แชร์

Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan
Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan
ผู้แต่ง: Tiger

Bab 1

ผู้เขียน: Tiger
Mendengar ucapan itu, rasa bersalah di wajah Vivi Chandra langsung lenyap.

Dia berdiri, lalu menunjuk putra kami dengan penuh kekecewaan dan mempertanyakanku, "Reno, begini caramu mendidik anak selama ini?"

Aku dengan tenang menarik putra kami ke belakang punggungku.

"Memangnya ada yang salah? Kalau nggak dapat kasih sayang, paling nggak dapat uang."

"Setidaknya, dia nggak perlu sampai cerai satu kali dulu kayak aku, baru bisa paham kenyataan ini."

Vivi langsung diam seribu bahasa.

Saat itu, ponselnya kembali berdering.

Suara anak perempuan Bryan Pratama terdengar dari seberang telepon.

"Bibi Vivi, cepetan kesini dong! 'Kan kemarin udah janji mau nemenin Caca naik roller coaster Decepticon sampai seratus kali!"

Putraku mencengkeram erat ujung bajuku.

Menyadari pergerakan putranya, Vivi untuk pertama kalinya tidak langsung mengiyakan ajakan itu.

Dia mengulurkan tangan, berniat mengelus kepala putra kami.

"Dion sayang, hari ini kamu ke rumah sakit dulu sama Ayah, ya."

"Nanti kalau kamu udah sembuh, Ibu pasti ajak kamu main ke taman bermain, gimana?"

Putraku langsung menghindari sentuhan tangannya. Dia mengerjapkan matanya yang besar sambil mengulang kalimatnya yang tadi, "Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tinggal transfer uangnya aja ke aku."

Raut wajah Vivi langsung berubah muram.

Sebelum pergi, Vivi melemparkan kalimat penuh amarah.

"Reno, kamu sama anakmu terusin aja bertingkah kayak begini!"

"Benar-benar nggak masuk akal!"

Pintu rumah dibanting dengan keras, membuat hatiku ikut bergetar mendengarnya.

Putraku menggoyang-goyangkan lenganku, lalu mengangkat jam tangan pintarnya untuk diperlihatkan kepadaku.

"Ayah, Ibu transfer uang yang angka nolnya banyak banget."

"Uang segini cukup nggak buat biaya operasiku?"

Melihat wajah putraku, aku sekuat tenaga menahan tangis yang mendesak di tenggorokan, lalu memeluknya erat-erat.

"Cukup, Sayang. Nanti setelah kamu selesai operasi, Ayah bakal ajak kamu pergi dari sini."

Di sela-sela menunggu putraku diperiksa, beberapa notifikasi berita mendadak muncul di ponselku.

Ternyata itu adalah foto-foto hasil jepretan wartawan gosip yang diam-diam membuntuti Vivi, Bryan, dan putrinya yang sedang asyik bermain.

Judul artikelnya tertulis: [Vivi Kepergok Berkencan dengan Pria Baru di Taman Bermain, Anak yang Menemaninya Bahkan Sudah Memanggilnya Ibu!]

Aku memperbesar foto tersebut, menatap lekat-lekat senyuman Vivi yang tampak begitu lembut dan penuh kebahagiaan.

Aku bahkan sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali dia memberikan senyuman seperti itu di hadapanku dan putra kami.

Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol kembali. Begitu halaman beranda kuperbarui, unggahan tersebut rupanya sudah dihapus.

Detik berikutnya, ada telepon masuk dari Vivi.

"Reno, kamu jangan marah ya. Itu cuma tulisan asal-asalan dari media nggak bertanggung jawab."

"Aku udah bayar orang buat menghapus semua artikel itu."

Aku sempat termenung sejenak, baru sadar yang dia maksud adalah soal putri Bryan yang memanggilnya Ibu.

"Aku nggak marah kok. Namanya juga anak-anak, ucapannya nggak usah dimasukin ke hati."

"Lagi pula, aku 'kan udah menyewakanmu ke mereka, temani aja mereka main sampai puas."

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung menutup telepon.

Akhirnya, hasil pemeriksaan Dion keluar. Dokter bilang kondisinya terkontrol dengan sangat baik.

Bulan depan Dion sudah bisa dijadwalkan untuk menjalani operasi bypass jantung.

Seketika seluruh tenagaku rasanya runtuh, aku bahkan nyaris jatuh berlutut di lantai rumah sakit.

Dulu, saat aku dan Vivi bercerai karena masalah Bryan, Vivi sengaja ingin memberiku pelajaran agar aku jera.

Dia menyewa pengacara terbaik untuk memaksaku keluar dari rumah tanpa membawa sepeser pun harta gono-gini.

Keesokan harinya, Dion justru didiagnosis menderita iskemia miokardial, yang membuatnya berisiko mengalami kematian mendadak kapan saja.

Akibat pengaruh dan koneksi yang dimiliki Vivi, tidak ada satu pun perusahaan yang berani menerimaku bekerja.

Bahkan, tidak ada satu pun kerabat atau teman yang sudi meminjamkan uang kepadaku.

Melihat kondisi putraku yang kian hari kian memburuk, pada akhirnya aku terpaksa merendahkan harga diriku dan menundukkan kepala di hadapan Vivi.

Dan hari ini, putraku akhirnya benar-benar telah melewati masa kritisnya.

Setelah memastikan tanggal operasi Dion, aku segera menghubungi pihak agen untuk menyerahkan berkas-berkas pengurusan visa kami berdua.

Tiba-tiba, sebuah pesan dari Vivi muncul di layar ponselku.

[Kapan kalian pulang? Aku udah masakin makanan kesukaan kalian.]

Aku tidak membalasnya.

Satu jam kemudian, aku mendorong pintu rumah hingga terbuka.

Aku melihat Vivi sedang sibuk mengambilkan lauk untuk Bryan dan putrinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 9

    Roda kehidupan benar-benar berputar, hukum tabur tuai itu nyata.Aku tidak mengembalikan saham yang diberikan.Ini sudah menjadi hak yang memang pantas didapatkan oleh putraku.Setelah pemeriksaan rutin selesai, aku membawa putraku terbang kembali ke Serenia Utara.Ternyata putraku memiliki bakat melukis yang luar biasa.Aku pun mencarikannya guru khusus untuk membimbing dan mengembangkan bakatnya tersebut.Setiap lukisannya selalu kukumpulkan satu per satu dan kusimpan dengan hati-hati.Aku bahkan sengaja mendaftarkan sebuah akun media sosial untuknya.Semua hasil pemindaian dari lukisannya kuunggah ke akun itu.Dalam waktu singkat, akun itu berhasil mendapatkan banyak pengikut.Saat putraku menginjak usia 13 tahun, namanya sudah mulai dikenal oleh banyak orang.Aku pun menggelar sebuah pameran lukisan untuknya di tanah air.Yang tidak kusangka adalah jumlah pengunjung yang datang ke lokasi pameran jauh melampaui perkiraanku.Sejak pameran itu, kepercayaan diri putraku melonjak drasti

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 8

    Aku menoleh dengan terkejut, baru menyadari putraku entah sejak kapan sudah turun dari mobil.Dia menarik ujung bajuku dengan wajah yang tampak polos dan kebingungan.Wajah Vivi seketika pucat pasi."Dion, barusan kamu ngomong apa?""Aku ini ibumu. Kamu pasti masih marah sama Ibu, 'kan, makanya ngomong begitu?""Dion, Ibu yang salah. Kamu mau 'kan maafin Ibu?"Putraku mundur satu langkah."Bibi, ibuku sudah lama meninggal.""Waktu aku dioperasi kemarin, Ibu bahkan datang ke mimpiku buat jagain aku.""Mana mungkin Bibi itu ibuku?""Dengar, 'kan? Cepat pergi dari sini, jangan memancing emosi anakku!"Kedua mata Vivi merah menahan tangis. Bibirnya tampak bergetar hendak berbicara, tetapi akhirnya dia pergi dengan langkah lunglai dan putus asa tepat sebelum aku menelepon polisi.Meski begitu, dia ternyata masih belum menyerah.Aku mengajukan cuti ke kantor untuk beberapa waktu, lalu mengantar jemput putraku setiap hari.Aku benar-benar tidak berani membiarkan dia lepas dari pengawasanku se

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 7

    "Bagaimanapun juga, dia baru saja selesai operasi besar. Untuk sementara waktu, sebaiknya jangan mencoba menyangkal atau membongkar kebenaran ini di depannya.""Jangan sampai dia syok atau menerima rangsangan emosional yang berlebihan."Mendengar penjelasan dokter tersebut, aku spontan tersenyum getir dalam hati.Siapa yang menyangka bahwa ucapan yang sempat kulontarkan kepada Vivi sebelumnya, bahwa dia tidak pantas lagi menjadi ibu Dion, kini malah menjadi kenyataan lewat cara yang tak terduga.Aku pun membungkukkan tubuhku, lalu mengusap lembut kepala putraku."Dion anak pintar, nanti setelah keluar dari rumah sakit, mau 'kan ikut Ayah pindah dan tinggal di tempat yang baru?"Aku mengeluarkan visa yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, lalu membawa putraku pindah ke sebuah kota kecil di Benua Serenia Utara.Selain uang sewa yang dibayarkan Vivi selama menemani Bryan dan putrinya, aku juga mendapatkan bagian aset yang sangat besar dari hasil perceraian kami.Jumlah itu sudah lebih da

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 6

    Seketika itu juga, seluruh rona merah di wajah Vivi lenyap tanpa jejak."Me ... meninggal?"Dia mengulurkan tangan untuk bertumpu pada dinding, seluruh tubuhnya lemas hingga hampir ambruk ke lantai."Bagaimana mungkin? Operasinya 'kan jelas-jelas udah mau selesai waktu itu."Seluruh tubuhnya mulai gemetaran hebat, hingga barang yang baru saja diterimanya itu terlepas dan jatuh ke lantai.Benda itu ternyata adalah sebuah akta cerai dan sebuah buku tabungan."Terus ini apa lagi, Reno? Apa ini akta cerai kita yang waktu itu?"Vivi mengulurkan tangan, berusaha meraihku."Aku yang salah. Kamu jangan nakut-nakutin aku kayak gini lagi. Tolong bawa aku ketemu Dion.""Aku tuh sebenarnya udah lama nggak ada rasa lagi sama Bryan. Aku sengaja ngelakuin semua itu karena kamu cuma peduli sama uang dan nggak peduli lagi sama aku. Aku cuma ingin mancing reaksi kamu!""Mancing reaksi aku?"Aku memungut buku tabungan yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga tepat ke arah wajah

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 5

    Semua peralatan medis di ruang operasi tampak berantakan, sementara jejak darah yang kacau membentang hingga ke lorong.Para dokter yang ikut ditarik kembali oleh Vivi sontak tersentak, wajah mereka pucat karena terkejut.Vivi mencengkeram salah satu dokter dan berteriak histeris, "Aku 'kan udah bilang dokter utamanya harus tetep tinggal di sini?!""Kenapa tempat ini bisa berantakan begini?! Di mana anakku?!"Dokter itu menjawab dengan gemetaran, "Itu ... Pak Bryan yang bilang kalau pasiennya mengalami alergi parah, jadi seluruh dokter di rumah sakit ini wajib ke sana tanpa terkecuali.""Dia juga bilang semua konsekuensinya akan dia tanggung sendiri. Kalau sampai kondisi putrinya memburuk karena kami terlambat, dia akan membuat kami semua menanggung akibatnya."Urat di pelipis Vivi langsung menegang."Jadi, gara-gara itu kalian tega biarin anakku telantar sampai mati di atas meja operasi?!"Dengan mata yang merah, dia berteriak histeris, "Cari mereka sekarang!"Mengingat kembali betapa

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 4

    Aku menoleh ke dalam ruang operasi. Dada putraku sudah dalam kondisi terbedah.Sementara itu, layar monitor jantung di dekatnya hanya menunjukkan grafik lemah yang naik turun dengan sangat lambat.Dokter itu berusaha melepaskan tanganku."Putri Bu Vivi mendadak mengalami alergi parah. Semua dokter di rumah sakit ini dikerahkan untuk menyelamatkannya, jadi operasi ini terpaksa ditunda dulu.""Kalian nggak boleh pergi!"Suaraku bergetar hebat menahan tangis dan amarah. Dengan tangan gemetaran, aku mengeluarkan kartu ATM dari dompetku."Berapa banyak uang yang dia kasih ke kalian? Aku bayar dua kali lipat! Selesaikan dulu operasi anakku!"Karena takut dianggap kurang, aku buru-buru mengeluarkan ponsel untuk segera mentransfer uang.Saat itulah aku baru bisa membaca dengan jelas catatan pada notifikasi pesan transferan yang masuk tadi.Uang itu ternyata adalah biaya dari Vivi untuk menyewa para dokter ini agar pergi dari sana."Pak, ini bukan masalah uang.""Kami cuma takut kehilangan peke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status