"Minum tehnya pelan-pelan, Alina, masih panas," tutur Adrian lembut.Adrian mengambil cangkir porselen dari tangan Alina, lalu ia meletakkannya kembali ke atas meja kayu. Alina tersenyum tipis, kemudian ia membetulkan posisi duduknya di atas sofa empuk ruang tengah."Terima kasih banyak, Mas Adrian," ucap Alina tulus.Pak Bramanta yang duduk di sofa seberang tertawa kekeh, lalu ia mengamati interaksi manis di hadapannya dengan raut gembira. "Papa senang sekali melihat kalian berdua makin rukun begini.""Iya dong, Pa, kan sebentar lagi kami mau menikah," balas Adrian bangga.Alina mencubit paha Adrian pelan, lalu ia menundukkan kepala karena merasa malu di depan calon mertuanya. "Mas Adrian ini bicara terus tanpa henti!""Lho, kan memang kenyataan, Sayang," goda Adrian menyeringai.Pak Bramanta menggelengkan kepalanya pelan, kemudian ia berdiri dari sofa dan menepuk bahu Adrian dengan erat. "Sudah, jangan kamu goda terus calon istrimu. Kasihan Alina, dia sudah kelihatan lelah sekali."
Last Updated : 2026-07-29 Read more