Seminar berjalan berjam-jam, namun bagi Alana waktu seakan berjalan tanpa henti dalam kebekuan. Ia tetap menjalankan tugasnya—membagikan materi, mencatat hal penting, membantu peserta yang bertanya—semuanya dilakukan dengan gerakan teratur, wajah tenang, seolah tak ada yang retak di dalam dadanya. Hanya sesekali saat ia menunduk, matanya menatap kosong ke lantai, menahan rasa sesak yang naik perlahan. Akhirnya acara selesai. Orang-orang mulai berhamburan keluar, berbicara riang, berfoto bersama, saling berjanji bertemu lagi. Alana segera merapikan barang-barangnya, berniat pergi secepat mungkin sebelum ia kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak. Namun saat ia hendak melangkah keluar pintu, suara rendah itu memanggilnya dari belakang—tegas, dingin, dan tak bisa ditolak. “Alana.” Langkahnya terhenti. Bahunya menegang kaku. Ia tak segera berbalik, menarik napas panjang dulu sebelum perlahan memutar tubuhnya. Kara berdiri tak jauh dari sana, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, waj
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-05 อ่านเพิ่มเติม