Pertanyaan Natha menggantung di antara mereka, ditemani gemericik hujan yang masih turun membasahi jalanan.Sandy menggigit bibir bawahnya. Mengakui kalau dia memimpikan seorang kakak kelas yang baru dikenalnya jelas terdengar memalukan. Apalagi mimpi-mimpi itu datang jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.Akhirnya Sandy memilih untuk berbohong."Enggak pernah, Kak. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”"Nggak apa-apa, cuma penasaran aja," jawab Natha sambil tersenyum. "Katanya, kalau sering ketemu, kadang suka kebawa mimpi."Sandy tertawa.“Emang Kak Natha pernah mimpiin aku?”“Pernah.”Senyum di wajah Sandy langsung memudar."Serius?""Iya.”Sandy menatap Natha beberapa detik, mencari tanda kalau cowok itu sedang bercanda. Sayangnya, ekspresi Natha tetap tenang.“Hayooo… mimpi apaan?” Sandy mencoba bercanda, mengalihkan detak jantungnya yang kian kencang.Natha tersenyum."Banyak, tapi rahasia.""Ih... pelit banget.""Suatu hari nanti bakal aku ceritain," ujar Natha. "Tapi nggak sekarang.
Read more