Avery tidak tidur nyenyak malam itu.Bukan karena cuaca.Bukan karena suara angin yang sesekali mengguncang dinding kabin.Melainkan karena tiga kata yang terus berputar di kepalanya sejak sore.Datang sendiri.Samuel Voss akhirnya berbicara.Bukan melalui arsip.Bukan melalui catatan Nathaniel.Bukan melalui foto lama.Langsung.Dan entah bagaimana, Avery yakin pesan itu memang ditujukan kepadanya.Saat fajar mulai menyentuh puncak-puncak pinus, Avery sudah berada di dapur.Secangkir kopi dingin berada di depannya.Tak tersentuh.Ia sedang menatap catatan Samuel untuk kesekian kalinya ketika Oliver masuk.Pria itu hanya membutuhkan satu detik untuk mengetahui Avery telah membuat keputusan."Kau mau pergi."Bukan pertanyaan.Pernyataan.Avery menghembuskan napas."Ya."Keheningan langsung jatuh di antara mereka.Oliver menyandarkan bahunya ke kusen pintu."Aku tidak suka ide itu.""Aku tahu.""Itu bisa jadi jebakan.""Aku tahu.""Kita tidak tahu apa yang Samuel inginkan.""Aku tahu."
Last Updated : 2026-08-27 Read more