Short
Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan

Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan

Por:  TigerCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Capítulos
533visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Setelah rujuk, aku memutuskan untuk menyewakan istriku sendiri. Setiap kali sahabat cowoknya menelepon dan menyuruhnya pergi, aku tak lagi marah-marah seperti dulu. Alih-alih mengamuk, aku justru memberlakukan tarif per jam. Siang hari, 200 juta per jam. Malam hari, 400 juta per jam. Hari libur dihitung tiga kali lipat. Baru berjalan tiga bulan, rekeningku sudah bertambah hampir 40 puluh miliar. Suatu hari, kami sudah berjanji pergi memilih setelan jas untuk menghadiri jamuan makan malam. Namun, di tengah jalan, sahabat prianya menelepon, mengeluh jarinya terluka saat memotong sayuran. Tanpa repot-repot mendongak, aku hanya menyodorkan kode QR pembayaran ke hadapan istriku. Suatu malam, aku mendadak demam tinggi. Saat istriku sedang menyetir untuk mengantarku ke rumah sakit, ponselnya kembali berdering. Sahabat cowoknya mengeluh mabuk berat, merasa tidak enak badan, dan tidak bisa tidur. Dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, aku mengambil payung dan menyuruhnya menurunkanku di persimpangan jalan depan. Melihatnya yang tampak ragu-ragu dan hendak mengatakan sesuatu, aku hanya tersenyum tipis. "Jangan lupa transfer uangnya, ya." Hingga tiba hari di mana putra kami harus pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin. Sahabat cowoknya lagi-lain menelepon. "Caca ingin ke taman bermain nih, tapi tempat kayak gini kayaknya bakal lebih seru kalau ada sosok perempuan yang nemenin ...." Setelah menutup telepon, istriku berbalik. Dia hendak berjongkok untuk membujuk anak kami. Akan tetapi, putra kami justru meniru caraku. Dia mengulurkan tangan kecilnya ke hadapan ibunya. "Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tinggal transfer uangnya aja ke aku. Harganya harus tiga kali lipat"

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Mendengar ucapan itu, rasa bersalah di wajah Vivi Chandra langsung lenyap.

Dia berdiri, lalu menunjuk putra kami dengan penuh kekecewaan dan mempertanyakanku, "Reno, begini caramu mendidik anak selama ini?"

Aku dengan tenang menarik putra kami ke belakang punggungku.

"Memangnya ada yang salah? Kalau nggak dapat kasih sayang, paling nggak dapat uang."

"Setidaknya, dia nggak perlu sampai cerai satu kali dulu kayak aku, baru bisa paham kenyataan ini."

Vivi langsung diam seribu bahasa.

Saat itu, ponselnya kembali berdering.

Suara anak perempuan Bryan Pratama terdengar dari seberang telepon.

"Bibi Vivi, cepetan kesini dong! 'Kan kemarin udah janji mau nemenin Caca naik roller coaster Decepticon sampai seratus kali!"

Putraku mencengkeram erat ujung bajuku.

Menyadari pergerakan putranya, Vivi untuk pertama kalinya tidak langsung mengiyakan ajakan itu.

Dia mengulurkan tangan, berniat mengelus kepala putra kami.

"Dion sayang, hari ini kamu ke rumah sakit dulu sama Ayah, ya."

"Nanti kalau kamu udah sembuh, Ibu pasti ajak kamu main ke taman bermain, gimana?"

Putraku langsung menghindari sentuhan tangannya. Dia mengerjapkan matanya yang besar sambil mengulang kalimatnya yang tadi, "Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tinggal transfer uangnya aja ke aku."

Raut wajah Vivi langsung berubah muram.

Sebelum pergi, Vivi melemparkan kalimat penuh amarah.

"Reno, kamu sama anakmu terusin aja bertingkah kayak begini!"

"Benar-benar nggak masuk akal!"

Pintu rumah dibanting dengan keras, membuat hatiku ikut bergetar mendengarnya.

Putraku menggoyang-goyangkan lenganku, lalu mengangkat jam tangan pintarnya untuk diperlihatkan kepadaku.

"Ayah, Ibu transfer uang yang angka nolnya banyak banget."

"Uang segini cukup nggak buat biaya operasiku?"

Melihat wajah putraku, aku sekuat tenaga menahan tangis yang mendesak di tenggorokan, lalu memeluknya erat-erat.

"Cukup, Sayang. Nanti setelah kamu selesai operasi, Ayah bakal ajak kamu pergi dari sini."

Di sela-sela menunggu putraku diperiksa, beberapa notifikasi berita mendadak muncul di ponselku.

Ternyata itu adalah foto-foto hasil jepretan wartawan gosip yang diam-diam membuntuti Vivi, Bryan, dan putrinya yang sedang asyik bermain.

Judul artikelnya tertulis: [Vivi Kepergok Berkencan dengan Pria Baru di Taman Bermain, Anak yang Menemaninya Bahkan Sudah Memanggilnya Ibu!]

Aku memperbesar foto tersebut, menatap lekat-lekat senyuman Vivi yang tampak begitu lembut dan penuh kebahagiaan.

Aku bahkan sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali dia memberikan senyuman seperti itu di hadapanku dan putra kami.

Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol kembali. Begitu halaman beranda kuperbarui, unggahan tersebut rupanya sudah dihapus.

Detik berikutnya, ada telepon masuk dari Vivi.

"Reno, kamu jangan marah ya. Itu cuma tulisan asal-asalan dari media nggak bertanggung jawab."

"Aku udah bayar orang buat menghapus semua artikel itu."

Aku sempat termenung sejenak, baru sadar yang dia maksud adalah soal putri Bryan yang memanggilnya Ibu.

"Aku nggak marah kok. Namanya juga anak-anak, ucapannya nggak usah dimasukin ke hati."

"Lagi pula, aku 'kan udah menyewakanmu ke mereka, temani aja mereka main sampai puas."

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung menutup telepon.

Akhirnya, hasil pemeriksaan Dion keluar. Dokter bilang kondisinya terkontrol dengan sangat baik.

Bulan depan Dion sudah bisa dijadwalkan untuk menjalani operasi bypass jantung.

Seketika seluruh tenagaku rasanya runtuh, aku bahkan nyaris jatuh berlutut di lantai rumah sakit.

Dulu, saat aku dan Vivi bercerai karena masalah Bryan, Vivi sengaja ingin memberiku pelajaran agar aku jera.

Dia menyewa pengacara terbaik untuk memaksaku keluar dari rumah tanpa membawa sepeser pun harta gono-gini.

Keesokan harinya, Dion justru didiagnosis menderita iskemia miokardial, yang membuatnya berisiko mengalami kematian mendadak kapan saja.

Akibat pengaruh dan koneksi yang dimiliki Vivi, tidak ada satu pun perusahaan yang berani menerimaku bekerja.

Bahkan, tidak ada satu pun kerabat atau teman yang sudi meminjamkan uang kepadaku.

Melihat kondisi putraku yang kian hari kian memburuk, pada akhirnya aku terpaksa merendahkan harga diriku dan menundukkan kepala di hadapan Vivi.

Dan hari ini, putraku akhirnya benar-benar telah melewati masa kritisnya.

Setelah memastikan tanggal operasi Dion, aku segera menghubungi pihak agen untuk menyerahkan berkas-berkas pengurusan visa kami berdua.

Tiba-tiba, sebuah pesan dari Vivi muncul di layar ponselku.

[Kapan kalian pulang? Aku udah masakin makanan kesukaan kalian.]

Aku tidak membalasnya.

Satu jam kemudian, aku mendorong pintu rumah hingga terbuka.

Aku melihat Vivi sedang sibuk mengambilkan lauk untuk Bryan dan putrinya.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
9 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status