홈 / Fantasi / Kakak Kelas dari Mimpiku / Bab 23. Kak Natha Makin Perhatian

공유

Bab 23. Kak Natha Makin Perhatian

작가: Asri Lestari
last update 게시일: 2026-08-09 09:03:10

Melihat Sandy yang mendadak melamun, Keira menyikut lengannya pelan.

"San? Kok malah bengong? Oh ya, kayaknya aku bakal ikut ekskul seni rupa juga deh. Ternyata aku kurang cocok sama PMR. Banyak latihan fisiknya juga kayak Paskibra."

Mendengar itu, Sandy langsung menoleh ke arah Keira.

"Serius? Asyik nih ada temennya. Tapi bukannya kamu nggak terlalu suka menggambar, ya?"

"Pengin belajar aja sih. Kan enggak ada salahnya mencoba hal baru," ucap Keira sambil mengulum senyum.

“Bilang aja mau deke
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 29. Aduh, Keira Muntah!

    Pagi-pagi sekali, halaman sekolah sudah dipenuhi peserta diklat ekstrakurikuler seni rupa. Sebagian berdiri bergerombol sambil mengobrol, sementara yang lain sibuk memeriksa tas dan perlengkapan yang mereka bawa.Sandy turun dari mobil setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ia merapikan tali ransel di bahunya, kemudian menoleh kepada Kanigara yang masih duduk di balik kemudi.“Jaga diri baik-baik, ya.”“Iya, Ma. Tenang aja. Sandy bakal hati-hati.”“Kalau ada apa-apa, langsung kabari Mama.”“Iya.” Sandy tersenyum, lalu melambaikan tangan ketika mobil ibunya mulai meninggalkan halaman sekolah.Setelah mobil mamanya semakin menjauh, Sandy mengalihkan perhatian kepada kerumunan peserta. Ia mencari anggota kelompoknya. Di depan ruang kesehatan, Sandy melihat Aurel, Tika, dan Melisa sedang duduk di tangga.“Keira belum datang?” tanya Sandy setelah menghampiri mereka.“Belum. Sepertinya masih di jalan. Tadi dia bilang di grup kalau meluncur ke sekolah,” jawab Aurel.Sandy melet

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 28. Nggak Sabar Nunggu Besok

    Jumat sore menjelang malam, kamar Sandy tampak lebih berantakan dari biasanya. Beberapa potong pakaian tergeletak di atas tempat tidur, berdampingan dengan jaket tebal, perlengkapan mandi, dan tas ransel berukuran besar yang akan dibawanya ke Coban Rondo. Sandy duduk bersila di tengah tempat tidur sambil memeriksa daftar perlengkapan yang telah dibuat bersama anggota Kelompok Empat. Sesekali, dia mencoret barang yang sudah dikumpulkan, lalu kembali membaca daftar tersebut untuk memastikan tidak ada yang terlewat. “Semua barang di daftar sudah aku kumpulkan di atas kasur, tapi kok rasanya masih ada yang kurang?” gumam Sandy sambil memutar-mutar pulpen di tangannya. “Apa lagi, ya?” Dia memiringkan kepala, mencoba mengingat barang apa yang mungkin perlu dibawa meski tidak tercantum dalam daftar. Tiba-tiba, Sandy menepuk dahinya sendiri. “Buku sketsa harianku! Siapa tahu tiba-tiba aku ingin menggambar sesuatu. Aku tidak mungkin menggambarnya di buku sketsa khusus ekskul.” Sandy

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 27. Cokelat dari Kak Natha

    Senin pagi, Sandy kembali menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Kakinya sudah pulih setelah beberapa hari beristirahat. Dia bahkan tidak lagi merasakan nyeri ketika berjalan menaiki tangga menuju kelas. “Tumben, hari ini kamu datang duluan,” ujar Bianca ketika melihat Sandy sedang merapikan buku di atas meja. Sandy menoleh. “Mama ada urusan pagi-pagi sekali. Jadi, sekalian nganter aku ke sekolah.” “Oh, gitu. Berarti kamu nggak bangun kesiangan. Biasanya sudah dibangunin juga tetap molor lagi.” Bianca tertawa mengingat kebiasaan Sandy yang suka datang mepet jam masuk sekolah. “Enak aja.” Sandy ikut tertawa. “Ngomong-ngomong, akhir pekan kemarin Kak Natha terus-terusan chat dan telepon aku.” Bianca yang baru saja duduk di bangkunya langsung menoleh. “Ngapain?” “Ya, nanyain kabar. Mastiin keadaanku baik-baik aja.” Kedua alis Bianca terangkat. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya. “Kak Natha emang perhatian banget, ya.” “Aku juga heran. Kenapa tiba-tiba begitu perhati

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 26. Mama Tahu Sesuatu?

    Angin sore yang berembus cukup kencang membuat air di kolam renang bergelombang, memantulkan bayangan pepohonan yang kian menggelap seiring matahari yang makin tenggelam. “Pindah ke dalam yuk, San. Dingin nih,” ajak Bianca. Sandy mengangguk, lalu mencoba berdiri sendiri. “Sini aku bantuin. Jangan dipaksa gerak sendiri dulu. Nanti makin sakit lho,” protes Bianca. Sandy tertawa. “Iya, iya… Kebiasaan aja, sih. Jadi lupa.” Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. “Kita nonton film aja yuk. Besok kan nggak ada PR. Jadi santai…” ajak Bianca. “Boleh. Kamu aja yang pilih filmnya. Yang romantis ya.” Bianca segera menyalakan televisi layar datar berukuran 85 inci di hadapan mereka, membuka salah satu layanan streaming berlogo huruf merah, dan memilih salah satu film romantis yang ada di sana. Belum sepuluh menit mereka menonton, ponsel Sandy berbunyi. Sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Natha. Sandy sudah menyimpan nomor itu sejak Natha

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 25. Jangan-Jangan Kita Dimata-Matai!

    Mobil sedan putih itu akhirnya berhenti di depan rumah Bianca. Setelah mematikan mesin, Natha segera turun dan membantu Sandy keluar dengan hati-hati. Bianca menyusul dari pintu belakang. Satpam membukakan gerbang, lalu mereka bertiga masuk ke halaman depan. Natha berjalan di samping Sandy, memastikan langkahnya tetap hati-hati sampai mereka tiba di teras rumah. “Makasih, Kak,” ucap Sandy. “Sama-sama. Kakimu jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya. Semoga besok pagi sudah membaik.” Sandy mengangguk. “Iya, Kak.” “Nggak masuk dulu, Kak?” ucap Bianca sambil merapikan tasnya. “Lain kali aja. Nitip Sandy, ya.” “Cie…” Lagi-lagi Bianca menggoda Natha. “Tenang aja pasti dijagain kok.” Sandy langsung mencubit kecil lengan Bianca. “Awww! Sakit, Sandy!” protes Bianca. “Kamu sih bercanda mulu.” Natha hanya tersenyum melihat kelakuan adik-adik kelasnya itu. “Ya udah, aku pulang dulu,” pamit Natha. “Hati-hati di jalan, Kak,” jawab Sandy sambil melambaikan tangan. Natha ik

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 24. Aku Tadi Nggak Salah Lihat, Kan?

    “Kenapa, Bi?” tanya Keira saat melihat Bianca yang baru saja menerima telepon datang dengan wajah kecewa. “Supirku bilang ban mobilku pecah di jalan. Jadi nggak bisa jemput,” jawab Bianca. “Naik mobilku aja kalau gitu. Aku antar,” tawar Natha lagi. Sandy tampak berpikir, tapi Bianca langsung mengangguk setuju. “Boleh, Kak. Kayaknya itu pilihan terbaik sekarang,” ucap Bianca. “Keira mau sekalian bareng?” tanya Natha. "Nggak usah, Kak. Aku dijemput kakakku.” “Kalau gitu kita tunggu sampai Keira dijemput dulu,” tambah Natha. Mereka berempat berjalan menuju gerbang dan mengobrol di sana sampai kakak Keira datang. Setelah Keira pulang, Natha beranjak mengambil mobil di belakang sekolah. “Aku ambil mobil dulu ya dibelakang. Kalian tunggu di sini saja,” ucap Natha kepada Sandy dan Bianca. “Oke, Kak!” jawab Bianca ceria. Sementara Sandy hanya mengangguk sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian Natha muncul dengan sedan putihnya. Setelah mobil berhenti di depan gerbang, N

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 7. Kak Natha Nyebelin Banget!

    Hari Jumat menjadi hari yang paling dinanti oleh seluruh murid baru, termasuk Sandy. Hari terakhir MPLS ini berjalan cukup padat sekaligus melelahkan. Sejak pagi, lapangan sekolah sudah diguncang oleh sorakan yel-yel dari tiap gugus yang tampil habis-habisan demi menjadi pemenang.Puncaknya adalah

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 6. Tunggu, Kok Jaketnya Sama?

    Sepanjang perjalanan pulang, Sandy lebih banyak diam menatap keluar jendela mobil. Tangannya tidak lepas dari jaket milik Natha yang kini ada di pangkuannya. Pikirannya berputar pada semua yang sudah dia lalui hari ini. Mulai dari kejadian dijemput paksa ke ruang OSIS, obrolan berdua dengan Natha,

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 5. Hukumannya Kok Malah Gini?

    Sesuai instruksi Natha tadi siang, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Sandy terpaksa menyeret kakinya menuju ruang OSIS. Sepanjang jalan, dia komat-kamit berdoa agar sang Ketua OSIS tidak ada di sana. Cukup Alya saja yang dia hadapi.​Namun, begitu pintu kayu itu terdorong terbuka, harapan Sandy

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 4. Tolong… Aku Diculik!

    Sandy pikir keputusannya untuk kabur kemarin sore sudah benar. Namun, dia meremehkan kegigihan seorang Natha.Menyadari suratnya diabaikan, Ketua OSIS itu memilih mengambil tindakan yang lebih agresif.​Pada hari ketiga MPLS, saat jam istirahat baru saja dimulai, ketenangan Sandy kembali terusik.S

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status