Share

Bab 2

Penulis: Tiger
Suasana hangat dan penuh keharmonisan di antara mereka justru membuatku dan putraku terasa seperti orang asing yang salah masuk ke rumah orang lain.

"Reno."

Vivi langsung bergegas berdiri, lalu menghampiriku di dekat pintu untuk mengambil jaket yang kukenakan.

"Pemilik tempat tinggal Bryan mendadak menjual rumahnya dan mengusir mereka berdua."

"Mereka belum sempat nyari tempat tinggal baru dalam waktu dekat. Menurutmu, boleh nggak kalau mereka numpang tinggal di sini dulu buat sementara waktu ...."

Aku tidak menyahuti ucapannya. Pandanganku hanya tertuju pada asisten rumah tangga yang sedang sibuk memindahkan barang-barangku dan barang Dion satu per satu ke gudang.

Bryan kemudian angkat bicara dengan nada suara yang dibuat seolah-olah sungkan, meski ekspresi wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa puas.

"Maaf ya, Kak Reno. Kondisi fisikku akhir-akhir ini kurang baik, jadi aku cuma bisa tinggal di kamar yang pencahayaannya bagus dan sirkulasi udaranya lancar. Makanya Vivi berbaik hati ngosongin kamar utama buat aku."

Kamar tidur Dion pun rupanya sudah ikut direbut oleh Caca.

Mainan robot Ultraman kesayangan putraku dilempar begitu saja ke luar kamar oleh Caca hingga bagian tangan dan kakinya patah.

Melihat hal itu, Vivi tiba-tiba didera rasa bersalah.

"Reno, kalau kamu nggak setuju, aku bisa kok nyariin tempat lain buat mereka."

"Aku setuju kok."

Aku mengulurkan tangan ke arahnya.

"Uang sewanya tetap sama kayak kemarin, tapi biaya pemakaian tempat di rumahku dan tarif kamu buat nemenin dia tidur harus dihitung terpisah."

Plak!

Vivi membanting jaketku dengan kasar ke lantai. Wajahnya langsung muram.

"Reno, kamu udah gila, ya?"

"Bisa-bisanya kamu ngomong ngawur begitu di depan anak-anak? Sekarang kamu udah nggak punya harga diri lagi, ya?"

Aku hanya ingin tertawa sinis mendengarnya.

Jelas-jelas dia sendiri yang membawa pria lain beserta anaknya masuk ke rumah kami, tetapi dia malah menyalahkan aku yang mengungkap kenyataan itu dan menuduhku tidak tahu malu.

Setelah itu, Vivi menggandeng Bryan dan putrinya lalu berjalan keluar.

Saat melewatiku, dia melemparkan kartu ATM tepat ke wajahku.

"Sepuluh miliar! Cukup?"

"Dikasih hati minta jantung, sekalian aja kamu hidup sama uang!"

Setelah suasana rumah kembali sunyi, putraku terisak sambil menyeka wajahku dengan tisu.

Aku baru sadar bahwa sudut mataku berdarah karena tergores kartu ATM tadi.

"Ayah, ini semua karena aku sakit, makanya Ayah tiap hari dimarahi Ibu."

Aku mendekap putraku erat-erat.

"Ayah nggak marah. Nanti kalau kamu udah operasi dan sembuh, Ayah pasti senang."

Putraku yang biasanya harus mendengarkan dongeng sebelum tidur dari ibunya, akhirnya tertidur di pelukanku sambil menangis.

Melihat alisnya yang berkerut, hatiku terasa seperti diremas-remas.

Sejak kapan keluarga kami yang dulunya bahagia bisa hancur berantakan seperti ini?

Apa sejak istri Bryan meninggal, Vivi takut pria itu melakukan hal-hal nekat, sehingga setiap malam pergi menemaninya dan menghiburnya?

Saking seringnya Vivi menginap di sana, ketika Vivi pulang ke rumahnya sendiri, wartawan gosip malah mengira dia sedang berselingkuh.

Atau, sejak Vivi takut Caca dirundung teman-temannya karena tidak punya ibu, sehingga Vivi tidak pernah sekali pun absen datang ke rapat orang tua murid anak itu?

Vivi juga selalu hadir setiap Hari Anak dan pesta ulang tahun.

Gara-gara itu, anakku sendiri malah dituduh sebagai anak hasil hubungan gelap dan menjadi sasaran perundungan di sekolah.

Atau saat putraku pertama kali pingsan karena serangan jantung dan tak peduli berapa kali aku menelepon Vivi, teleponnya selalu sibuk?

Aku bersusah payah membawanya ke rumah sakit, tetapi malah mendapati kenyataan pahit bahwa semua dokter telah dikerahkan hanya untuk mengobati luka lecet Caca.

Jantung Dion sempat berhenti berdetak tiga kali. Aku sampai harus berlutut dan membenturkan kepalaku ke lantai hingga berdarah, demi memohon pada seorang dokter agar mau menyelamatkan nyawa anakku.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mengemasi barang-barang kami.

Sambil menggendong putraku yang tertidur pulas, aku melangkah pergi tanpa rasa penyesalan sedikit pun dari rumah yang kini terasa begitu asing.

Seminggu setelah kami menetap di tempat tinggal yang baru, Vivi sama sekali tidak mengirimkan satu pesan pun.

Sebaliknya, pesan dari Bryan justru masuk bertubi-tubi.

Semuanya berisi kiriman berita dari media asing yang meliput liburan mereka, seolah dia takut aku tidak tahu tentang hal itu.

Dengan ekspresi datar, aku membuka tautan-tautan itu. Tempat-tempat yang mereka kunjungi adalah semua tempat yang dulu sangat ingin kudatangi bersama putraku.

Bahkan media yang melaporkan berita itu adalah media yang sama dengan yang dulu menyiarkan pernikahan megahku dengan Vivi.

[Maaf ya, Kak Reno. Aku udah bujuk Vivi buat bayar wartawan gosip itu biar beritanya dihapus, tapi Vivi malah bilang Kak Reno punya banyak uang.]

[Karena masalah ini berawal dariku, gimana kalau jam tangan pemberian Vivi ini aku jual aja buat bantu Kak Reno bayar biaya hapus beritanya?]

Bryan sengaja memotret hadiah pemberian Vivi itu untuk memancing emosiku.

Lagi pula, aku yang dulu pasti sudah langsung melabrak ke tempat Bryan dan mengamuk habis-habisan sambil menghancurkan apa saja yang ada di sana.

Kini, aku hanya membalas dengan santai: [Kalau begitu, tolong uruskan saja.]

Di seberang sana, status Bryan sempat menunjukkan sedang mengetik untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya dia tidak mengirimkan pesan baru lagi.

Tepat di saat aku mengira mereka akhirnya bisa tenang sejenak, tiba-tiba rekeningku menerima transferan sebesar 20 miliar.

Begitu membaca catatan transfernya, seketika itu juga seluruh darahku rasanya berdesir naik ke kepala!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 9

    Roda kehidupan benar-benar berputar, hukum tabur tuai itu nyata.Aku tidak mengembalikan saham yang diberikan.Ini sudah menjadi hak yang memang pantas didapatkan oleh putraku.Setelah pemeriksaan rutin selesai, aku membawa putraku terbang kembali ke Serenia Utara.Ternyata putraku memiliki bakat melukis yang luar biasa.Aku pun mencarikannya guru khusus untuk membimbing dan mengembangkan bakatnya tersebut.Setiap lukisannya selalu kukumpulkan satu per satu dan kusimpan dengan hati-hati.Aku bahkan sengaja mendaftarkan sebuah akun media sosial untuknya.Semua hasil pemindaian dari lukisannya kuunggah ke akun itu.Dalam waktu singkat, akun itu berhasil mendapatkan banyak pengikut.Saat putraku menginjak usia 13 tahun, namanya sudah mulai dikenal oleh banyak orang.Aku pun menggelar sebuah pameran lukisan untuknya di tanah air.Yang tidak kusangka adalah jumlah pengunjung yang datang ke lokasi pameran jauh melampaui perkiraanku.Sejak pameran itu, kepercayaan diri putraku melonjak drasti

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 8

    Aku menoleh dengan terkejut, baru menyadari putraku entah sejak kapan sudah turun dari mobil.Dia menarik ujung bajuku dengan wajah yang tampak polos dan kebingungan.Wajah Vivi seketika pucat pasi."Dion, barusan kamu ngomong apa?""Aku ini ibumu. Kamu pasti masih marah sama Ibu, 'kan, makanya ngomong begitu?""Dion, Ibu yang salah. Kamu mau 'kan maafin Ibu?"Putraku mundur satu langkah."Bibi, ibuku sudah lama meninggal.""Waktu aku dioperasi kemarin, Ibu bahkan datang ke mimpiku buat jagain aku.""Mana mungkin Bibi itu ibuku?""Dengar, 'kan? Cepat pergi dari sini, jangan memancing emosi anakku!"Kedua mata Vivi merah menahan tangis. Bibirnya tampak bergetar hendak berbicara, tetapi akhirnya dia pergi dengan langkah lunglai dan putus asa tepat sebelum aku menelepon polisi.Meski begitu, dia ternyata masih belum menyerah.Aku mengajukan cuti ke kantor untuk beberapa waktu, lalu mengantar jemput putraku setiap hari.Aku benar-benar tidak berani membiarkan dia lepas dari pengawasanku se

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 7

    "Bagaimanapun juga, dia baru saja selesai operasi besar. Untuk sementara waktu, sebaiknya jangan mencoba menyangkal atau membongkar kebenaran ini di depannya.""Jangan sampai dia syok atau menerima rangsangan emosional yang berlebihan."Mendengar penjelasan dokter tersebut, aku spontan tersenyum getir dalam hati.Siapa yang menyangka bahwa ucapan yang sempat kulontarkan kepada Vivi sebelumnya, bahwa dia tidak pantas lagi menjadi ibu Dion, kini malah menjadi kenyataan lewat cara yang tak terduga.Aku pun membungkukkan tubuhku, lalu mengusap lembut kepala putraku."Dion anak pintar, nanti setelah keluar dari rumah sakit, mau 'kan ikut Ayah pindah dan tinggal di tempat yang baru?"Aku mengeluarkan visa yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, lalu membawa putraku pindah ke sebuah kota kecil di Benua Serenia Utara.Selain uang sewa yang dibayarkan Vivi selama menemani Bryan dan putrinya, aku juga mendapatkan bagian aset yang sangat besar dari hasil perceraian kami.Jumlah itu sudah lebih da

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 6

    Seketika itu juga, seluruh rona merah di wajah Vivi lenyap tanpa jejak."Me ... meninggal?"Dia mengulurkan tangan untuk bertumpu pada dinding, seluruh tubuhnya lemas hingga hampir ambruk ke lantai."Bagaimana mungkin? Operasinya 'kan jelas-jelas udah mau selesai waktu itu."Seluruh tubuhnya mulai gemetaran hebat, hingga barang yang baru saja diterimanya itu terlepas dan jatuh ke lantai.Benda itu ternyata adalah sebuah akta cerai dan sebuah buku tabungan."Terus ini apa lagi, Reno? Apa ini akta cerai kita yang waktu itu?"Vivi mengulurkan tangan, berusaha meraihku."Aku yang salah. Kamu jangan nakut-nakutin aku kayak gini lagi. Tolong bawa aku ketemu Dion.""Aku tuh sebenarnya udah lama nggak ada rasa lagi sama Bryan. Aku sengaja ngelakuin semua itu karena kamu cuma peduli sama uang dan nggak peduli lagi sama aku. Aku cuma ingin mancing reaksi kamu!""Mancing reaksi aku?"Aku memungut buku tabungan yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga tepat ke arah wajah

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 5

    Semua peralatan medis di ruang operasi tampak berantakan, sementara jejak darah yang kacau membentang hingga ke lorong.Para dokter yang ikut ditarik kembali oleh Vivi sontak tersentak, wajah mereka pucat karena terkejut.Vivi mencengkeram salah satu dokter dan berteriak histeris, "Aku 'kan udah bilang dokter utamanya harus tetep tinggal di sini?!""Kenapa tempat ini bisa berantakan begini?! Di mana anakku?!"Dokter itu menjawab dengan gemetaran, "Itu ... Pak Bryan yang bilang kalau pasiennya mengalami alergi parah, jadi seluruh dokter di rumah sakit ini wajib ke sana tanpa terkecuali.""Dia juga bilang semua konsekuensinya akan dia tanggung sendiri. Kalau sampai kondisi putrinya memburuk karena kami terlambat, dia akan membuat kami semua menanggung akibatnya."Urat di pelipis Vivi langsung menegang."Jadi, gara-gara itu kalian tega biarin anakku telantar sampai mati di atas meja operasi?!"Dengan mata yang merah, dia berteriak histeris, "Cari mereka sekarang!"Mengingat kembali betapa

  • Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan   Bab 4

    Aku menoleh ke dalam ruang operasi. Dada putraku sudah dalam kondisi terbedah.Sementara itu, layar monitor jantung di dekatnya hanya menunjukkan grafik lemah yang naik turun dengan sangat lambat.Dokter itu berusaha melepaskan tanganku."Putri Bu Vivi mendadak mengalami alergi parah. Semua dokter di rumah sakit ini dikerahkan untuk menyelamatkannya, jadi operasi ini terpaksa ditunda dulu.""Kalian nggak boleh pergi!"Suaraku bergetar hebat menahan tangis dan amarah. Dengan tangan gemetaran, aku mengeluarkan kartu ATM dari dompetku."Berapa banyak uang yang dia kasih ke kalian? Aku bayar dua kali lipat! Selesaikan dulu operasi anakku!"Karena takut dianggap kurang, aku buru-buru mengeluarkan ponsel untuk segera mentransfer uang.Saat itulah aku baru bisa membaca dengan jelas catatan pada notifikasi pesan transferan yang masuk tadi.Uang itu ternyata adalah biaya dari Vivi untuk menyewa para dokter ini agar pergi dari sana."Pak, ini bukan masalah uang.""Kami cuma takut kehilangan peke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status