LOGIN— Tidurlah bersamaku malam ini! Suara berat Askara berbisik, membuat Alana terperanjat. — Apa kamu sudah gila? Suara Alana bergetar karena terkejut. — Jangan Munafik. Sebutkan saja tarifmu untuk menemaniku malam ini! Ujar Askara Javindra dengan tatapan penuh penghinaan.
View MoreSeminar berjalan berjam-jam, namun bagi Alana waktu seakan berjalan tanpa henti dalam kebekuan. Ia tetap menjalankan tugasnya—membagikan materi, mencatat hal penting, membantu peserta yang bertanya—semuanya dilakukan dengan gerakan teratur, wajah tenang, seolah tak ada yang retak di dalam dadanya. Hanya sesekali saat ia menunduk, matanya menatap kosong ke lantai, menahan rasa sesak yang naik perlahan. Akhirnya acara selesai. Orang-orang mulai berhamburan keluar, berbicara riang, berfoto bersama, saling berjanji bertemu lagi. Alana segera merapikan barang-barangnya, berniat pergi secepat mungkin sebelum ia kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak. Namun saat ia hendak melangkah keluar pintu, suara rendah itu memanggilnya dari belakang—tegas, dingin, dan tak bisa ditolak. “Alana.” Langkahnya terhenti. Bahunya menegang kaku. Ia tak segera berbalik, menarik napas panjang dulu sebelum perlahan memutar tubuhnya. Kara berdiri tak jauh dari sana, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, waj
Keesokan harinya, matahari bersinar terang menyinari halaman kampus yang ramai, namun cahaya itu tak mampu menyentuh dingin yang merasuk hingga ke tulang Alana. Ia melangkah dengan tas tersampir di bahu, wajahnya pucat namun tenang—terlalu tenang—sebagaimana ia berusaha menahan segala retakan yang mulai merobek hatinya. Hari ini ia memiliki janji sebagai asisten dosen untuk membantu kegiatan seminar, dan ia tak akan membiarkan apa pun—siapa pun—menghalanginya. Namun saat ia baru hendak melewati lorong menuju ruangan acara, langkah kakinya mendadak terhenti. Di hadapannya, Yasmin bersama sahabatnya Dina berdiri berderet lebar, sengaja menghadang jalan dengan senyum-senyum penuh arti yang tak menyenangkan. “Udah tahu belum?” tanya Yasmin duluan, nada suaranya terdengar manis namun penuh sindiran tajam, matanya menyapu wajah Alana seakan sedang menunggu pemandangan lucu. Alana tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menatap datar, lalu dengan gerakan halus namun tegas, ia menepis tang
Semenjak malam itu, kehangatan yang sempat sempat menyelinap di antara mereka lenyap sepenuhnya. Rumah itu kembali menjadi ruang dingin yang penuh kebekuan—tak ada lagi sapaan, tak ada lagi tatapan yang beradu, bahkan udara yang mereka hirup bersama terasa berat dan penuh jarak. Alana tahu, luka itu tak lagi bisa ditambal; ia hanya menunggu waktu sampai benang yang tersisa putus sepenuhnya. Hari itu, di ruang tengah yang megah namun sunyi, Kara duduk bersandar kaku di sofa kulit. Wajahnya datar namun matanya menyimpan ketidaksukaan yang mendidih, seakan setiap napas yang terhubung dengan kisah pernikahan ini adalah siksaan baginya. “Aku ingin mengakhiri semuanya,” ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas memecah keheningan. Rena yang sedang memegang gelas teh, menekan pinggiran gelas itu begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh perlahan, senyum tenangnya retak sedikit demi sedikit. “Kara, kenapa begitu? Apa kamu ingin melihat keluargamu hancur berantakan hanya
Taksi itu terus melaju membelah jalanan yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat bagai bayangan samar di balik kaca yang berkabut oleh napasnya. Alana masih meringkuk di sudut bangku belakang, bahunya terus bergetar meski tangisnya mulai mereda menjadi isak halus yang sesekali menyengat dadanya. Pikirannya berputar kacau, seakan terjebak dalam labirin gelap tanpa jalan keluar. Jadi sejak awal ia sudah membenci aku, batinnya perih, meremas kain kemejnya hingga jari-jarinya terasa kaku. Setiap tatapan dinginnya, setiap kata kasarnya, setiap kali ia menyakitiku... Semua itu karena ia mengira aku selingkuhan ayahnya. Ia membenci aku karena menganggap aku wanita murahan yang menjadi simpanan ayahnya. Sakit itu kembali merobek dadanya—bukan karena dimarahi, bukan karena dibentak, tapi karena kesalahpahaman yang begitu kejam, yang kini terjalin begitu rapat seakan takkan pernah bisa diurai kembali. Lelaki di bangku depan sesekali melirik lewat kaca spion, ragu-ragu, namun akhirnya ha












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.