Hujan es tidak lagi terasa seperti air dari langit, melainkan ribuan jarum tajam yang menusuk setiap jengkal kulit wajah Avery. Di dalam sarung tangan kain murahan seharga beberapa sen, jemarinya sudah lama mati rasa. Kaku, beku, dan kikuk saat dipaksa menggenggam gagang palu besi yang berat.Untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit, Avery mengayunkan lengan yang gemetar, mencoba menghantam kepala paku, dan kembali meleset total. Palu justru menghantam kayu lapuk, menimbulkan bunyi berdebum basah disertai serpihan busuk yang mencuat ke mana-mana."Ayolah," desis Avery dengan gigi yang saling gemeletuk parah melawan amukan angin. "Masuklah ke dalam kayu itu. Kumohon, kali ini saja."Paku baja di hadapannya seolah mengejek ketidakberdayaan Avery. Posisinya membungkuk miring empat puluh lima derajat, menancap setengah jalan di atas permukaan kayu abu-abu yang basah kuyup—persis seperti gigi berkarat yang mencuat dari gusi yang membengkak.Gubuk tua di Pine Valley ini seharusnya menjadi a
Terakhir Diperbarui : 2026-06-25 Baca selengkapnya