"Kayaknya, kamu masih keras kepala kayak dulu deh," ujar Lalisa. Perempuan itu terkekeh pelan begitu mereka keluar dari restoran. Pintu kaca otomatis terbuka, membiarkan semburat matahari sore menyambut langkah keduanya. Udara yang sejak tadi tertahan di dalam ruangan kini berganti dengan angin hangat yang berembus pelan, membuat rambut Widya sedikit berayun. Di sekitar area pertokoan, orang-orang mulai memenuhi trotoar, sebagian membawa kantong belanja, sebagian lagi sibuk mengabadikan suasana sore bersama keluarga mereka. Widya hanya menggeleng kecil sambil mengayunkan tas di lengannya. "Kalau nggak keras kepala, restoranku nggak mungkin bisa berkembang sampai sekarang." "Nah, itu dia!" Lalisa tersenyum geli. "Makanya aku bilang dari dulu, kamu ini kalau sudah punya tujuan susah banget diubah." Widya tidak membantah, itu memang benar. Sejak remaja, ia selalu mengejar apa yang diinginkannya sampai berhasil. Dulu mengejar nilai terbaik, kemudian mengejar Rafael, lalu setelah m
Last Updated : 2026-07-18 Read more