Mendengar ucapan itu, rasa bersalah di wajah Vivi Chandra langsung lenyap.Dia berdiri, lalu menunjuk putra kami dengan penuh kekecewaan dan mempertanyakanku, "Reno, begini caramu mendidik anak selama ini?"Aku dengan tenang menarik putra kami ke belakang punggungku."Memangnya ada yang salah? Kalau nggak dapat kasih sayang, paling nggak dapat uang.""Setidaknya, dia nggak perlu sampai cerai satu kali dulu kayak aku, baru bisa paham kenyataan ini."Vivi langsung diam seribu bahasa.Saat itu, ponselnya kembali berdering.Suara anak perempuan Bryan Pratama terdengar dari seberang telepon."Bibi Vivi, cepetan kesini dong! 'Kan kemarin udah janji mau nemenin Caca naik roller coaster Decepticon sampai seratus kali!"Putraku mencengkeram erat ujung bajuku.Menyadari pergerakan putranya, Vivi untuk pertama kalinya tidak langsung mengiyakan ajakan itu.Dia mengulurkan tangan, berniat mengelus kepala putra kami."Dion sayang, hari ini kamu ke rumah sakit dulu sama Ayah, ya.""Nanti kalau kamu u
Read more