Share

99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk
99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk
Penulis: Sanfa

Bab 1

Penulis: Sanfa
Aku mengidap glioma otak. Hidupku sudah berada di ujung tanduk.

Namun untungnya, suamiku sendiri, Rey, adalah seorang ahli bedah saraf yang jenius. Di seluruh negeri, hanya dia satu-satunya dokter yang berani mengambil tindakan untuk operasi ini.

Sayangnya, pria itu justru tega menunda operasiku sebanyak sembilan puluh sembilan kali.

Setiap kali prosesnya akan dimulai, semuanya harus terhenti hanya karena Adira mengeluh sakit kepala.

Kecepatan pertumbuhan tumor di kepalaku jauh di luar perkiraan. Pada penundaan yang ke-99, rasa sakit yang kurasakan begitu menusuk hingga ke tulang.

Aku berlutut di hadapannya, memohon dengan suara gemetar.

“Rey… jangan ditunda lagi. Aku benar-benar nggak sanggup lagi...”

Namun Rey bahkan tak melirikku.

Dia berbalik dan melangkah pergi.

“Jaga sikapmu, Lana. Aku dokter. Aku harus bertanggung jawab pada setiap pasien.”

Rasa sakit seketika menelanku. Aku memeluk kepala yang terasa seperti akan pecah sambil menangis histeris.

Sementara itu, seorang perawat yang memegang hasil pemeriksaanku hanya bisa menggeleng pelan sambil menghela napas berat.

“Ini sudah nggak bisa ditunda lagi. Kalau minggu ini belum juga dilakukan operasi, pasien hanya tinggal menunggu ajal.”

Tangisku mendadak tercekat di tenggorokan.

Aku terkulai lemas di atas lantai yang dingin.

Namun tanpa sadar, sudut bibirku justru terangkat membentuk senyum getir yang menyedihkan.

Bagaimana bisa aku sebodoh ini?

Aku tahu di mata Rey hanya ada Adira.

Aku tahu hidup dan matiku sama sekali tak berarti baginya.

Namun, aku masih saja menggenggam harapan semu yang menyedihkan itu. Bahkan rela mempertaruhkan nyawaku sendiri demi memercayainya.

Kali ini, aku benar-benar tak bisa menunggu lagi.

Dengan tangan yang gemetar, aku menghubungi seseorang.

Sambil terisak, aku berkata, “Aku setuju bergabung dengan tim eksperimen itu. Tiga hari lagi, kirim orang untuk menjemputku.”

Setelah sambungan telepon terputus, aku menahan rasa sakit dan merangkak naik ke ranjang pasien dengan tubuh gontai.

Apa aku harus menunggu lagi?

Sama seperti sembilan puluh delapan kali sebelumnya?

Menunggu sampai Rey selesai menenangkan Adira.

Menunggu sampai dia datang dengan santai, membawa aroma parfum asing yang menyengat di tubuhnya. Lalu berkata dengan nada meremehkan, “Lagi-lagi kamu merajuk, Lana.”

Seolah dari awal sampai akhir, akulah satu-satunya orang yang membuat masalah tanpa alasan.

Aku menatap tajam langit-langit kamar.

Teringat akan ekspresi wajah Rey yang selalu dingin dan acuh setiap kali menunda operasiku.

Padahal dulu, dia tak seperti ini.

Saat pertama kali mengetahui aku mengidap glioma, Rey memelukku dan menangis semalaman.

“Lana… apa pun taruhannya, aku pasti akan menyembuhkanmu.”

Setelah itu, dia menjual perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah, tanpa ragu beralih mempelajari ilmu kedokteran.

Untuk meneliti dan mengembangkan obat khusus itu, dia bahkan hampir menghabiskan seluruh asetnya.

Lalu bagaimana mungkin…

Rey yang dulu rela bangkrut demi menyelamatkanku kini berubah menjadi pria seperti sekarang?

Hanya karena satu kalimat dari Adira, dia tega membiarkanku tersiksa perlahan hingga mati.

Kenangan masa lalu dan kenyataan saat ini saling berbenturan liar dalam benakku.

Rey yang memelukku sambil menangis tersedu.

Atau Rey yang mencampakkanku di ruang operasi?

Sebenarnya…

Yang mana dirimu sesungguhnya?

Tiba-tiba rasa sakit di kepalaku kembali memuncak.

Rasanya seperti jutaan semut sedang melubangi dan menggerogoti tengkorakku.

Tubuhku langsung kejang-kejang.

“Suster!”

“Suster!”

“Obat Pereda nyeri! Cepat kasih aku obat pereda nyeri!”

Aku berteriak sekuat tenaga hingga suaraku nyaris serak.

Keringat dingin bercampur air mata mengalir tanpa henti, sementara pandanganku perlahan menggelap.

Perawat yang mendengar teriakanku segera berlari masuk.

Namun tatapannya tampak menghindar, tak berani menatapku. Ucapannya pun terbata-bata.

“Nona Lana… stok obat pereda nyeri… sudah nggak cukup lagi.”

“Nggak cukup?”

Aku langsung menopang tubuhku dan berdiri.

Dalam penglihatan yang masih kabur, aku menatapnya tajam.

Perawat itu hanya menundukkan kepala dengan wajah penuh rasa bersalah.

Detik berikutnya, amarahku yang meluap membuat tubuhku gemetar hebat.

Bahkan obat pereda nyeri pun harus dihemat?

Rupanya, Rey memang ingin melihatku mati kesakitan!

Dalam keputusasaan, aku membenturkan kepalaku ke sudut dinding sekuat tenaga.

Brak!

Suara benturan keras bergema di ruangan, meredam jeritan histeris perawat.

“Rey! Kalau kamu punya nyali, biarkan aku mati di depanmu!”

Perawat itu langsung panik. Dia buru-buru maju mendekap pinggangku erat-erat.

“Nona Lana! Jangan begini!”

“Aku akan cari obatnya sekarang juga! Aku pasti menemukannya!”

Bahkan apotek rumah sakit saja sudah kehabisan.

Memangnya dia bisa mencarinya ke mana?

Aku kembali meronta, berusaha membenturkan diri sekali lagi.

Namun tiba-tiba…

Brak!

Pintu bangsal didobrak dengan keras.

Rey muncul dari balik pintu.

Melihat pemandangan di depannya, pupil matanya langsung menyusut tajam.

Dia bergegas menghampiriku dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Lana! Hentikan!”

Aroma parfum yang tak kukenal menusuk hidungku.

Aku terus meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.

“Lepasin aku!”

“Kamu mau lihat aku mati, ‘kan? Jadi buat apa sekarang pura-pura peduli?”

Semua kebencian yang selama ini kupendam akhirnya meledak keluar.

Rasanya aku ingin merobek topeng munafik di wajahnya.

Rey menarikku ke dalam pelukannya.

Tubuhnya gemetar saat bibirnya berulang kali mengecup air mata di wajahku.

“Lana, jangan lakuin hal bodoh!”

“Mana mungkin aku tega melihatmu mati, hah!”

Sorot matanya dipenuhi kelembutan.

Seluruh wajahnya memancarkan kecemasan yang mendalam.

Sayangnya, tumor ini sudah menekan saraf retinaku, membuatku berada di ambang kebutaan.

Sudah lama memang aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kalau terlalu banyak pakai obat pereda nyeri, tubuhmu bisa kesulitan menghadapi operasi.”

“Aku sudah menyuruh asistenku mengurus obat impor secepat mungkin. Obatnya akan sampai malam ini.”

Melihatku mulai sedikit tenang, Rey menempelkan dagunya di atas kepalaku.

Nada suaranya rendah dan serak.

Terdengar begitu lembut.

“Tenang, jangan sakiti diri sendiri lagi.”

“Kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku gimana?”

“Tahan sebentar lagi, ya. Setelah obat impornya sampai, sakitnya pasti hilang.”

“Dengerin aku, ya?”

Hembusan napas hangatnya menyapu telingaku.

Aku menggunakan sisa pendengaranku yang ada untuk mencerna kata-katanya.

Setiap kali.

Selalu seperti ini.

Setelah melukaiku begitu dalam, dia akan kembali berpura-pura peduli.

Melihatku perlahan berhenti meronta, Rey akhirnya membuka mulut.

Nada suaranya tampak hati-hati.

“Adira mendadak sakit kepala lagi.”

“Kamu masih punya satu dosis obat pereda nyeri cadangan, ‘kan?”

“Kasih dia dulu untuk keadaan darurat… boleh?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 10

    Saat putusan pengadilan dijatuhkan, aku sedang menjalani rehabilitasi di klinik milik Farel.Rey dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.Adira juga dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan. Namun, karena mengalami tekanan yang terlalu berat, kondisi mentalnya benar-benar runtuh hingga akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa.Kini, setiap hari dia memeluk bantal sambil memanggil-manggil “anakku” seperti orang gila.Sementara itu, Rey yang mendekam di penjara seolah berpegang pada harapan terakhirnya dan mulai menulis surat kepadaku tanpa henti.Kotak suratku dipenuhi surat-surat tebal.Di setiap baris dan kalimat, hanya ada penyesalan dan permohonan yang memilukan.[Lana… di dalam sini aku menebus dosa-dosaku setiap hari. Aku mengukir namamu di dinding dengan batu. Jika aku mengukirnya sembilan puluh sembilan kali, maukah kau memaafkanku?Apa yang bisa Farel berikan padamu, aku juga bisa memberikannya. Setelah aku keluar nanti, aku akan memberikan segalanya untukmu. Kumohon… li

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 9

    Hanya dengan sekali melihat, aku langsung mengenali pria itu.Dia adalah Farel Hazki, dokter penanggung jawabku selama menjalani perawatan di luar negeri, sekaligus orang yang telah menarikku kembali dari ambang kematian.Jas dokter putih membalut tubuhnya dengan rapi, sementara kedua alisnya memancarkan ketenangan seperti biasa.“Kondisimu belum benar-benar pulih. Kenapa kamu bisa seceroboh ini?”Dengan hati-hati, Farel menopang lenganku dan melindungiku di belakang tubuhnya. Setelah itu, dia menghadap para wartawan yang berdesakan.“Semuanya… Nona Lana belum lama menjalani operasi pengangkatan tumor otak dan masih membutuhkan istirahat total. Mengenai detail kasus ini, pengacaranya akan memberikan pernyataan secara resmi. Mohon beri jalan.”Suaranya berat dan tegas.Statusnya sangat disegani dalam bidang medis. Meski para wartawan tampak enggan, tak seorang pun berani memaksa. Mereka akhirnya mundur beberapa langkah.Namun pemandangan itu terasa sangat menyakitkan di mata Rey.Meliha

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 8

    Saat mata pisau itu membelah udara, aku tak menghindar.Sebaliknya, aku justru memiringkan tubuh, mencengkeram pergelangan tangan Adira, lalu menekan lengannya ke bawah kuat-kuat.Jleb!Pisau bedah yang tajam itu tepat menusuk perutnya yang membuncit.Mata Adira membelalak.Kegilaan di wajahnya seketika membeku, berganti dengan rasa sakit yang luar biasa.Dia menunduk, menatap pisau yang tertancap di perutnya.Bibirnya bergetar. Namun, untuk beberapa saat, tak satu kata pun keluar.Darah perlahan merembes keluar di sepanjang gagang pisau, menodai gaunnya menjadi merah pekat.“Aaa… Anakkku!”Beberapa detik kemudian, jeritan pilu terdengar dari tenggorokannya.Dia memegangi perutnya dan tersungkur ke lantai. Tatapannya menancap tajam ke arahku, seolah ingin mencabikku hidup-hidup.“Lana! Bahkan kalau aku jadi hantu, aku nggak akan melepaskanmu!”“Oh? Kalau begitu, kamu harus turun lebih dulu dan bertanya pada anakku… apa dia mau melepaskanmu.”Rey seakan kehilangan seluruh tenaganya.Dia

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 7

    Rey terhuyung mundur setengah langkah.Kegembiraan yang semula terpancar di wajahnya seketika membeku, tergantikan oleh kepanikan dan ketidakpercayaan.“Lana… apa yang kamu katakan? Kapan aku pernah berbuat salah padamu? Aku jelas-jelas ingin menyelamatkanmu!”“Menyelamatkanku?”Aku mencibir dingin.Tatapanku menyapu ke arah kamera. Setiap kata terasa seperti terpaksa keluar dari sela-sela gigi.“Apa kamu sudah lupa? Demi Adira, kamu sudah sembilan puluh sembilan kali menunda operasiku!”“Apa kamu sudah lupa? Kamu mencuri uang yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawaku demi membiayai bangsal mewah Adira!”“Apa kamu sudah lupa? Kamu memaksa pasien kanker stadium akhir untuk hamil! Kamu berniat menggunakan anakku untuk menyelamatkan anak harammu dengan Adira!”Begitu kata-kata itu terucap, ruang operasi yang semula riuh seketika sunyi.Wajah Rey dan Adira berubah drastis dalam waktu yang bersamaan.Tubuh Rey gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, sementara bibirnya bergetar. Namu

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 6

    Lembaran kertas itu menghantam wajah Adira.Tepi kertas yang tajam menggores pipinya, meninggalkan beberapa luka tipis.Adira tertegun sekaligus geram. Sambil menutupi pipinya, dia mundur beberapa langkah. Air matanya langsung mengalir deras.“Rey! Apa aku pernah melakukan salah? Sampai kamu memperlakukanku seperti ini hanya karena wanita sialan itu?”“Wanita sialan?”Dua kata itu seketika menyulut sesuatu dalam diri Rey.Matanya memerah, dipenuhi amarah yang tak tertahankan.Dia mengangkat tangan, membawa semua penyesalan yang telah menumpuk, lalu menampar wajah Adira dengan keras.Plak!Suara tamparan yang nyaring bergema di bangsal yang sunyi.Adira terhuyung, kepalanya terlempar ke samping. Lima bekas jari tampak jelas di pipinya.Dia menatap Rey seolah tak percaya.“Kamu… kamu menamparku?”Barulah Rey tersadar atas apa yang baru saja dilakukannya.Melihat Adira menangis sambil memegang wajahnya, dia tiba-tiba merasa tubuhnya kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di lantai.Barulah

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 5

    “Aku tahu… dia selalu membenciku. Bahkan lebih memilih menggugurkan kandungannya daripada menyisakan sel punca untukku dan bayiku...”Adira menangis tersedu sembari mencengkeram lengan baju Rey.“Rey, aku takut… gimana kalau penyakitku kambuh lagi nanti? Kenapa dia bisa sekejam itu sama aku?”Rey menatap tajam ke arah bungkus obat aborsi yang tergeletak di tempat sampah. Sekejap, kepanikan yang muncul di matanya ditelan amarah yang meluap.Denga keras, dia menendang tiang infus di samping ranjang hingga terjatuh.“Nggak perlu takut. Sejauh apa pun dia kabur, pada akhirnya dia akan kembali sambil menangis, memohon agar aku menyelamatkannya.”…Beberapa hari kemudian, Rey seperti orang yang kehilangan kendali.Dia terus menggandeng Adira ke mana-mana, membawa wanita itu menembus sorot kamera dan kilatan flash media. Genggaman tangan mereka tak pernah terlepas, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia siapa wanita itu.Saat diwawancarai, Rey menatap Adira dengan sorot mata yang penuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status