แชร์

Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman
Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman
ผู้แต่ง: Makjos

Bab 1

ผู้เขียน: Makjos
"Kak, kenapa aku nggak boleh meratap? Adipati itu nggak punya keturunan. Memangnya kenapa kalau aku menangisi beliau?"

Di dalam mobil menuju lokasi pemakaman, begitu mendengar keluhan yang begitu familier dari adik angkat suamiku, aku langsung sadar bahwa aku telah terlahir kembali.

Mata Ivana sudah memerah. Bahkan sebelum mulai meratap untuk mencari simpati, dia lebih dulu berpura-pura menangis seolah-olah aku telah menindasnya.

Ibu mertuaku langsung memeluknya dengan penuh rasa iba, lalu melotot ke arahku. "Di pemakaman bangsawan yang datang semuanya orang terpandang. Memangnya kenapa kalau dia nangis sedikit? Siapa tahu ada bangsawan yang merasa hatinya baik, lalu tertarik menjadikannya menantu?"

Melihat ada yang membelanya, Ivana pun tak lagi menyembunyikan niatnya. Sambil merias matanya di depan cermin, dia berkata, "Aku sudah mempelajari riasan ini selama sebulan. Dengan riasan ini, nanti waktu nangis pasti kelihatan cantik dan bikin orang iba!"

"Kamu cuma iri karena aku masih muda dan cantik. Kamu takut aku lebih menarik perhatian para bangsawan daripada dirimu, 'kan?"

Demi pemakaman hari ini, Ivana memang sudah mempersiapkan semuanya sejak lama. Dia menghabiskan banyak uang untuk perawatan kulit selama sebulan penuh di salon kecantikan terbaik, bahkan sengaja belajar cara menangis agar terlihat menyentuh hati.

Aku menyunggingkan senyuman sinis. "Kamu datang untuk menghadiri pemakaman, bukan cari jodoh. Dandananmu mencolok begini, takut orang nggak sadar kalau kamu sedang berburu pria ya?"

Ivana langsung bereaksi seperti kucing yang ekornya diinjak. Sambil terisak, dia berkata, "Aku sengaja mencari tahu riwayat hidup sang Adipati, bahkan minta orang tuliskan pidato belasungkawa untukku. Aku sudah menghafalnya di luar kepala."

"Bukankah bagus kalau sang Adipati tahu masih ada tamu dari negeri lain yang mengenangnya? Kamu memang selalu memandang rendah aku!"

Suamiku, Melvin, juga ikut menyindir dengan nada kesal, "Kiara, sebenarnya ada apa denganmu? Di dalam negeri buat ulah belum cukup, sekarang mau bikin malu sampai ke luar negeri?"

"Ivana sudah berusaha mati-matian demi pemakaman ini. Siapa tahu dia bisa mengharumkan nama keluarga kita! Sedangkan kamu? Selain mencari-cari kesalahan, memangnya bisa apa?"

Melvin memang selalu seperti itu. Dia memanjakan adik angkatnya dan selalu merasa akulah yang menindasnya.

Seaneh apa pun perbuatan adik angkatnya, dia tidak pernah menegurnya. Malah aku yang dipaksa menerima dan memujinya.

Di kehidupan sebelumnya, aku sudah berkali-kali menegaskan bahwa meratap di pemakaman bangsawan Inglis merupakan tindakan yang sangat tidak sopan.

Ayah mertuaku masih menunggu uang untuk biaya pengobatan. Hanya setelah warisan itu diterima, kondisi keuangan keluarga kami bisa sedikit lega.

Kalau sampai mengganggu ketenangan mendiang dan membuat para bangsawan yang hadir merasa tidak nyaman, jangankan mewarisi harta, kami semua mungkin akan langsung diusir dari pemakaman!

Namun, Ivana tetap keras kepala dan bersikeras ingin meratap. Karena tak mampu membujuknya, akhirnya aku menutup mulutnya di depan semua orang agar dia tidak mengeluarkan suara.

Tak disangka, Ivana langsung mengamuk. Dia menangis sambil berlari keluar, lalu ditembak mati oleh seorang preman.

Setelah suamiku berhasil mendapatkan warisan itu, dia justru menimpakan seluruh kematian adik angkatnya kepadaku, lalu menguburku hidup-hidup di gunung bersalju tanpa belas kasihan!

Di kehidupan ini, aku memutuskan hanya akan diam menyaksikan Ivana mencari mati sendiri. Dia mau menangis sekeras apa pun, silakan.

Kalau hari ini suamiku gagal mendapatkan warisan, ayah mertuaku tidak akan punya uang lagi untuk berobat.

Saat itu tiba, mereka mungkin benar-benar harus mempersiapkan pemakaman ayah mertuaku. Setelah itu, seluruh keluarga akhirnya punya alasan untuk meratap.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 9

    "Dengar baik-baik, semuanya! Ayahnya nggak punya uang untuk berobat karena mereka gagal mendapatkan warisan.""Lalu kenapa mereka gagal mendapatkannya? Silakan tonton video ini!"Sambil berkata demikian, aku memutar video yang kurekam saat menghadiri pemakaman bangsawan dulu.Di dalam video itu, tingkah Ivana yang meraung-raung dan menangis terekam dengan sangat jelas."Lihat sendiri! Wanita inilah yang mengabaikan aturan, bersikeras meratap, melanggar pantangan, dan akhirnya menggagalkan semuanya!""Sudah begitu banyak orang berusaha menghentikannya, tapi dia tetap keras kepala. Dia memang sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda para bangsawan!"Awalnya masih ada sebagian netizen yang setengah percaya dan setengah ragu. Namun tak lama kemudian, arah opini di siaran langsung langsung berbalik.Asisten Pangeran Chaplin mengeluarkan pernyataan resmi melalui media di dalam negeri. Di dalam pengumuman itu dijelaskan dengan sangat jelas bahwa yang membuat keributan di pemakaman a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 8

    Beberapa bulan kemudian, ayah Melvin akhirnya meninggal dunia.Namun saat upacara pemakaman berlangsung, keluarga mereka bahkan tidak mau membiarkan almarhum pergi dengan layak.Kamera langsung diarahkan ke jenazah, lalu tanpa rasa sungkan mereka memulai siaran langsung.Seluruh keluarga kompak menuduhku telah menyiksa ayah mereka, hingga namaku langsung menjadi topik hangat di media sosial.Ivana menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. "Kiara benar-benar kejam! Selama ini dia menyiksa ayah mertuanya, belum lagi sengaja membawa kabur uang untuk biaya pengobatan!"Mata Melvin memerah. Air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Benar! Sejak pulang dari pemakaman bangsawan di Inglis, pikirannya cuma dipenuhi pria-pria di sana. Dia terus memaksa ingin cerai!"Ibu mertuaku menepuk-nepuk pahanya sambil meraung histeris. "Suamiku, kamu benar-benar malang! Bisa-bisanya mendapat menantu perempuan berhati iblis seperti itu!"Tangisan mereka bertiga membuat kolom komentar siaran langsung

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 7

    Barulah saat itu Melvin benar-benar panik. Dia langsung menarikku ke sudut yang sepi sambil memohon dengan tergesa-gesa, "Sayang, tolong bicara baik-baik dengan Pangeran Chaplin. Bilang kami nggak sengaja menguncimu di dalam mobil.""Kita ini suami istri. Warisan itu juga harta bersama kita. Masa kamu tega melihat semuanya lenyap begitu saja?"Aku mencibir. Tak kusangka pria ini masih punya muka untuk memohon kepadaku. "Sekarang baru ingat aku ini istrimu? Waktu kamu mengunciku di dalam mobil tadi, kenapa nggak ingat?""Waktu ibu dan adikmu memperlakukanku seenaknya, bukannya kamu juga cuma berdiri di samping dan membiarkannya?"Melvin langsung tidak bisa berkata-kata. Wajahnya memerah karena marah. "Kiara! Kalau bukan karena kamu setiap hari cemburu dan cari gara-gara dengan Ivana, apa aku akan memperlakukanmu seperti ini?""Semua ini salahmu sendiri! Kamu nggak bisa memikirkan keluarga ini sedikit?"Begitu dia kembali menyalahkanku dan bersikeras mengatakan aku selalu memusuhi adik a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 6

    Wajah mereka bertiga seketika pucat pasi, seolah melihat hantu.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang menyelamatkanku dari dalam mobil ternyata adalah Pangeran Chaplin.Bibir Ivana bergetar saat buru-buru membela diri, "Dia sendiri yang ketiduran dan nggak turun dari mobil bersama kami! Bukan kami yang sengaja menguncinya dari luar!"Melvin pun segera maju untuk mendukung, "Benar! Dia memang pemalas dan kerjanya cuma tidur. Dia nggak pernah melakukan apa-apa di rumah!""Pangeran Chaplin, jangan sampai tertipu olehnya! Kelihatannya saja dia lembut, padahal segala macam perbuatan keji juga sanggup dia lakukan!"Melihat mereka memfitnahku tanpa sedikit pun rasa bersalah, hatiku benar-benar menjadi dingin.Baru kusadari, pernikahan beberapa tahun terakhir ini ternyata tak lebih dari sebuah lelucon yang menyedihkan.Dengan marah, Chaplin mengambil foto hasil rekaman CCTV yang baru saja dicetak, lalu membantingnya ke wajah Melvin. "Kalian kira area parkir nggak dipasangi kamera

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 5

    Wajah Ivana dan Melvin seketika pucat pasi.Dari sekian banyak waktu, kenapa justru saat mereka menyeretku keluar mereka harus bertemu dengan Pangeran Chaplin?Dengan panik, Melvin segera maju. Suaranya sampai terdengar gemetar. "Pangeran Chaplin, mohon jangan salah paham! Perempuan ini yang membuat keributan di pemakaman. Kami hanya berusaha menjaga ketertiban!"Pangeran Chaplin mencibir, lalu mengangkat tangan menunjuk ke arah pintu. "Kalian pikir kami semua buta? Yang meratap dan mengacaukan pemakaman justru kalian!""Masih berani mengaku menjaga ketertiban? Yang seharusnya diusir adalah kalian yang nggak tahu sopan santun!"Tak menyangka akan dimarahi habis-habisan oleh Pangeran Chaplin, wajah Melvin berganti-ganti antara pucat dan merah karena malu.Sementara itu, Ivana terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan kakinya. Air matanya mengalir begitu saja. "Pangeran Chaplin, lihatlah! Pergelangan kakiku terkilir karena didorong dia! Dia sudah menindasku seperti ini, tapi Panger

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 4

    Aksi meratap itu membuat upacara pemakaman tidak bisa dilanjutkan. Pengurus rumah sang Adipati akhirnya tak sanggup lagi menahan diri dan maju menasihati Ivana."Nona, Anda nggak kenal sang Adipati, jadi tentu nggak memahami kepribadiannya.""Saya telah melayani beliau selama 40 tahun. Di masa tuanya, beliau sering berkata bahwa yang paling beliau benci adalah orang-orang yang berpura-pura sedih dan menangis di pemakaman."Namun, Ivana justru menganggap wanita itu kesal karena tidak mendapatkan warisan."Kamu sudah melayani selama 40 tahun, tapi cuma menerima gaji. Bahkan status pun nggak dapat. Memangnya kamu tahu apa tentang penderitaan sang Adipati?""Sang Adipati meninggal seorang diri. Kamu yang sudah menemaninya selama 40 tahun kok bisa setega ini?"Ucapan itu bagaikan pisau yang menusuk hati sang pengurus rumah hingga matanya langsung memerah.Kesedihan yang selama ini dia tahan atas kepergian mendiang akhirnya tak mampu lagi dibendung. Dia pun berbalik dan berjalan keluar.Meli

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status