Teilen

Bab 4

Sanfa
Entah sudah berapa lama berlalu, akhirnya aku tersadar.

Seluruh tubuhku terasa nyeri luar biasa, terutama di bagian bawah tubuhku.

Dengan susah payah, aku membuka kelopak mata.

Di tepi ranjang, Rey langsung meraih dan memelukku dengan cemas.

“Lana, maafkan aku… aku terlambat menyelamatkanmu. Sampai membuatmu harus menderita epilepsi seumur hidup.”

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Namun yang kulihat justru senyumnya saat dia berbicara.

“Jadi… sebagai kompensasi untukmu, aku memutuskan untuk punya anak denganmu.”

Punya anak?

Bagaimana mungkin aku masih mau memiliki anak dengannya?

“Dokter bilang sel punca embrio milikmu punya kecocokan yang sangat tinggi. Itu bisa membantu memperbaiki kondisi tubuh Adira.”

Sekejap, pikiranku kosong.

Darah di seluruh tubuhku seperti membeku.

Ternyata… Rey ingin mengambil anakku untuk dijadikan obat bagi Adira!

Aku meronta dengan sekuat tenaga, ingin sekali menerjangnya dan mencabik-cabiknya.

Rey justru mencondongkan tubuhnya, menekan pergelangan tanganku yang memberontak.

“Jangan banyak bergerak. Selagi kamu nggak sadarkan diri tadi, sel telur yang sudah dibuahi telah ditanamkan ke rahimmu. Sekarang embrionya sudah sangat stabil.”

Aku sontak menundukkan kepala, menatap perutku.

Di dalam sana, sedang tumbuh sebuah kehidupan.

Bahkan sebelum sempat lahir ke dunia, dia sudah dijadikan alat penyembuhan.

Rasa panik yang luar biasa mencengkeram jantungku. Epilepsiku tiba-tiba kambuh, tubuhku kejang tanpa kendali.

Rey tahu betul… kehamilan hanya akan mempercepat pertumbuhan sel kanker di tubuhku.

Aku sendiri bahkan tak akan mampu bertahan melewati minggu ini.

Dengan adanya bayi ini… mungkin bahkan malam ini pun aku tak sanggup bertahan.

“Kamu tahu betul bahwa aku akan mati kalau hamil...”

Aku kejang-kejang, memaksa kata-kata itu keluar. Busa putih tak henti keluar dari mulutku.

Namun Rey tiba-tiba melepaskan cengkeramannya di tanganku.

Dia merogoh sebuah kotak beludru dari sakunya, lalu menghempaskannya keras ke meja nakas.

“Lana… setelah ibumu meninggal karena kecelakaan, abu jenazahnya belum dimakamkan, ‘kan? Masih kamu simpan?”

Dia membuka kotak itu.

Lalu, menabur segenggam abu ke dalam tempat sampah.

“Kalau kamu berani menggugurkan anak ini… sisa abunya akan kubuang ke saluran pembuangan. Biar ibumu nggak punya kesempatan untuk bereinkarnasi!”

Tubuhku seketika menegang.

Kejang di tubuhku langsung terhenti.

Aku menangis sejadi-jadinya, mencengkeram ujung bajunya erat-erat.

“Rey… kumohon! Jangan sentuh abu ibuku! Aku mohon!”

Dulu… saat pemakaman ibuku, Rey bahkan bersujud di makam ibu, matanya memerah, berjanji akan menjagaku dengan baik.

Namun sekarang, dia justru tega menaburkan abu ibuku ke tempat sampah.

Rey tampaknya juga teringat akan kejadian itu. Di matanya sempat terlintas sedikit keraguan.

Tepat pada saat itu, pintu bangsal terbuka perlahan.

Adira masuk sambil memegangi pinggangnya, memperlihatkan perut yang sudah sedikit membuncit.

“Wah, Nona Lana sudah sadar?”

Dia melangkah ke sisi ranjang, sengaja memamerkan perutnya tepat di depan mataku.

“Ngomong-ngomong, aku harus berterima kasih padamu. Nanti kalau bayiku lahir dengan selamat, dia harus memanggilmu ‘ibu donor’.”

Kalimat itu baru saja selesai.

Aku langsung melepaskan diri dari kekangan dan mengayunkan tangan sekuat tenaga untuk menamparnya.

Namun, sebelum tanganku sempat menyentuh wajahnya, Rey lebih dulu mencengkeram pergelangan tanganku.

Detik berikutnya, tangannya yang lain mencekik leherku, lalu menghempaskan tubuhku kembali ke ranjang.

“Kamu jahat sekali, Lana! Adira datang baik-baik menjengukmu, tapi kamu malah ingin menamparnya!”

“Untung aku belum melakukan operasi untuk menyelamatkanmu. Orang sepertimu memang nggak pantas ditolong!”

Ya…

Aku juga sangat menyesal.

Kenapa dulu… saat truk itu menerjang, aku justru memilih maju ke depan dan melindunginya?

Hingga aku sendiri mengalami cedera otak parah dan berkembang menjadi glioma.

Besok adalah hari yang sudah disepakati… sekaligus satu-satunya jalan hidupku yang tersisa.

Di tengah malam yang sunyi, aku diam-diam menelan obat aborsi… lalu meninggalkan rumah sakit.

Namun, saat melewati bangsal VIP di sebelah…

Tanpa sengaja aku melihat mereka.

Rey sedang berlutut, mengecup perut Adira dengan penuh kasih sayang.

Namun, apa hubungannya hal itu denganku?

Aku menatap darah yang terus mengalir dari bagian bawah tubuhku, lalu tersenyum pahit pada diriku sendiri.

Keesokan harinya, Rey datang pagi-pagi sekali untuk memeriksa kondisi janin di rahimku.

Pintu pun dibuka, tapi yang terlihat hanya bangsal yang kosong.

“Di mana dia?”

Dia menoleh dengan heran, menatap tajam perawat di ambang pintu yang wajahnya sudah memucat.

Aura dingin pria itu membuat perawat ketakutan hingga lututnya lemas.

“Dok… Dokter Rey, sekitar jam tiga pagi tadi, Nona Lana bilang dadanya sesak dan ingin keluar mencari udara segar. Kami sudah mencoba menahannya, tapi dia…”

“Mencari udara segar?”

Alis Rey langsung mengerut tajam.

Saat hendak memberi perintah untuk menyelidiki, pintu bangsal justru terbuka perlahan.

Adira masuk sambil menguap, lalu tanpa sengaja mengalihkan pandangannya ke arah tempat sampah. Seketika dia terkejut.

“Rey! Lihat itu!”

Rey mengikuti arah pandangannya.

Raut wajahnya seketika berubah.

Di dalam sana, jelas terlihat sebuah kemasan obat aborsi yang menyilaukan mata.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 10

    Saat putusan pengadilan dijatuhkan, aku sedang menjalani rehabilitasi di klinik milik Farel.Rey dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.Adira juga dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan. Namun, karena mengalami tekanan yang terlalu berat, kondisi mentalnya benar-benar runtuh hingga akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa.Kini, setiap hari dia memeluk bantal sambil memanggil-manggil “anakku” seperti orang gila.Sementara itu, Rey yang mendekam di penjara seolah berpegang pada harapan terakhirnya dan mulai menulis surat kepadaku tanpa henti.Kotak suratku dipenuhi surat-surat tebal.Di setiap baris dan kalimat, hanya ada penyesalan dan permohonan yang memilukan.[Lana… di dalam sini aku menebus dosa-dosaku setiap hari. Aku mengukir namamu di dinding dengan batu. Jika aku mengukirnya sembilan puluh sembilan kali, maukah kau memaafkanku?Apa yang bisa Farel berikan padamu, aku juga bisa memberikannya. Setelah aku keluar nanti, aku akan memberikan segalanya untukmu. Kumohon… li

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 9

    Hanya dengan sekali melihat, aku langsung mengenali pria itu.Dia adalah Farel Hazki, dokter penanggung jawabku selama menjalani perawatan di luar negeri, sekaligus orang yang telah menarikku kembali dari ambang kematian.Jas dokter putih membalut tubuhnya dengan rapi, sementara kedua alisnya memancarkan ketenangan seperti biasa.“Kondisimu belum benar-benar pulih. Kenapa kamu bisa seceroboh ini?”Dengan hati-hati, Farel menopang lenganku dan melindungiku di belakang tubuhnya. Setelah itu, dia menghadap para wartawan yang berdesakan.“Semuanya… Nona Lana belum lama menjalani operasi pengangkatan tumor otak dan masih membutuhkan istirahat total. Mengenai detail kasus ini, pengacaranya akan memberikan pernyataan secara resmi. Mohon beri jalan.”Suaranya berat dan tegas.Statusnya sangat disegani dalam bidang medis. Meski para wartawan tampak enggan, tak seorang pun berani memaksa. Mereka akhirnya mundur beberapa langkah.Namun pemandangan itu terasa sangat menyakitkan di mata Rey.Meliha

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 8

    Saat mata pisau itu membelah udara, aku tak menghindar.Sebaliknya, aku justru memiringkan tubuh, mencengkeram pergelangan tangan Adira, lalu menekan lengannya ke bawah kuat-kuat.Jleb!Pisau bedah yang tajam itu tepat menusuk perutnya yang membuncit.Mata Adira membelalak.Kegilaan di wajahnya seketika membeku, berganti dengan rasa sakit yang luar biasa.Dia menunduk, menatap pisau yang tertancap di perutnya.Bibirnya bergetar. Namun, untuk beberapa saat, tak satu kata pun keluar.Darah perlahan merembes keluar di sepanjang gagang pisau, menodai gaunnya menjadi merah pekat.“Aaa… Anakkku!”Beberapa detik kemudian, jeritan pilu terdengar dari tenggorokannya.Dia memegangi perutnya dan tersungkur ke lantai. Tatapannya menancap tajam ke arahku, seolah ingin mencabikku hidup-hidup.“Lana! Bahkan kalau aku jadi hantu, aku nggak akan melepaskanmu!”“Oh? Kalau begitu, kamu harus turun lebih dulu dan bertanya pada anakku… apa dia mau melepaskanmu.”Rey seakan kehilangan seluruh tenaganya.Dia

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 7

    Rey terhuyung mundur setengah langkah.Kegembiraan yang semula terpancar di wajahnya seketika membeku, tergantikan oleh kepanikan dan ketidakpercayaan.“Lana… apa yang kamu katakan? Kapan aku pernah berbuat salah padamu? Aku jelas-jelas ingin menyelamatkanmu!”“Menyelamatkanku?”Aku mencibir dingin.Tatapanku menyapu ke arah kamera. Setiap kata terasa seperti terpaksa keluar dari sela-sela gigi.“Apa kamu sudah lupa? Demi Adira, kamu sudah sembilan puluh sembilan kali menunda operasiku!”“Apa kamu sudah lupa? Kamu mencuri uang yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawaku demi membiayai bangsal mewah Adira!”“Apa kamu sudah lupa? Kamu memaksa pasien kanker stadium akhir untuk hamil! Kamu berniat menggunakan anakku untuk menyelamatkan anak harammu dengan Adira!”Begitu kata-kata itu terucap, ruang operasi yang semula riuh seketika sunyi.Wajah Rey dan Adira berubah drastis dalam waktu yang bersamaan.Tubuh Rey gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, sementara bibirnya bergetar. Namu

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 6

    Lembaran kertas itu menghantam wajah Adira.Tepi kertas yang tajam menggores pipinya, meninggalkan beberapa luka tipis.Adira tertegun sekaligus geram. Sambil menutupi pipinya, dia mundur beberapa langkah. Air matanya langsung mengalir deras.“Rey! Apa aku pernah melakukan salah? Sampai kamu memperlakukanku seperti ini hanya karena wanita sialan itu?”“Wanita sialan?”Dua kata itu seketika menyulut sesuatu dalam diri Rey.Matanya memerah, dipenuhi amarah yang tak tertahankan.Dia mengangkat tangan, membawa semua penyesalan yang telah menumpuk, lalu menampar wajah Adira dengan keras.Plak!Suara tamparan yang nyaring bergema di bangsal yang sunyi.Adira terhuyung, kepalanya terlempar ke samping. Lima bekas jari tampak jelas di pipinya.Dia menatap Rey seolah tak percaya.“Kamu… kamu menamparku?”Barulah Rey tersadar atas apa yang baru saja dilakukannya.Melihat Adira menangis sambil memegang wajahnya, dia tiba-tiba merasa tubuhnya kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di lantai.Barulah

  • 99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk   Bab 5

    “Aku tahu… dia selalu membenciku. Bahkan lebih memilih menggugurkan kandungannya daripada menyisakan sel punca untukku dan bayiku...”Adira menangis tersedu sembari mencengkeram lengan baju Rey.“Rey, aku takut… gimana kalau penyakitku kambuh lagi nanti? Kenapa dia bisa sekejam itu sama aku?”Rey menatap tajam ke arah bungkus obat aborsi yang tergeletak di tempat sampah. Sekejap, kepanikan yang muncul di matanya ditelan amarah yang meluap.Denga keras, dia menendang tiang infus di samping ranjang hingga terjatuh.“Nggak perlu takut. Sejauh apa pun dia kabur, pada akhirnya dia akan kembali sambil menangis, memohon agar aku menyelamatkannya.”…Beberapa hari kemudian, Rey seperti orang yang kehilangan kendali.Dia terus menggandeng Adira ke mana-mana, membawa wanita itu menembus sorot kamera dan kilatan flash media. Genggaman tangan mereka tak pernah terlepas, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia siapa wanita itu.Saat diwawancarai, Rey menatap Adira dengan sorot mata yang penuh

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status