Dia seolah lenyap tanpa jejak.

Aku tersenyum sinis.

Lalu perlahan melepas cincin pernikahan di jariku dan melemparkannya ke luar jendela sekuat tenaga.

Saat itu, perawat masuk ke bangsal.

Dia tampak ragu-ragu, beberapa kali ingin berbicara tapi mengurungkannya. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia berkata lirih.

“Nona Lana… dana cadangan di rekening Nona… sudah habis. Biaya perawatan selanjutnya harus segera dilunasi.”

“Apa? Sudah habis?”

Aku terpaku, tak mampu mencerna ucapannya selama beberapa saat.

Uang itu adalah uang ganti rugi atas kecelakaan yang menimpa mendiang ibuku.

Uang yang sengaja kusimpan untuk biaya operasi demi menyelamatkan hidupku.

Bagaimana mungkin habis secepat itu?

Perawat itu mengatupkan bibir.

Suaranya begitu pelan, terdengar seperti dengungan nyamuk.

“Semalam Dokter Rey memindahkan Nona Adira ke bangsal VIP, dan sengaja mendatangkan peralatan medis dari luar negeri. Semua biayanya dipotong langsung dari rekening Nona.”

Boom!

Dalam sekejap, pikiranku seketika kosong.

Rasa sakit di kepala kembali menyerang dengan brutal.

“Bangsal VIP?”

Pandanganku mendadak menghitam.

Aku buru-buru mencengkeram tepi ranjang agar tak jatuh.

“Uang untuk menyelamatkan hidupku… dia pakai untuk membiayai bangsal mewah Adira?”

Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ibu menggenggam tanganku erat-erat sambil menangis.

“Lana, Ibu mohon… pakai uang ini untuk berobat sampai sembuh.”

Aku berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhku yang hampir lumpuh, berniat mencari Rey dan meminta penjelasan saat itu juga.

Begitu melihatku merayap keluar sambil berpegangan di dinding, wajah perawat langsung pucat.

Dia buru-buru menghampiri dan mencengkeram lenganku kuat-kuat.

“Nona Lana! Nona nggak boleh ke sana! Dokter Rey bilang siapa pun yang berani menerobos masuk akan—”

“Lepasin!” Aku mengibaskan tangannya dengan kasar.

“Itu uang yang ditukar dengan nyawa ibuku! Atas dasar apa aku nggak boleh ke sana?!”

Aku menerobos maju.

Namun kakiku mendadak lemas.

Tubuhku terhuyung ke depan tanpa kendali.

Brak!

Dahiku membentur pintu dengan keras.

Aku jatuh berlutut tepat di depan bangsal VIP milik Adira.

Pintu bangsal itu sedikit terbuka.

Tak ada seorang pun di dalamnya.

Langit-langit yang dibuat khusus menyerupai hamparan bintang berkelap-kelip indah. Berbagai peralatan medis canggih memenuhi seluruh ruangan.

Setiap sudut kemewahan di tempat ini…

Dibayar menggunakan darah dan daging ibuku.

Sedangkan di bangsal lamaku, semua barangnya rusak atau tidak berfungsi.

Bahkan ranjang rumah sakitku kehilangan satu kaki penyangga.

Aku sempat terjatuh karenanya hingga mengalami infeksi parah dan luka bernanah.

Nyawaku hampir hilang di meja operasi saat itu.

Aku sudah berkali-kali mengadukan hal itu pada Rey.

Namun tiap kali, dia selalu melupakannya begitu saja.

Perawat buru-buru menghampiriku, mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.

Aku menatap sekeliling bangsal yang kosong itu.

“Di mana mereka?”

“Rey… dan Adira?” tanyaku dengan suara serak.

Perawat itu mengatupkan bibirnya. Dia terlihat ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya berkata pelan.

“Dokter Rey sedang melakukan operasi untuk Nona Adira.”

“Nona Adira sebenarnya cuma sakit kepala karena masuk angin. Tapi Dokter Rey bersikeras kalau kondisinya nggak bisa ditunda. Bahkan semalam, Dokter Rey mengumpulkan dokter-dokter terbaik dari seluruh negeri untuk datang kemari.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 10

    Saat putusan pengadilan dijatuhkan, aku sedang menjalani rehabilitasi di klinik milik Farel.Rey dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.Adira juga dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan. Namun, karena mengalami tekanan yang terlalu berat, kondisi mentalnya benar-benar runtuh hingga akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa.Kini, setiap hari dia memeluk bantal sambil memanggil-manggil “anakku” seperti orang gila.Sementara itu, Rey yang mendekam di penjara seolah berpegang pada harapan terakhirnya dan mulai menulis surat kepadaku tanpa henti.Kotak suratku dipenuhi surat-surat tebal.Di setiap baris dan kalimat, hanya ada penyesalan dan permohonan yang memilukan.[Lana… di dalam sini aku menebus dosa-dosaku setiap hari. Aku mengukir namamu di dinding dengan batu. Jika aku mengukirnya sembilan puluh sembilan kali, maukah kau memaafkanku?Apa yang bisa Farel berikan padamu, aku juga bisa memberikannya. Setelah aku keluar nanti, aku akan memberikan segalanya untukmu. Kumohon… li

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 9

    Hanya dengan sekali melihat, aku langsung mengenali pria itu.Dia adalah Farel Hazki, dokter penanggung jawabku selama menjalani perawatan di luar negeri, sekaligus orang yang telah menarikku kembali dari ambang kematian.Jas dokter putih membalut tubuhnya dengan rapi, sementara kedua alisnya memancarkan ketenangan seperti biasa.“Kondisimu belum benar-benar pulih. Kenapa kamu bisa seceroboh ini?”Dengan hati-hati, Farel menopang lenganku dan melindungiku di belakang tubuhnya. Setelah itu, dia menghadap para wartawan yang berdesakan.“Semuanya… Nona Lana belum lama menjalani operasi pengangkatan tumor otak dan masih membutuhkan istirahat total. Mengenai detail kasus ini, pengacaranya akan memberikan pernyataan secara resmi. Mohon beri jalan.”Suaranya berat dan tegas.Statusnya sangat disegani dalam bidang medis. Meski para wartawan tampak enggan, tak seorang pun berani memaksa. Mereka akhirnya mundur beberapa langkah.Namun pemandangan itu terasa sangat menyakitkan di mata Rey.Meliha

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 8

    Saat mata pisau itu membelah udara, aku tak menghindar.Sebaliknya, aku justru memiringkan tubuh, mencengkeram pergelangan tangan Adira, lalu menekan lengannya ke bawah kuat-kuat.Jleb!Pisau bedah yang tajam itu tepat menusuk perutnya yang membuncit.Mata Adira membelalak.Kegilaan di wajahnya seketika membeku, berganti dengan rasa sakit yang luar biasa.Dia menunduk, menatap pisau yang tertancap di perutnya.Bibirnya bergetar. Namun, untuk beberapa saat, tak satu kata pun keluar.Darah perlahan merembes keluar di sepanjang gagang pisau, menodai gaunnya menjadi merah pekat.“Aaa… Anakkku!”Beberapa detik kemudian, jeritan pilu terdengar dari tenggorokannya.Dia memegangi perutnya dan tersungkur ke lantai. Tatapannya menancap tajam ke arahku, seolah ingin mencabikku hidup-hidup.“Lana! Bahkan kalau aku jadi hantu, aku nggak akan melepaskanmu!”“Oh? Kalau begitu, kamu harus turun lebih dulu dan bertanya pada anakku… apa dia mau melepaskanmu.”Rey seakan kehilangan seluruh tenaganya.Dia

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 7

    Rey terhuyung mundur setengah langkah.Kegembiraan yang semula terpancar di wajahnya seketika membeku, tergantikan oleh kepanikan dan ketidakpercayaan.“Lana… apa yang kamu katakan? Kapan aku pernah berbuat salah padamu? Aku jelas-jelas ingin menyelamatkanmu!”“Menyelamatkanku?”Aku mencibir dingin.Tatapanku menyapu ke arah kamera. Setiap kata terasa seperti terpaksa keluar dari sela-sela gigi.“Apa kamu sudah lupa? Demi Adira, kamu sudah sembilan puluh sembilan kali menunda operasiku!”“Apa kamu sudah lupa? Kamu mencuri uang yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawaku demi membiayai bangsal mewah Adira!”“Apa kamu sudah lupa? Kamu memaksa pasien kanker stadium akhir untuk hamil! Kamu berniat menggunakan anakku untuk menyelamatkan anak harammu dengan Adira!”Begitu kata-kata itu terucap, ruang operasi yang semula riuh seketika sunyi.Wajah Rey dan Adira berubah drastis dalam waktu yang bersamaan.Tubuh Rey gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, sementara bibirnya bergetar. Namu

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 6

    Lembaran kertas itu menghantam wajah Adira.Tepi kertas yang tajam menggores pipinya, meninggalkan beberapa luka tipis.Adira tertegun sekaligus geram. Sambil menutupi pipinya, dia mundur beberapa langkah. Air matanya langsung mengalir deras.“Rey! Apa aku pernah melakukan salah? Sampai kamu memperlakukanku seperti ini hanya karena wanita sialan itu?”“Wanita sialan?”Dua kata itu seketika menyulut sesuatu dalam diri Rey.Matanya memerah, dipenuhi amarah yang tak tertahankan.Dia mengangkat tangan, membawa semua penyesalan yang telah menumpuk, lalu menampar wajah Adira dengan keras.Plak!Suara tamparan yang nyaring bergema di bangsal yang sunyi.Adira terhuyung, kepalanya terlempar ke samping. Lima bekas jari tampak jelas di pipinya.Dia menatap Rey seolah tak percaya.“Kamu… kamu menamparku?”Barulah Rey tersadar atas apa yang baru saja dilakukannya.Melihat Adira menangis sambil memegang wajahnya, dia tiba-tiba merasa tubuhnya kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di lantai.Barulah

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 5

    “Aku tahu… dia selalu membenciku. Bahkan lebih memilih menggugurkan kandungannya daripada menyisakan sel punca untukku dan bayiku...”Adira menangis tersedu sembari mencengkeram lengan baju Rey.“Rey, aku takut… gimana kalau penyakitku kambuh lagi nanti? Kenapa dia bisa sekejam itu sama aku?”Rey menatap tajam ke arah bungkus obat aborsi yang tergeletak di tempat sampah. Sekejap, kepanikan yang muncul di matanya ditelan amarah yang meluap.Denga keras, dia menendang tiang infus di samping ranjang hingga terjatuh.“Nggak perlu takut. Sejauh apa pun dia kabur, pada akhirnya dia akan kembali sambil menangis, memohon agar aku menyelamatkannya.”…Beberapa hari kemudian, Rey seperti orang yang kehilangan kendali.Dia terus menggandeng Adira ke mana-mana, membawa wanita itu menembus sorot kamera dan kilatan flash media. Genggaman tangan mereka tak pernah terlepas, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia siapa wanita itu.Saat diwawancarai, Rey menatap Adira dengan sorot mata yang penuh

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status