แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Makjos
Setelah memasuki area pemakaman, mungkin karena melihat kami adalah tamu dari luar negeri, seorang staf wanita menjelaskan tata cara prosesi pemakaman kepada kami. Dia pun tidak lupa mengingatkan.

"Sesuai adat bangsawan Inglis, para tamu nggak boleh meratap selama upacara berlangsung ...."

Begitu staf itu pergi, Ivana langsung mengangkat alisnya. "Huh, dia pasti iri karena aku lebih cantik darinya. Dia takut tuannya malah kepincut sama aku!"

Ibu mertuaku buru-buru mengangguk setuju. "Para perempuan yang melayani kaum bangsawan itu semuanya penuh perhitungan."

Aku tak kuasa menahan tawa. Kepercayaan diri Ivana benar-benar berlebihan. Apa dia benar-benar mengira dirinya secantik itu sampai semua perempuan di dunia akan iri padanya?

Melihatku tertawa, Ivana seperti menyadari sesuatu. "Kamu ngobrol akrab sekali dengan staf tadi. Jangan-jangan kamu sudah menyuapnya? Hanya demi mencegahku meratap, kamu rela melakukan apa saja ya!"

Mendengar itu, Melvin ikut membentakku, "Kiara, jaga sikapmu! Di pemakaman hari ini, Pangeran Chaplin dari keluarga kerajaan Inglis juga akan hadir. Kalau sampai gara-gara ulahmu aku gagal mewarisi harta itu, aku nggak akan mengampunimu!"

Begitu mendengar kata "pangeran", mata Ivana langsung berbinar.

Ibu mertuaku segera memperingatkanku, "Kiara, jangan macam-macam! Kalau sampai gara-gara kamu aku gagal jadi ibu mertua seorang pangeran, akan kusuruh Melvin ceraikan kamu!"

Aku hampir tertawa mendengarnya. Mereka benar-benar mengira Ivana punya kemampuan sebesar itu?

Hanya dengan sekali pandang, Ivana bisa membuat Pangeran Chaplin jatuh cinta padanya dan bersikeras menikahinya?

Ivana jelas tahu anggota keluarga kerajaan dan para bangsawan hadir, tetapi dia masih nekat ingin menggunakan aksi meratap untuk memikat pria.

Aku tinggal menunggu pertunjukan saat mereka harus menanggung akibat dari ulah mereka sendiri.

Makin banyak tamu berdatangan. Ivana pun menghampiri setiap pria lajang yang ditemuinya untuk berjabat tangan.

Dengan bahasa asing yang terbata-bata, dia terus memancarkan pesona yang hanya ada dalam khayalannya sendiri.

Tiba-tiba, dia memegangi dadanya dan berpura-pura sesak napas sebelum menoleh kepadaku. "Kak, tolong ambilkan semprotan di mobil. Aku takut nanti terlalu gugup sampai sesak napas."

Heh, tentu saja. Untuk persiapan meratap sekeras-kerasnya nanti, memang wajar kalau dia butuh semprotan itu.

Tanpa ragu, aku langsung menuju mobil. Namun, baru saja membuka pintu dan masuk, tangan dan kakiku tiba-tiba diikat. Kemudian, pintu mobil langsung dikunci rapat.

Dari balik jendela mobil, Ivana menatapku dengan penuh penghinaan.

"Kamu berkali-kali menghalangiku karena takut aku menikah dengan bangsawan dan mengunggulimu, 'kan?"

Ibu mertuaku juga melirikku dengan dingin. "Kamu yang sudah punya suami jelas nggak punya kesempatan lagi! Hari ini ada begitu banyak pria muda berbakat, biarkan Ivana memilih sesuka hatinya!"

Melihat Melvin berdiri di luar tanpa bereaksi sedikit pun, aku menatapnya tajam. "Kamu sengaja membiarkan mereka mengurungku di sini? Cuacanya sepanas ini, mobil juga tertutup rapat. Kalian ingin membuatku mati kehabisan napas?"

Melvin mengerutkan kening, lalu membentakku dengan tidak sabar. "Berhenti bersikap pura-pura menyedihkan! Aku sudah muak melihatmu setiap hari bersaing dengan Ivana! Diam saja di dalam mobil sampai acara pemakaman selesai!"

Setelah berkata demikian, dia langsung berbalik pergi, sementara Ivana masih sibuk merias wajah di depan kaca spion.

Melihatnya terus menepuk-nepukkan bedak tebal ke wajahnya, aku tak bisa menahan cibiran.

"Tambah saja bedaknya lebih tebal lagi. Orang yang nggak tahu mungkin akan mengira hari ini yang dimakamkan itu kamu."

Ivana sempat mengernyit, tetapi sesaat kemudian dia kembali tersenyum sinis. "Kak, sebenarnya kamu justru harus berharap aku berhasil mendapatkan suami kaya. Kalau aku nggak menemukan pria yang lebih baik, aku juga nggak keberatan merebut suamimu."

Hah. Sejak Melvin mendorongku jatuh dari gunung bersalju, aku sudah melihat jelas perasaan terlarang yang selama ini dia simpan terhadap adik angkatnya.

Dia bahkan tega menyalahkanku atas kematian Ivana dan menyusun rencana untuk membunuhku.

Di permukaan, dia memang suamiku. Namun di dalam hatinya, sejak awal hanya ada adik angkatnya.

Setelah menyadari semuanya, aku menatap Ivana sambil menyunggingkan senyuman tipis. "Merebut? Bajingan seperti dia sudah lama nggak kuinginkan. Kalau kamu mau, ambil saja!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 9

    "Dengar baik-baik, semuanya! Ayahnya nggak punya uang untuk berobat karena mereka gagal mendapatkan warisan.""Lalu kenapa mereka gagal mendapatkannya? Silakan tonton video ini!"Sambil berkata demikian, aku memutar video yang kurekam saat menghadiri pemakaman bangsawan dulu.Di dalam video itu, tingkah Ivana yang meraung-raung dan menangis terekam dengan sangat jelas."Lihat sendiri! Wanita inilah yang mengabaikan aturan, bersikeras meratap, melanggar pantangan, dan akhirnya menggagalkan semuanya!""Sudah begitu banyak orang berusaha menghentikannya, tapi dia tetap keras kepala. Dia memang sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda para bangsawan!"Awalnya masih ada sebagian netizen yang setengah percaya dan setengah ragu. Namun tak lama kemudian, arah opini di siaran langsung langsung berbalik.Asisten Pangeran Chaplin mengeluarkan pernyataan resmi melalui media di dalam negeri. Di dalam pengumuman itu dijelaskan dengan sangat jelas bahwa yang membuat keributan di pemakaman a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 8

    Beberapa bulan kemudian, ayah Melvin akhirnya meninggal dunia.Namun saat upacara pemakaman berlangsung, keluarga mereka bahkan tidak mau membiarkan almarhum pergi dengan layak.Kamera langsung diarahkan ke jenazah, lalu tanpa rasa sungkan mereka memulai siaran langsung.Seluruh keluarga kompak menuduhku telah menyiksa ayah mereka, hingga namaku langsung menjadi topik hangat di media sosial.Ivana menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. "Kiara benar-benar kejam! Selama ini dia menyiksa ayah mertuanya, belum lagi sengaja membawa kabur uang untuk biaya pengobatan!"Mata Melvin memerah. Air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Benar! Sejak pulang dari pemakaman bangsawan di Inglis, pikirannya cuma dipenuhi pria-pria di sana. Dia terus memaksa ingin cerai!"Ibu mertuaku menepuk-nepuk pahanya sambil meraung histeris. "Suamiku, kamu benar-benar malang! Bisa-bisanya mendapat menantu perempuan berhati iblis seperti itu!"Tangisan mereka bertiga membuat kolom komentar siaran langsung

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 7

    Barulah saat itu Melvin benar-benar panik. Dia langsung menarikku ke sudut yang sepi sambil memohon dengan tergesa-gesa, "Sayang, tolong bicara baik-baik dengan Pangeran Chaplin. Bilang kami nggak sengaja menguncimu di dalam mobil.""Kita ini suami istri. Warisan itu juga harta bersama kita. Masa kamu tega melihat semuanya lenyap begitu saja?"Aku mencibir. Tak kusangka pria ini masih punya muka untuk memohon kepadaku. "Sekarang baru ingat aku ini istrimu? Waktu kamu mengunciku di dalam mobil tadi, kenapa nggak ingat?""Waktu ibu dan adikmu memperlakukanku seenaknya, bukannya kamu juga cuma berdiri di samping dan membiarkannya?"Melvin langsung tidak bisa berkata-kata. Wajahnya memerah karena marah. "Kiara! Kalau bukan karena kamu setiap hari cemburu dan cari gara-gara dengan Ivana, apa aku akan memperlakukanmu seperti ini?""Semua ini salahmu sendiri! Kamu nggak bisa memikirkan keluarga ini sedikit?"Begitu dia kembali menyalahkanku dan bersikeras mengatakan aku selalu memusuhi adik a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 6

    Wajah mereka bertiga seketika pucat pasi, seolah melihat hantu.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang menyelamatkanku dari dalam mobil ternyata adalah Pangeran Chaplin.Bibir Ivana bergetar saat buru-buru membela diri, "Dia sendiri yang ketiduran dan nggak turun dari mobil bersama kami! Bukan kami yang sengaja menguncinya dari luar!"Melvin pun segera maju untuk mendukung, "Benar! Dia memang pemalas dan kerjanya cuma tidur. Dia nggak pernah melakukan apa-apa di rumah!""Pangeran Chaplin, jangan sampai tertipu olehnya! Kelihatannya saja dia lembut, padahal segala macam perbuatan keji juga sanggup dia lakukan!"Melihat mereka memfitnahku tanpa sedikit pun rasa bersalah, hatiku benar-benar menjadi dingin.Baru kusadari, pernikahan beberapa tahun terakhir ini ternyata tak lebih dari sebuah lelucon yang menyedihkan.Dengan marah, Chaplin mengambil foto hasil rekaman CCTV yang baru saja dicetak, lalu membantingnya ke wajah Melvin. "Kalian kira area parkir nggak dipasangi kamera

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 5

    Wajah Ivana dan Melvin seketika pucat pasi.Dari sekian banyak waktu, kenapa justru saat mereka menyeretku keluar mereka harus bertemu dengan Pangeran Chaplin?Dengan panik, Melvin segera maju. Suaranya sampai terdengar gemetar. "Pangeran Chaplin, mohon jangan salah paham! Perempuan ini yang membuat keributan di pemakaman. Kami hanya berusaha menjaga ketertiban!"Pangeran Chaplin mencibir, lalu mengangkat tangan menunjuk ke arah pintu. "Kalian pikir kami semua buta? Yang meratap dan mengacaukan pemakaman justru kalian!""Masih berani mengaku menjaga ketertiban? Yang seharusnya diusir adalah kalian yang nggak tahu sopan santun!"Tak menyangka akan dimarahi habis-habisan oleh Pangeran Chaplin, wajah Melvin berganti-ganti antara pucat dan merah karena malu.Sementara itu, Ivana terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan kakinya. Air matanya mengalir begitu saja. "Pangeran Chaplin, lihatlah! Pergelangan kakiku terkilir karena didorong dia! Dia sudah menindasku seperti ini, tapi Panger

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 4

    Aksi meratap itu membuat upacara pemakaman tidak bisa dilanjutkan. Pengurus rumah sang Adipati akhirnya tak sanggup lagi menahan diri dan maju menasihati Ivana."Nona, Anda nggak kenal sang Adipati, jadi tentu nggak memahami kepribadiannya.""Saya telah melayani beliau selama 40 tahun. Di masa tuanya, beliau sering berkata bahwa yang paling beliau benci adalah orang-orang yang berpura-pura sedih dan menangis di pemakaman."Namun, Ivana justru menganggap wanita itu kesal karena tidak mendapatkan warisan."Kamu sudah melayani selama 40 tahun, tapi cuma menerima gaji. Bahkan status pun nggak dapat. Memangnya kamu tahu apa tentang penderitaan sang Adipati?""Sang Adipati meninggal seorang diri. Kamu yang sudah menemaninya selama 40 tahun kok bisa setega ini?"Ucapan itu bagaikan pisau yang menusuk hati sang pengurus rumah hingga matanya langsung memerah.Kesedihan yang selama ini dia tahan atas kepergian mendiang akhirnya tak mampu lagi dibendung. Dia pun berbalik dan berjalan keluar.Meli

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status