LOGIN— Tidurlah bersamaku malam ini! Suara berat Askara berbisik, membuat Alana terperanjat. — Apa kamu sudah gila? Suara Alana bergetar karena terkejut. — Jangan Munafik. Sebutkan saja tarifmu untuk menemaniku malam ini! Ujar Askara Javindra dengan tatapan penuh penghinaan.
View MoreDi jalan lingkar luar kota yang sepi dan remang‑remang, suara raungan mesin motor gahar membelah udara dingin malam. Kara memacu kendaraannya sekuat tenaga, menundukkan badan, matanya menatap lurus ke depan seolah ingin melesat meninggalkan segala rasa kekalahan yang membakar dadanya. Angin malam memukul wajahnya keras‑keras, namun tak sanggup mendinginkan amarah yang masih mendidih di dalam dada. Ia menyalip satu demi satu peserta balapan liar itu dengan gerakan tajam dan berbahaya, seolah tak peduli nyawanya sendiri. “Dasar sialan… kenapa kau harus muncul saat itu juga?” gerutunya parau, teriakan tertelan suara gemuruh mesin. Di kepalanya terus terbayang wajah Daddynya, Jayden, yang merusak rencana matang itu seketika. Juga bayangan Alana yang kembali berdiri tegak, seolah mengejek ketidakberdayaannya. Kakinya menekan tuas gas hingga batas maksimal, motor itu melesat bagai anak panah. Keringat dingin bercampur amarah membasahi pelipisnya. Ia ingin memacu lebih cepat lagi, hingga
Jayden terus melangkah tegas, wibawanya membuat kerumunan otomatis menyingkir. Tak sekalipun ia menoleh ke arah Kara, seolah tak mengenali pemuda itu. Begitu juga Kara — ia tetap diam di tempat, tak berniat mendekat, tak mau berhadapan dengan pria yang baru saja ia maki dalam hati. Hanya Dikta, Alex, dan Yasmine yang menyaksikan semuanya dengan mata terbelalak, tahu persis hubungan keduanya namun tak berani bersuara sepatah kata pun.Alana pun tak curiga sedikit pun, kalau Jayden adalah ayah dari Kara bukannya hanya pemilik kampus saja.“Siapa yang memberi hak mengeluarkan mahasiswa berprestasi ini tanpa bukti yang sah?” suara berat Jayden bergema, tepat saat Rektor bergegas keluar dari gedung.Rektor terkejut setengah mati, segera membungkuk sopan. “Tuan Javindra… kami bertindak berdasarkan bukti yang tersebar luas…”“Bukti palsu dan hasil rekayasa,” potong Jayden dingin sambil menyerahkan berkas tebal. “Di sini tercatat jejak pengeditan, asal akun penyebar, serta bukti bahwa gadis i
Tubuh Alana seketika terasa lemas sepenuhnya, lututnya nyaris ambruk ke tanah seandainya Tiara dan Ayu tak segera menahan bahu serta lengannya dengan cepat. Darah di wajahnya lenyap, meninggalkan pucat yang menyayat hati.“Kamu dipanggil langsung ke ruangan Rektor…” bisik Ayu pelan, suaranya ikut gemetar menahan kekhawatiran.“Bagaimana bisa begini, Alana… Siapa yang sudah tega menempelkan semua foto itu di papan pengumuman? Siapa pelakunya?” bisik Tiara di samping telinganya, matanya penuh kebingungan dan rasa ingin tahu yang bercampur takut.Alana hanya terdiam, matanya menatap kosong ke kerumunan orang yang masih menunjuk‑nunjuk ke arahnya. Di dalam hatinya, tebakan itu sudah terungkap dengan jelas dan tajam — tak ada orang lain yang sanggup bertindak sejauh ini selain Kara. Semua ini pasti balas dendam karena semalam ia berani mengabaikan perintah pria itu untuk datang ke kamar hotel.Hatinya terasa diremas kuat, namun ia tak berani mengucapkannya dengan suara keras. Ia takut sema
Malam yang ditunggu‑tunggu dengan penuh gejolak hati oleh Kara akhirnya tiba. Pria tampan bertubuh tinggi tegap itu kini sudah berdiri di dalam kamar nomor 134. Ia terpaku di depan kaca jendela besar, menatap kilauan lampu ibu kota Jakarta yang berkelap‑kelip di antara gedung‑gedung pencakar langit—indah bagi siapa saja, namun terasa makin membakar amarah di matanya.Kara tak mampu menyembunyikan rasa tak sabar. Berkali‑kali matanya melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir sepuluh menit ia menunggu kedatangan Alana.“Cih… wanita sialan. Berani‑beraninya membuatku menunggu,” gerutunya parau. Memang, menunggu adalah hal yang paling ia benci—apalagi baginya yang dikenal sebagai bad boy yang paling ditakuti seisi kampus. Ini pertama kalinya ia harus menunggu seseorang, terlebih wanita yang paling ia benci sekaligus perlahan berubah menjadi obsesi yang tak bisa ia lepaskan.Wajahnya makin tampak mencekam, rahangnya mengeras. Ia merogoh saku celana, men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.