공유

Bab 4

작가: Tiger
Aku menoleh ke dalam ruang operasi. Dada putraku sudah dalam kondisi terbedah.

Sementara itu, layar monitor jantung di dekatnya hanya menunjukkan grafik lemah yang naik turun dengan sangat lambat.

Dokter itu berusaha melepaskan tanganku.

"Putri Bu Vivi mendadak mengalami alergi parah. Semua dokter di rumah sakit ini dikerahkan untuk menyelamatkannya, jadi operasi ini terpaksa ditunda dulu."

"Kalian nggak boleh pergi!"

Suaraku bergetar hebat menahan tangis dan amarah. Dengan tangan gemetaran, aku mengeluarkan kartu ATM dari dompetku.

"Berapa banyak uang yang dia kasih ke kalian? Aku bayar dua kali lipat! Selesaikan dulu operasi anakku!"

Karena takut dianggap kurang, aku buru-buru mengeluarkan ponsel untuk segera mentransfer uang.

Saat itulah aku baru bisa membaca dengan jelas catatan pada notifikasi pesan transferan yang masuk tadi.

Uang itu ternyata adalah biaya dari Vivi untuk menyewa para dokter ini agar pergi dari sana.

"Pak, ini bukan masalah uang."

"Kami cuma takut kehilangan pekerjaan kami."

Tak peduli seberapa banyak aku berlutut, bersujud, dan memohon, para dokter itu tetap melepaskan jari-jariku satu demi satu dari pakaian mereka, lalu melangkah pergi.

Putraku terbaring seorang diri di atas meja operasi yang dingin.

Padahal, hanya tinggal setengah jam lagi bagi dirinya untuk bisa menyambut kehidupan yang baru.

Akan tetapi, sekarang, gara-gara ibu kandungnya sendiri, dia terpaksa terlantar dengan dada yang masih terbuka, hanya bisa menunggu ajal menjemput.

Di saat itulah, sebuah pesan dari Bryan mendadak masuk.

Dalam foto yang dikirimkannya, tubuh Caca sebenarnya hanya dipenuhi sedikit ruam merah.

Akan tetapi, kamar rawat inapnya dipenuhi oleh barisan dokter yang berkerumun dari berbagai sisi.

Vivi tampak duduk di tepi ranjang, menyuapi Caca sepotong kue blueberry kesukaan putraku.

Nada bicara Bryan dalam pesan itu benar-benar penuh kemenangan.

[Reno, bukannya kamu kemarin sok murah hati? Bilang cuma butuh uang dan nggak butuh orangnya lagi?]

[Gimana rasanya nonton anak sendiri mati pelan-pelan di depan mata?]

[Kalau dulu kamu nggak minta rujuk, aku mungkin bakal berbaik hati kasih kalian sedikit uang buat investasi pahala anakku.]

[Jadi, kalau mau nyalahin orang, salahin aja diri kamu sendiri yang nggak tahu diri. Demi akta nikah dan status resmi yang menyedihkan itu, kamu malah numbalin nyawa anakmu sendiri.]

Aku mencengkeram ponselku begitu kuat sampai rasanya mau hancur.

Waktu terus bergulir menit demi menit. Kalau terus-terusan ditunda sampai efek obat biusnya habis, anakku bisa mati perlahan karena menahan rasa sakit yang luar biasa.

Aku mencoba menghubungi nomor Vivi berulang kali.

Akan tetapi, tidak ada satu pun panggilan yang tersambung.

Melihat grafik detak jantung putraku di layar monitor yang makin lama makin melemah, aku menyalakan kamera ponsel untuk merekam video, lalu bersujud menghadap ke arah kamera.

"Bryan, aku serahin Vivi buat kamu. Aku mohon, suruh para dokter itu balik ke sini, ya?"

"Semua uang yang pernah Vivi transfer ke aku, bakal aku kasih semuanya buat kamu!"

"Begitu operasi anakku selesai, aku janji bakal pergi jauh dan menghilang selamanya! Aku nggak akan pernah lagi mengganggu kebahagiaan kalian bertiga!"

Baru saja video itu kukirim, detik berikutnya telepon dari Vivi langsung masuk.

Begitu panggilan tersambung, suaranya di seberang sana terdengar meledak-ledak penuh amarah.

"Reno! Aku jelas-jelas cuma manggil dua asisten dokter, bisa-bisanya kamu sandiwara kayak gitu di sana!"

"Demi menjebak Bryan, kamu bahkan tega numbalin nyawa anak kandungmu sendiri, iya?"

Di dekatnya, Bryan menyahut dengan suara tercekat menahan tangis, "Vivi, ini semua salah Caca yang mendadak alergi pas Dion lagi operasi. Gara-gara ini, kamu jadi nggak bisa nemenin Kak Reno di sana."

Mendengar itu, Vivi langsung merasa mendapat jawaban.

"Reno, kamu bikin drama kayak begini, jangan-jangan cuma mau nyindir aku karena belum bayar uang sewa ke kamu, ya?"

"Mending namamu nggak usah pakai marga lagi deh, ganti aja langsung jadi Duit!"

Sambungan telepon itu mendadak diputus secara sepihak.

Bersamaan dengan masuknya notifikasi pesan transferan uang, berbagai pemberitaan media langsung meledak dan membanjiri jagat maya.

[Reno Sudah Buta karena Uang. Istri, Makam Leluhur, hingga Nyawa Anak Kandung Rela Disewakan Demi Uang!]

[Benar-Benar Tak Punya Hati! Sengaja Menghentikan Operasi Dada Putranya Hanya Demi Merekam Video Rekayasa untuk Memeras Uang?]

Dengan tangan yang bergetar hebat, aku segera menghubungi nomor darurat rumah sakit lain, berharap bisa mendatangkan dokter dari sana.

Akan tetapi, mobil ambulans yang dikirim justru tertahan di luar, terhalang oleh kerumunan awak media yang berbondong-bondong datang untuk meliput.

Aku mengambil pisau bedah yang tergeletak di dekatku, lalu mengayunkannya ke udara seperti orang gila.

Hanya demi membuka jalan keluar agar putraku bisa bertahan hidup.

...

Di tempat lain, Vivi mulai merasa tidak tenang.

Dia terus-menerus membuka ulang berita yang beredar dengan diliputi keraguan.

"Gimana pun juga, Dion 'kan lagi dioperasi, apa tindakanku ini keterlaluan, ya?"

Melihat Caca yang tampak sangat bugar dan lincah di atas ranjang rumah sakit, Vivi akhirnya bangkit berdiri dan bergegas menuju ruang operasi.

Akan tetapi, begitu tiba di lokasi, pemandangan di depan matanya seketika membuat kedua lututnya lemas dan hampir jatuh berlutut.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 9

    Roda kehidupan benar-benar berputar, hukum tabur tuai itu nyata.Aku tidak mengembalikan saham yang diberikan.Ini sudah menjadi hak yang memang pantas didapatkan oleh putraku.Setelah pemeriksaan rutin selesai, aku membawa putraku terbang kembali ke Serenia Utara.Ternyata putraku memiliki bakat melukis yang luar biasa.Aku pun mencarikannya guru khusus untuk membimbing dan mengembangkan bakatnya tersebut.Setiap lukisannya selalu kukumpulkan satu per satu dan kusimpan dengan hati-hati.Aku bahkan sengaja mendaftarkan sebuah akun media sosial untuknya.Semua hasil pemindaian dari lukisannya kuunggah ke akun itu.Dalam waktu singkat, akun itu berhasil mendapatkan banyak pengikut.Saat putraku menginjak usia 13 tahun, namanya sudah mulai dikenal oleh banyak orang.Aku pun menggelar sebuah pameran lukisan untuknya di tanah air.Yang tidak kusangka adalah jumlah pengunjung yang datang ke lokasi pameran jauh melampaui perkiraanku.Sejak pameran itu, kepercayaan diri putraku melonjak drasti

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 8

    Aku menoleh dengan terkejut, baru menyadari putraku entah sejak kapan sudah turun dari mobil.Dia menarik ujung bajuku dengan wajah yang tampak polos dan kebingungan.Wajah Vivi seketika pucat pasi."Dion, barusan kamu ngomong apa?""Aku ini ibumu. Kamu pasti masih marah sama Ibu, 'kan, makanya ngomong begitu?""Dion, Ibu yang salah. Kamu mau 'kan maafin Ibu?"Putraku mundur satu langkah."Bibi, ibuku sudah lama meninggal.""Waktu aku dioperasi kemarin, Ibu bahkan datang ke mimpiku buat jagain aku.""Mana mungkin Bibi itu ibuku?""Dengar, 'kan? Cepat pergi dari sini, jangan memancing emosi anakku!"Kedua mata Vivi merah menahan tangis. Bibirnya tampak bergetar hendak berbicara, tetapi akhirnya dia pergi dengan langkah lunglai dan putus asa tepat sebelum aku menelepon polisi.Meski begitu, dia ternyata masih belum menyerah.Aku mengajukan cuti ke kantor untuk beberapa waktu, lalu mengantar jemput putraku setiap hari.Aku benar-benar tidak berani membiarkan dia lepas dari pengawasanku se

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 7

    "Bagaimanapun juga, dia baru saja selesai operasi besar. Untuk sementara waktu, sebaiknya jangan mencoba menyangkal atau membongkar kebenaran ini di depannya.""Jangan sampai dia syok atau menerima rangsangan emosional yang berlebihan."Mendengar penjelasan dokter tersebut, aku spontan tersenyum getir dalam hati.Siapa yang menyangka bahwa ucapan yang sempat kulontarkan kepada Vivi sebelumnya, bahwa dia tidak pantas lagi menjadi ibu Dion, kini malah menjadi kenyataan lewat cara yang tak terduga.Aku pun membungkukkan tubuhku, lalu mengusap lembut kepala putraku."Dion anak pintar, nanti setelah keluar dari rumah sakit, mau 'kan ikut Ayah pindah dan tinggal di tempat yang baru?"Aku mengeluarkan visa yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, lalu membawa putraku pindah ke sebuah kota kecil di Benua Serenia Utara.Selain uang sewa yang dibayarkan Vivi selama menemani Bryan dan putrinya, aku juga mendapatkan bagian aset yang sangat besar dari hasil perceraian kami.Jumlah itu sudah lebih da

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 6

    Seketika itu juga, seluruh rona merah di wajah Vivi lenyap tanpa jejak."Me ... meninggal?"Dia mengulurkan tangan untuk bertumpu pada dinding, seluruh tubuhnya lemas hingga hampir ambruk ke lantai."Bagaimana mungkin? Operasinya 'kan jelas-jelas udah mau selesai waktu itu."Seluruh tubuhnya mulai gemetaran hebat, hingga barang yang baru saja diterimanya itu terlepas dan jatuh ke lantai.Benda itu ternyata adalah sebuah akta cerai dan sebuah buku tabungan."Terus ini apa lagi, Reno? Apa ini akta cerai kita yang waktu itu?"Vivi mengulurkan tangan, berusaha meraihku."Aku yang salah. Kamu jangan nakut-nakutin aku kayak gini lagi. Tolong bawa aku ketemu Dion.""Aku tuh sebenarnya udah lama nggak ada rasa lagi sama Bryan. Aku sengaja ngelakuin semua itu karena kamu cuma peduli sama uang dan nggak peduli lagi sama aku. Aku cuma ingin mancing reaksi kamu!""Mancing reaksi aku?"Aku memungut buku tabungan yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga tepat ke arah wajah

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 5

    Semua peralatan medis di ruang operasi tampak berantakan, sementara jejak darah yang kacau membentang hingga ke lorong.Para dokter yang ikut ditarik kembali oleh Vivi sontak tersentak, wajah mereka pucat karena terkejut.Vivi mencengkeram salah satu dokter dan berteriak histeris, "Aku 'kan udah bilang dokter utamanya harus tetep tinggal di sini?!""Kenapa tempat ini bisa berantakan begini?! Di mana anakku?!"Dokter itu menjawab dengan gemetaran, "Itu ... Pak Bryan yang bilang kalau pasiennya mengalami alergi parah, jadi seluruh dokter di rumah sakit ini wajib ke sana tanpa terkecuali.""Dia juga bilang semua konsekuensinya akan dia tanggung sendiri. Kalau sampai kondisi putrinya memburuk karena kami terlambat, dia akan membuat kami semua menanggung akibatnya."Urat di pelipis Vivi langsung menegang."Jadi, gara-gara itu kalian tega biarin anakku telantar sampai mati di atas meja operasi?!"Dengan mata yang merah, dia berteriak histeris, "Cari mereka sekarang!"Mengingat kembali betapa

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 4

    Aku menoleh ke dalam ruang operasi. Dada putraku sudah dalam kondisi terbedah.Sementara itu, layar monitor jantung di dekatnya hanya menunjukkan grafik lemah yang naik turun dengan sangat lambat.Dokter itu berusaha melepaskan tanganku."Putri Bu Vivi mendadak mengalami alergi parah. Semua dokter di rumah sakit ini dikerahkan untuk menyelamatkannya, jadi operasi ini terpaksa ditunda dulu.""Kalian nggak boleh pergi!"Suaraku bergetar hebat menahan tangis dan amarah. Dengan tangan gemetaran, aku mengeluarkan kartu ATM dari dompetku."Berapa banyak uang yang dia kasih ke kalian? Aku bayar dua kali lipat! Selesaikan dulu operasi anakku!"Karena takut dianggap kurang, aku buru-buru mengeluarkan ponsel untuk segera mentransfer uang.Saat itulah aku baru bisa membaca dengan jelas catatan pada notifikasi pesan transferan yang masuk tadi.Uang itu ternyata adalah biaya dari Vivi untuk menyewa para dokter ini agar pergi dari sana."Pak, ini bukan masalah uang.""Kami cuma takut kehilangan peke

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status