MasukRoda kehidupan benar-benar berputar, hukum tabur tuai itu nyata.Aku tidak mengembalikan saham yang diberikan.Ini sudah menjadi hak yang memang pantas didapatkan oleh putraku.Setelah pemeriksaan rutin selesai, aku membawa putraku terbang kembali ke Serenia Utara.Ternyata putraku memiliki bakat melukis yang luar biasa.Aku pun mencarikannya guru khusus untuk membimbing dan mengembangkan bakatnya tersebut.Setiap lukisannya selalu kukumpulkan satu per satu dan kusimpan dengan hati-hati.Aku bahkan sengaja mendaftarkan sebuah akun media sosial untuknya.Semua hasil pemindaian dari lukisannya kuunggah ke akun itu.Dalam waktu singkat, akun itu berhasil mendapatkan banyak pengikut.Saat putraku menginjak usia 13 tahun, namanya sudah mulai dikenal oleh banyak orang.Aku pun menggelar sebuah pameran lukisan untuknya di tanah air.Yang tidak kusangka adalah jumlah pengunjung yang datang ke lokasi pameran jauh melampaui perkiraanku.Sejak pameran itu, kepercayaan diri putraku melonjak drasti
Aku menoleh dengan terkejut, baru menyadari putraku entah sejak kapan sudah turun dari mobil.Dia menarik ujung bajuku dengan wajah yang tampak polos dan kebingungan.Wajah Vivi seketika pucat pasi."Dion, barusan kamu ngomong apa?""Aku ini ibumu. Kamu pasti masih marah sama Ibu, 'kan, makanya ngomong begitu?""Dion, Ibu yang salah. Kamu mau 'kan maafin Ibu?"Putraku mundur satu langkah."Bibi, ibuku sudah lama meninggal.""Waktu aku dioperasi kemarin, Ibu bahkan datang ke mimpiku buat jagain aku.""Mana mungkin Bibi itu ibuku?""Dengar, 'kan? Cepat pergi dari sini, jangan memancing emosi anakku!"Kedua mata Vivi merah menahan tangis. Bibirnya tampak bergetar hendak berbicara, tetapi akhirnya dia pergi dengan langkah lunglai dan putus asa tepat sebelum aku menelepon polisi.Meski begitu, dia ternyata masih belum menyerah.Aku mengajukan cuti ke kantor untuk beberapa waktu, lalu mengantar jemput putraku setiap hari.Aku benar-benar tidak berani membiarkan dia lepas dari pengawasanku se
"Bagaimanapun juga, dia baru saja selesai operasi besar. Untuk sementara waktu, sebaiknya jangan mencoba menyangkal atau membongkar kebenaran ini di depannya.""Jangan sampai dia syok atau menerima rangsangan emosional yang berlebihan."Mendengar penjelasan dokter tersebut, aku spontan tersenyum getir dalam hati.Siapa yang menyangka bahwa ucapan yang sempat kulontarkan kepada Vivi sebelumnya, bahwa dia tidak pantas lagi menjadi ibu Dion, kini malah menjadi kenyataan lewat cara yang tak terduga.Aku pun membungkukkan tubuhku, lalu mengusap lembut kepala putraku."Dion anak pintar, nanti setelah keluar dari rumah sakit, mau 'kan ikut Ayah pindah dan tinggal di tempat yang baru?"Aku mengeluarkan visa yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, lalu membawa putraku pindah ke sebuah kota kecil di Benua Serenia Utara.Selain uang sewa yang dibayarkan Vivi selama menemani Bryan dan putrinya, aku juga mendapatkan bagian aset yang sangat besar dari hasil perceraian kami.Jumlah itu sudah lebih da
Seketika itu juga, seluruh rona merah di wajah Vivi lenyap tanpa jejak."Me ... meninggal?"Dia mengulurkan tangan untuk bertumpu pada dinding, seluruh tubuhnya lemas hingga hampir ambruk ke lantai."Bagaimana mungkin? Operasinya 'kan jelas-jelas udah mau selesai waktu itu."Seluruh tubuhnya mulai gemetaran hebat, hingga barang yang baru saja diterimanya itu terlepas dan jatuh ke lantai.Benda itu ternyata adalah sebuah akta cerai dan sebuah buku tabungan."Terus ini apa lagi, Reno? Apa ini akta cerai kita yang waktu itu?"Vivi mengulurkan tangan, berusaha meraihku."Aku yang salah. Kamu jangan nakut-nakutin aku kayak gini lagi. Tolong bawa aku ketemu Dion.""Aku tuh sebenarnya udah lama nggak ada rasa lagi sama Bryan. Aku sengaja ngelakuin semua itu karena kamu cuma peduli sama uang dan nggak peduli lagi sama aku. Aku cuma ingin mancing reaksi kamu!""Mancing reaksi aku?"Aku memungut buku tabungan yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga tepat ke arah wajah
Semua peralatan medis di ruang operasi tampak berantakan, sementara jejak darah yang kacau membentang hingga ke lorong.Para dokter yang ikut ditarik kembali oleh Vivi sontak tersentak, wajah mereka pucat karena terkejut.Vivi mencengkeram salah satu dokter dan berteriak histeris, "Aku 'kan udah bilang dokter utamanya harus tetep tinggal di sini?!""Kenapa tempat ini bisa berantakan begini?! Di mana anakku?!"Dokter itu menjawab dengan gemetaran, "Itu ... Pak Bryan yang bilang kalau pasiennya mengalami alergi parah, jadi seluruh dokter di rumah sakit ini wajib ke sana tanpa terkecuali.""Dia juga bilang semua konsekuensinya akan dia tanggung sendiri. Kalau sampai kondisi putrinya memburuk karena kami terlambat, dia akan membuat kami semua menanggung akibatnya."Urat di pelipis Vivi langsung menegang."Jadi, gara-gara itu kalian tega biarin anakku telantar sampai mati di atas meja operasi?!"Dengan mata yang merah, dia berteriak histeris, "Cari mereka sekarang!"Mengingat kembali betapa
Aku menoleh ke dalam ruang operasi. Dada putraku sudah dalam kondisi terbedah.Sementara itu, layar monitor jantung di dekatnya hanya menunjukkan grafik lemah yang naik turun dengan sangat lambat.Dokter itu berusaha melepaskan tanganku."Putri Bu Vivi mendadak mengalami alergi parah. Semua dokter di rumah sakit ini dikerahkan untuk menyelamatkannya, jadi operasi ini terpaksa ditunda dulu.""Kalian nggak boleh pergi!"Suaraku bergetar hebat menahan tangis dan amarah. Dengan tangan gemetaran, aku mengeluarkan kartu ATM dari dompetku."Berapa banyak uang yang dia kasih ke kalian? Aku bayar dua kali lipat! Selesaikan dulu operasi anakku!"Karena takut dianggap kurang, aku buru-buru mengeluarkan ponsel untuk segera mentransfer uang.Saat itulah aku baru bisa membaca dengan jelas catatan pada notifikasi pesan transferan yang masuk tadi.Uang itu ternyata adalah biaya dari Vivi untuk menyewa para dokter ini agar pergi dari sana."Pak, ini bukan masalah uang.""Kami cuma takut kehilangan peke







