"Kak, kenapa aku nggak boleh meratap? Adipati itu nggak punya keturunan. Memangnya kenapa kalau aku menangisi beliau?"Di dalam mobil menuju lokasi pemakaman, begitu mendengar keluhan yang begitu familier dari adik angkat suamiku, aku langsung sadar bahwa aku telah terlahir kembali.Mata Ivana sudah memerah. Bahkan sebelum mulai meratap untuk mencari simpati, dia lebih dulu berpura-pura menangis seolah-olah aku telah menindasnya.Ibu mertuaku langsung memeluknya dengan penuh rasa iba, lalu melotot ke arahku. "Di pemakaman bangsawan yang datang semuanya orang terpandang. Memangnya kenapa kalau dia nangis sedikit? Siapa tahu ada bangsawan yang merasa hatinya baik, lalu tertarik menjadikannya menantu?"Melihat ada yang membelanya, Ivana pun tak lagi menyembunyikan niatnya. Sambil merias matanya di depan cermin, dia berkata, "Aku sudah mempelajari riasan ini selama sebulan. Dengan riasan ini, nanti waktu nangis pasti kelihatan cantik dan bikin orang iba!""Kamu cuma iri karena aku masih mu
Read more