LOGINSeminar berjalan berjam-jam, namun bagi Alana waktu seakan berjalan tanpa henti dalam kebekuan. Ia tetap menjalankan tugasnya—membagikan materi, mencatat hal penting, membantu peserta yang bertanya—semuanya dilakukan dengan gerakan teratur, wajah tenang, seolah tak ada yang retak di dalam dadanya. Hanya sesekali saat ia menunduk, matanya menatap kosong ke lantai, menahan rasa sesak yang naik perlahan. Akhirnya acara selesai. Orang-orang mulai berhamburan keluar, berbicara riang, berfoto bersama, saling berjanji bertemu lagi. Alana segera merapikan barang-barangnya, berniat pergi secepat mungkin sebelum ia kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak. Namun saat ia hendak melangkah keluar pintu, suara rendah itu memanggilnya dari belakang—tegas, dingin, dan tak bisa ditolak. “Alana.” Langkahnya terhenti. Bahunya menegang kaku. Ia tak segera berbalik, menarik napas panjang dulu sebelum perlahan memutar tubuhnya. Kara berdiri tak jauh dari sana, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, waj
Keesokan harinya, matahari bersinar terang menyinari halaman kampus yang ramai, namun cahaya itu tak mampu menyentuh dingin yang merasuk hingga ke tulang Alana. Ia melangkah dengan tas tersampir di bahu, wajahnya pucat namun tenang—terlalu tenang—sebagaimana ia berusaha menahan segala retakan yang mulai merobek hatinya. Hari ini ia memiliki janji sebagai asisten dosen untuk membantu kegiatan seminar, dan ia tak akan membiarkan apa pun—siapa pun—menghalanginya. Namun saat ia baru hendak melewati lorong menuju ruangan acara, langkah kakinya mendadak terhenti. Di hadapannya, Yasmin bersama sahabatnya Dina berdiri berderet lebar, sengaja menghadang jalan dengan senyum-senyum penuh arti yang tak menyenangkan. “Udah tahu belum?” tanya Yasmin duluan, nada suaranya terdengar manis namun penuh sindiran tajam, matanya menyapu wajah Alana seakan sedang menunggu pemandangan lucu. Alana tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menatap datar, lalu dengan gerakan halus namun tegas, ia menepis tang
Semenjak malam itu, kehangatan yang sempat sempat menyelinap di antara mereka lenyap sepenuhnya. Rumah itu kembali menjadi ruang dingin yang penuh kebekuan—tak ada lagi sapaan, tak ada lagi tatapan yang beradu, bahkan udara yang mereka hirup bersama terasa berat dan penuh jarak. Alana tahu, luka itu tak lagi bisa ditambal; ia hanya menunggu waktu sampai benang yang tersisa putus sepenuhnya. Hari itu, di ruang tengah yang megah namun sunyi, Kara duduk bersandar kaku di sofa kulit. Wajahnya datar namun matanya menyimpan ketidaksukaan yang mendidih, seakan setiap napas yang terhubung dengan kisah pernikahan ini adalah siksaan baginya. “Aku ingin mengakhiri semuanya,” ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas memecah keheningan. Rena yang sedang memegang gelas teh, menekan pinggiran gelas itu begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh perlahan, senyum tenangnya retak sedikit demi sedikit. “Kara, kenapa begitu? Apa kamu ingin melihat keluargamu hancur berantakan hanya
Taksi itu terus melaju membelah jalanan yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat bagai bayangan samar di balik kaca yang berkabut oleh napasnya. Alana masih meringkuk di sudut bangku belakang, bahunya terus bergetar meski tangisnya mulai mereda menjadi isak halus yang sesekali menyengat dadanya. Pikirannya berputar kacau, seakan terjebak dalam labirin gelap tanpa jalan keluar. Jadi sejak awal ia sudah membenci aku, batinnya perih, meremas kain kemejnya hingga jari-jarinya terasa kaku. Setiap tatapan dinginnya, setiap kata kasarnya, setiap kali ia menyakitiku... Semua itu karena ia mengira aku selingkuhan ayahnya. Ia membenci aku karena menganggap aku wanita murahan yang menjadi simpanan ayahnya. Sakit itu kembali merobek dadanya—bukan karena dimarahi, bukan karena dibentak, tapi karena kesalahpahaman yang begitu kejam, yang kini terjalin begitu rapat seakan takkan pernah bisa diurai kembali. Lelaki di bangku depan sesekali melirik lewat kaca spion, ragu-ragu, namun akhirnya ha
Suasana kembali terbenam dalam keheningan yang menyesakkan, hanya terdengar suara napas yang berusaha dikendalikan dan denting halus sendok yang menyentuh piring—suara yang terdengar begitu keras, seolah memecahkan kebekuan yang menyelimuti ruangan. Alana menunduk dalam, menatap nasi di piringnya yang tak berkurang sedikit pun. Tenggorokannya terasa kering, seakan tertutup duri, sehingga setiap kali ia mencoba menelan, rasa perih menyergap tanpa ampun. Ia tahu, ia harus berkata sesuatu. Harus berbuat sesuatu. Namun kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik kerongkongannya. Tiba-tiba, suara Rena kembali memecah keheningan, nada bicaranya begitu santai namun penuh jebakan: “Ngomong-ngomong, Alana, dari tadi Mommy perhatikan kamu jarang menatap Jayden, ya. Padahal beliau ayah mertuamu, orang yang harus kamu hormati setara dengan orang tuamu sendiri. Apa kamu keberatan berhadapan dengan beliau?” Pertanyaan itu melayang begitu ringan, na
Suara itu tertahan di tenggorokannya, nyaris tak terdengar. Napas Alana tercekat, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba saja lenyap. Kakinya terasa lemas seketika, seakan lantai di bawahnya berubah menjadi lautan kabut yang tak berpijak. Dunia seakan berhenti berputar saat itu juga. Jadi Pak Jayden... adalah ayah dari Kara? Pikiran itu berulang-ulang menghantam kepalanya, membuatnya pusing dan mual. "Jadi ini alasan Aksara membenciku dan menghinaku ?" —tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa pria yang diam-diam memuja-mujanya itu adalah ayah kandung laki-laki yang kini menjadi pemilik hidupnya. Di sampingnya, Jayden tertegun. Matanya yang biasanya teduh kini memancarkan kekacauan yang tak bisa ia sembunyikan. Tatapannya terpaku pada wajah Alana—gadis yang selama ini ia kagumi dari jauh, yang sering ia sebut sebagai "cahaya terakhir" dalam masa tuanya yang sepi. Dan kini, gadis itu berdiri di hadapannya... sebagai istri anak kandungnya sendiri. Rasa bersalah, kecewa,







