แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Makjos
Setelah upacara pemakaman dimulai, Ivana berdiri di depan semua orang dan mulai membacakan pidato belasungkawa.

Awalnya dia hanya terisak pelan, tetapi lama-kelamaan tangisnya berubah menjadi isak yang tak kunjung berhenti.

Orang-orang di sekitarnya memandangnya dengan tatapan aneh, tetapi Ivana sama sekali tidak menyadarinya.

Sebaliknya, dia malah mengira tatapan penuh keterkejutan itu muncul karena semua orang tersentuh oleh kesedihannya.

Seorang pria yang melihatnya menangis begitu pilu menyodorkan saputangan saat dia turun dari podium.

Mata Ivana sontak berbinar. Dia mengira pria itu sedang berusaha mendekatinya. Tangisnya pun makin keras, air matanya mengalir tanpa henti.

Wanita yang berdiri di samping pria itu langsung mencibir, lalu berkata dengan nada mengejek, "Kamu datang dari luar negeri, jadi mungkin nggak tahu adat kami ya? Ini acara pemakaman yang khidmat. Kenapa kamu malah nangis seheboh itu?"

Ivana langsung yakin wanita itu hanya iri karena pria itu menunjukkan perhatian kepadanya. Dia pun mendongak dan membalas, "Berarti kematian sang Adipati sama sekali nggak membuatmu sedih ya? Sampai-sampai menurutmu setetes air mata pun nggak layak ditumpahkan!"

"Orang sedingin kamu masih berani mengajariku soal tata krama?" Setelah puas, Ivana makin yakin bahwa para pria yang akan tertarik padanya kalau dia menangis. Para wanita bangsawan pun hanya akan cemburu.

Dalam hati, dia makin percaya bahwa sandiwaranya benar-benar berhasil. Dia segera menarik ibu mertuaku untuk ikut menangis bersamanya. Suara mereka berdua begitu keras, bahkan lebih nyaring daripada pengeras suara.

Para tamu yang hadir pun satu per satu mulai mengernyit. Karena takut terjadi keributan, mereka segera meminta seorang pastor yang memiliki kedudukan khusus untuk maju menghentikan mereka.

Mereka berpikir, mungkin jika pastor menjelaskan adat pemakaman kepada orang asing itu, mereka akan bersedia mendengarkan.

Pastor baru saja mengangkat tangan hendak menepuk bahu Ivana sebagai tanda menghibur. Namun, begitu Ivana mendongak dan melihat yang berdiri di depannya adalah seorang pria tua, dia langsung menepis hingga pastor itu terdorong.

Sikap kasar itu membuat wajah sang pastor seketika berubah muram. Dengan nada tegas, dia berkata, "Berhenti menangis. Dalam pemakaman bangsawan, yang dijunjung adalah sikap hormat dalam keheningan. Keributan yang kalian buat ini adalah bentuk penghinaan besar terhadap mendiang."

Namun, Ivana justru menganggap pria tua itu kesal karena gagal memanfaatkan kesempatan untuk menyentuhnya, jadi sengaja mencari-cari masalah.

Wajahnya langsung berubah masam. "Bahkan Tuhan saja mengajarkan manusia untuk berbelas kasih, sementara Anda malah berpegang pada aturan kuno yang kaku. Menangis saja nggak boleh. Untuk apa mengekang sifat alami manusia seperti itu?"

Rentetan alasan yang tidak masuk akal itu membuat sang pastor terpaku di tempat. Untuk sesaat, dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

Tak lama kemudian, seluruh tamu menoleh ke arah Ivana, membuatnya makin sombong. Dia mengira semua orang terpukau oleh pandangannya yang unik dan kepiawaiannya berbicara.

Adapun tatapan-tatapan tak bersahabat itu, menurutnya tidak lebih dari rasa iri para wanita yang sudah mencapai puncaknya.

Dia segera mendekat ke telinga Melvin dan berbisik, "Kak, cepat nangis! Lihat, semua orang benar-benar mengagumiku! Bukannya Kakak ingin berkenalan dengan para bangsawan? Ini kesempatan bagus untuk menarik perhatian mereka!"

Begitu mendengar ada keuntungan yang bisa didapat, Melvin langsung ikut meraung-raung seperti orang yang baru kehilangan kedua orang tuanya.

Sementara itu, aku yang baru saja diselamatkan secara tidak sengaja oleh seorang bangsawan, kini berdiri di lantai dua aula pemakaman.

Dari sana, aku menyaksikan dengan jelas sandiwara tangisan yang dimainkan Ivana bersama seluruh keluarganya.

Sekelompok orang bodoh itu menangis dan meraung tanpa henti hingga kehilangan arah, sama sekali tidak menyadari bahwa wajah para bangsawan yang berdiri di lantai atas sudah muram karena murka.

Pertunjukan yang sebenarnya ... baru saja akan dimulai.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 9

    "Dengar baik-baik, semuanya! Ayahnya nggak punya uang untuk berobat karena mereka gagal mendapatkan warisan.""Lalu kenapa mereka gagal mendapatkannya? Silakan tonton video ini!"Sambil berkata demikian, aku memutar video yang kurekam saat menghadiri pemakaman bangsawan dulu.Di dalam video itu, tingkah Ivana yang meraung-raung dan menangis terekam dengan sangat jelas."Lihat sendiri! Wanita inilah yang mengabaikan aturan, bersikeras meratap, melanggar pantangan, dan akhirnya menggagalkan semuanya!""Sudah begitu banyak orang berusaha menghentikannya, tapi dia tetap keras kepala. Dia memang sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda para bangsawan!"Awalnya masih ada sebagian netizen yang setengah percaya dan setengah ragu. Namun tak lama kemudian, arah opini di siaran langsung langsung berbalik.Asisten Pangeran Chaplin mengeluarkan pernyataan resmi melalui media di dalam negeri. Di dalam pengumuman itu dijelaskan dengan sangat jelas bahwa yang membuat keributan di pemakaman a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 8

    Beberapa bulan kemudian, ayah Melvin akhirnya meninggal dunia.Namun saat upacara pemakaman berlangsung, keluarga mereka bahkan tidak mau membiarkan almarhum pergi dengan layak.Kamera langsung diarahkan ke jenazah, lalu tanpa rasa sungkan mereka memulai siaran langsung.Seluruh keluarga kompak menuduhku telah menyiksa ayah mereka, hingga namaku langsung menjadi topik hangat di media sosial.Ivana menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. "Kiara benar-benar kejam! Selama ini dia menyiksa ayah mertuanya, belum lagi sengaja membawa kabur uang untuk biaya pengobatan!"Mata Melvin memerah. Air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Benar! Sejak pulang dari pemakaman bangsawan di Inglis, pikirannya cuma dipenuhi pria-pria di sana. Dia terus memaksa ingin cerai!"Ibu mertuaku menepuk-nepuk pahanya sambil meraung histeris. "Suamiku, kamu benar-benar malang! Bisa-bisanya mendapat menantu perempuan berhati iblis seperti itu!"Tangisan mereka bertiga membuat kolom komentar siaran langsung

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 7

    Barulah saat itu Melvin benar-benar panik. Dia langsung menarikku ke sudut yang sepi sambil memohon dengan tergesa-gesa, "Sayang, tolong bicara baik-baik dengan Pangeran Chaplin. Bilang kami nggak sengaja menguncimu di dalam mobil.""Kita ini suami istri. Warisan itu juga harta bersama kita. Masa kamu tega melihat semuanya lenyap begitu saja?"Aku mencibir. Tak kusangka pria ini masih punya muka untuk memohon kepadaku. "Sekarang baru ingat aku ini istrimu? Waktu kamu mengunciku di dalam mobil tadi, kenapa nggak ingat?""Waktu ibu dan adikmu memperlakukanku seenaknya, bukannya kamu juga cuma berdiri di samping dan membiarkannya?"Melvin langsung tidak bisa berkata-kata. Wajahnya memerah karena marah. "Kiara! Kalau bukan karena kamu setiap hari cemburu dan cari gara-gara dengan Ivana, apa aku akan memperlakukanmu seperti ini?""Semua ini salahmu sendiri! Kamu nggak bisa memikirkan keluarga ini sedikit?"Begitu dia kembali menyalahkanku dan bersikeras mengatakan aku selalu memusuhi adik a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 6

    Wajah mereka bertiga seketika pucat pasi, seolah melihat hantu.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang menyelamatkanku dari dalam mobil ternyata adalah Pangeran Chaplin.Bibir Ivana bergetar saat buru-buru membela diri, "Dia sendiri yang ketiduran dan nggak turun dari mobil bersama kami! Bukan kami yang sengaja menguncinya dari luar!"Melvin pun segera maju untuk mendukung, "Benar! Dia memang pemalas dan kerjanya cuma tidur. Dia nggak pernah melakukan apa-apa di rumah!""Pangeran Chaplin, jangan sampai tertipu olehnya! Kelihatannya saja dia lembut, padahal segala macam perbuatan keji juga sanggup dia lakukan!"Melihat mereka memfitnahku tanpa sedikit pun rasa bersalah, hatiku benar-benar menjadi dingin.Baru kusadari, pernikahan beberapa tahun terakhir ini ternyata tak lebih dari sebuah lelucon yang menyedihkan.Dengan marah, Chaplin mengambil foto hasil rekaman CCTV yang baru saja dicetak, lalu membantingnya ke wajah Melvin. "Kalian kira area parkir nggak dipasangi kamera

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 5

    Wajah Ivana dan Melvin seketika pucat pasi.Dari sekian banyak waktu, kenapa justru saat mereka menyeretku keluar mereka harus bertemu dengan Pangeran Chaplin?Dengan panik, Melvin segera maju. Suaranya sampai terdengar gemetar. "Pangeran Chaplin, mohon jangan salah paham! Perempuan ini yang membuat keributan di pemakaman. Kami hanya berusaha menjaga ketertiban!"Pangeran Chaplin mencibir, lalu mengangkat tangan menunjuk ke arah pintu. "Kalian pikir kami semua buta? Yang meratap dan mengacaukan pemakaman justru kalian!""Masih berani mengaku menjaga ketertiban? Yang seharusnya diusir adalah kalian yang nggak tahu sopan santun!"Tak menyangka akan dimarahi habis-habisan oleh Pangeran Chaplin, wajah Melvin berganti-ganti antara pucat dan merah karena malu.Sementara itu, Ivana terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan kakinya. Air matanya mengalir begitu saja. "Pangeran Chaplin, lihatlah! Pergelangan kakiku terkilir karena didorong dia! Dia sudah menindasku seperti ini, tapi Panger

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 4

    Aksi meratap itu membuat upacara pemakaman tidak bisa dilanjutkan. Pengurus rumah sang Adipati akhirnya tak sanggup lagi menahan diri dan maju menasihati Ivana."Nona, Anda nggak kenal sang Adipati, jadi tentu nggak memahami kepribadiannya.""Saya telah melayani beliau selama 40 tahun. Di masa tuanya, beliau sering berkata bahwa yang paling beliau benci adalah orang-orang yang berpura-pura sedih dan menangis di pemakaman."Namun, Ivana justru menganggap wanita itu kesal karena tidak mendapatkan warisan."Kamu sudah melayani selama 40 tahun, tapi cuma menerima gaji. Bahkan status pun nggak dapat. Memangnya kamu tahu apa tentang penderitaan sang Adipati?""Sang Adipati meninggal seorang diri. Kamu yang sudah menemaninya selama 40 tahun kok bisa setega ini?"Ucapan itu bagaikan pisau yang menusuk hati sang pengurus rumah hingga matanya langsung memerah.Kesedihan yang selama ini dia tahan atas kepergian mendiang akhirnya tak mampu lagi dibendung. Dia pun berbalik dan berjalan keluar.Meli

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status