Share

Bab 4

Author: Makjos
Aksi meratap itu membuat upacara pemakaman tidak bisa dilanjutkan. Pengurus rumah sang Adipati akhirnya tak sanggup lagi menahan diri dan maju menasihati Ivana.

"Nona, Anda nggak kenal sang Adipati, jadi tentu nggak memahami kepribadiannya."

"Saya telah melayani beliau selama 40 tahun. Di masa tuanya, beliau sering berkata bahwa yang paling beliau benci adalah orang-orang yang berpura-pura sedih dan menangis di pemakaman."

Namun, Ivana justru menganggap wanita itu kesal karena tidak mendapatkan warisan.

"Kamu sudah melayani selama 40 tahun, tapi cuma menerima gaji. Bahkan status pun nggak dapat. Memangnya kamu tahu apa tentang penderitaan sang Adipati?"

"Sang Adipati meninggal seorang diri. Kamu yang sudah menemaninya selama 40 tahun kok bisa setega ini?"

Ucapan itu bagaikan pisau yang menusuk hati sang pengurus rumah hingga matanya langsung memerah.

Kesedihan yang selama ini dia tahan atas kepergian mendiang akhirnya tak mampu lagi dibendung. Dia pun berbalik dan berjalan keluar.

Melihat itu, aku segera mengejarnya, berniat mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur. Namun, Ivana yang melihatku langsung berteriak, "Kenapa di mana-mana selalu ada kamu? Hebat juga ya, sudah diikat masih bisa kabur!"

"Kerjaannya cuma menjilat orang. Menjilat pengurus rumah memangnya bisa dapat keuntungan apa?"

Aku menatapnya dengan penuh rasa jijik. Ivana masih berani sesumbar mengaku memahami kehidupan sang Adipati?

Dia bahkan tidak tahu bahwa wanita itu adalah orang yang paling dihormati sang Adipati semasa hidupnya.

Sebenarnya, wanita itulah pewaris pertama yang disebut dalam surat wasiat. Namun, karena mengenang semua kebaikan sang Adipati kepadanya dan merasa usianya sudah lanjut, wanita itu memilih menolak seluruh warisan itu agar diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan.

Bahkan wanita seperti itu pun masih berani dihina Ivana di depan banyak orang.

Setelah pengurus rumah itu pergi, Ivana melihat tidak ada lagi yang menghalanginya. Dia segera melambaikan tangan, menyuruh Melvin dan ibu angkatnya menyingkir.

Kemudian, dia berlutut sambil memeluk peti jenazah sang Adipati dan menangis sejadi-jadinya. Dia ingin agar begitu Pangeran Chaplin masuk nanti, hal pertama yang dilihat adalah betapa dalamnya perasaannya kepada mendiang.

Tingkah wanita itu benar-benar memuakkan. Bahkan pengacara yang mengundang kami menghadiri pemakaman pun langsung panik.

"Berhenti nangis! Pangeran Chaplin akan segera tiba. Beliau sangat menjunjung tinggi etiket kaum bangsawan!"

"Kalau beliau melihatmu membuat keributan dengan meratap di sini, beliau bisa langsung menyuruh orang melemparmu keluar!"

Ivana langsung meledak marah. "Kamu cuma seorang pengacara, berani-beraninya mengarang cerita seperti itu kepada ahli waris!"

"Jangan-jangan kamu sengaja bawa nama Pangeran Chaplin untuk menekan kami ya? Supaya bisa mencari kesempatan menggelapkan harta warisan ya?"

Pengacara itu sampai terdiam sesaat karena ucapan itu. Wajahnya memerah menahan amarah.

"Jelas-jelas kalian yang mengacaukan pemakaman hingga sang Adipati nggak bisa beristirahat dengan tenang, tapi malah menuduhku macam-macam!"

Ivana hanya mendengus sinis dan sama sekali tidak menghiraukannya. Saat mengangkat kepala, dia kebetulan melihatku sedang mengantar pengurus rumah itu naik ke lantai atas.

Seolah baru menyadari sesuatu, dia langsung berbalik dan berlari mengadangku. Dengan suara pelan yang penuh kebencian, dia berkata, "Jadi ini akalmu! Mati-matian mencari orang sebanyak itu hanya untuk menghalangiku meratap! Kamu takut aku mencuri perhatian Pangeran Chaplin, 'kan?"

Aku menyunggingkan senyuman tipis, lalu mencibir. "Kamu becermin dulu deh. Benar-benar seperti kucing liar yang birahi. Memangnya siapa yang suka melihatmu meraung-raung di sini?"

Tubuh Ivana langsung gemetar karena marah. Bola matanya berputar sesaat, lalu dia sengaja memiringkan tubuhnya dan menjatuhkan diri dari tangga.

Begitu terempas ke lantai, dia langsung meraung sekeras-kerasnya, memainkan seluruh sandiwara yang dia bisa.

"Apa salahku sampai Kakak tega memperlakukanku seperti ini?" Begitu kata-kata itu terlontar, tatapan para tamu di sekitar langsung berubah dingin.

Rupanya setelah sandiwara tangisnya tidak berhasil, sekarang dia beralih memainkan sandiwara menyakiti diri sendiri.

"Kamu seiri itu sama Ivana? Sampai-sampai di acara seperti ini kamu tega mendorongnya! Nama baik keluarga benar-benar hancur di tanganmu!" Melvin bergegas menghampiri sambil memakiku habis-habisan.

Karena masih belum puas, dia mengayunkan tangan dan menamparku dengan keras.

"Pangeran Chaplin sebentar lagi datang, tapi kamu masih sempat-sempatnya cemburu dan bikin masalah! Keluar dari sini sekarang juga!"

Baru saja kata-kata itu selesai diucapkan, ibu mertua dan adik angkatnya langsung menerjangku, menarikku keluar secara paksa.

Saat mereka hampir menyeretku ke luar pintu, lenganku terasa nyeri karena dicengkeram begitu kuat.

"Berhenti!" Sebuah bentakan dingin tiba-tiba menggema, membuat mereka semua langsung membeku.

Kerumunan seketika mundur memberi jalan. Yang terdengar hanyalah suara sepatu kulit mengentak lantai.

Seorang pria dengan lencana keluarga kerajaan yang tersemat di dadanya berjalan keluar. Wibawa bangsawan yang terpancar darinya begitu kuat hingga tak seorang pun berani bersuara.

"Kalian sudah melakukan pantangan besar dengan meratap di depan mendiang, sekarang kalian bahkan menggunakan kekerasan di depan umum? Kalau begitu, menurutku warisan ini nggak perlu lagi diwariskan kepada kalian!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 9

    "Dengar baik-baik, semuanya! Ayahnya nggak punya uang untuk berobat karena mereka gagal mendapatkan warisan.""Lalu kenapa mereka gagal mendapatkannya? Silakan tonton video ini!"Sambil berkata demikian, aku memutar video yang kurekam saat menghadiri pemakaman bangsawan dulu.Di dalam video itu, tingkah Ivana yang meraung-raung dan menangis terekam dengan sangat jelas."Lihat sendiri! Wanita inilah yang mengabaikan aturan, bersikeras meratap, melanggar pantangan, dan akhirnya menggagalkan semuanya!""Sudah begitu banyak orang berusaha menghentikannya, tapi dia tetap keras kepala. Dia memang sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda para bangsawan!"Awalnya masih ada sebagian netizen yang setengah percaya dan setengah ragu. Namun tak lama kemudian, arah opini di siaran langsung langsung berbalik.Asisten Pangeran Chaplin mengeluarkan pernyataan resmi melalui media di dalam negeri. Di dalam pengumuman itu dijelaskan dengan sangat jelas bahwa yang membuat keributan di pemakaman a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 8

    Beberapa bulan kemudian, ayah Melvin akhirnya meninggal dunia.Namun saat upacara pemakaman berlangsung, keluarga mereka bahkan tidak mau membiarkan almarhum pergi dengan layak.Kamera langsung diarahkan ke jenazah, lalu tanpa rasa sungkan mereka memulai siaran langsung.Seluruh keluarga kompak menuduhku telah menyiksa ayah mereka, hingga namaku langsung menjadi topik hangat di media sosial.Ivana menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. "Kiara benar-benar kejam! Selama ini dia menyiksa ayah mertuanya, belum lagi sengaja membawa kabur uang untuk biaya pengobatan!"Mata Melvin memerah. Air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Benar! Sejak pulang dari pemakaman bangsawan di Inglis, pikirannya cuma dipenuhi pria-pria di sana. Dia terus memaksa ingin cerai!"Ibu mertuaku menepuk-nepuk pahanya sambil meraung histeris. "Suamiku, kamu benar-benar malang! Bisa-bisanya mendapat menantu perempuan berhati iblis seperti itu!"Tangisan mereka bertiga membuat kolom komentar siaran langsung

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 7

    Barulah saat itu Melvin benar-benar panik. Dia langsung menarikku ke sudut yang sepi sambil memohon dengan tergesa-gesa, "Sayang, tolong bicara baik-baik dengan Pangeran Chaplin. Bilang kami nggak sengaja menguncimu di dalam mobil.""Kita ini suami istri. Warisan itu juga harta bersama kita. Masa kamu tega melihat semuanya lenyap begitu saja?"Aku mencibir. Tak kusangka pria ini masih punya muka untuk memohon kepadaku. "Sekarang baru ingat aku ini istrimu? Waktu kamu mengunciku di dalam mobil tadi, kenapa nggak ingat?""Waktu ibu dan adikmu memperlakukanku seenaknya, bukannya kamu juga cuma berdiri di samping dan membiarkannya?"Melvin langsung tidak bisa berkata-kata. Wajahnya memerah karena marah. "Kiara! Kalau bukan karena kamu setiap hari cemburu dan cari gara-gara dengan Ivana, apa aku akan memperlakukanmu seperti ini?""Semua ini salahmu sendiri! Kamu nggak bisa memikirkan keluarga ini sedikit?"Begitu dia kembali menyalahkanku dan bersikeras mengatakan aku selalu memusuhi adik a

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 6

    Wajah mereka bertiga seketika pucat pasi, seolah melihat hantu.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang menyelamatkanku dari dalam mobil ternyata adalah Pangeran Chaplin.Bibir Ivana bergetar saat buru-buru membela diri, "Dia sendiri yang ketiduran dan nggak turun dari mobil bersama kami! Bukan kami yang sengaja menguncinya dari luar!"Melvin pun segera maju untuk mendukung, "Benar! Dia memang pemalas dan kerjanya cuma tidur. Dia nggak pernah melakukan apa-apa di rumah!""Pangeran Chaplin, jangan sampai tertipu olehnya! Kelihatannya saja dia lembut, padahal segala macam perbuatan keji juga sanggup dia lakukan!"Melihat mereka memfitnahku tanpa sedikit pun rasa bersalah, hatiku benar-benar menjadi dingin.Baru kusadari, pernikahan beberapa tahun terakhir ini ternyata tak lebih dari sebuah lelucon yang menyedihkan.Dengan marah, Chaplin mengambil foto hasil rekaman CCTV yang baru saja dicetak, lalu membantingnya ke wajah Melvin. "Kalian kira area parkir nggak dipasangi kamera

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 5

    Wajah Ivana dan Melvin seketika pucat pasi.Dari sekian banyak waktu, kenapa justru saat mereka menyeretku keluar mereka harus bertemu dengan Pangeran Chaplin?Dengan panik, Melvin segera maju. Suaranya sampai terdengar gemetar. "Pangeran Chaplin, mohon jangan salah paham! Perempuan ini yang membuat keributan di pemakaman. Kami hanya berusaha menjaga ketertiban!"Pangeran Chaplin mencibir, lalu mengangkat tangan menunjuk ke arah pintu. "Kalian pikir kami semua buta? Yang meratap dan mengacaukan pemakaman justru kalian!""Masih berani mengaku menjaga ketertiban? Yang seharusnya diusir adalah kalian yang nggak tahu sopan santun!"Tak menyangka akan dimarahi habis-habisan oleh Pangeran Chaplin, wajah Melvin berganti-ganti antara pucat dan merah karena malu.Sementara itu, Ivana terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan kakinya. Air matanya mengalir begitu saja. "Pangeran Chaplin, lihatlah! Pergelangan kakiku terkilir karena didorong dia! Dia sudah menindasku seperti ini, tapi Panger

  • Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman   Bab 4

    Aksi meratap itu membuat upacara pemakaman tidak bisa dilanjutkan. Pengurus rumah sang Adipati akhirnya tak sanggup lagi menahan diri dan maju menasihati Ivana."Nona, Anda nggak kenal sang Adipati, jadi tentu nggak memahami kepribadiannya.""Saya telah melayani beliau selama 40 tahun. Di masa tuanya, beliau sering berkata bahwa yang paling beliau benci adalah orang-orang yang berpura-pura sedih dan menangis di pemakaman."Namun, Ivana justru menganggap wanita itu kesal karena tidak mendapatkan warisan."Kamu sudah melayani selama 40 tahun, tapi cuma menerima gaji. Bahkan status pun nggak dapat. Memangnya kamu tahu apa tentang penderitaan sang Adipati?""Sang Adipati meninggal seorang diri. Kamu yang sudah menemaninya selama 40 tahun kok bisa setega ini?"Ucapan itu bagaikan pisau yang menusuk hati sang pengurus rumah hingga matanya langsung memerah.Kesedihan yang selama ini dia tahan atas kepergian mendiang akhirnya tak mampu lagi dibendung. Dia pun berbalik dan berjalan keluar.Meli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status