Darwis mengangkat pandangannya ke arah kerabat itu, lalu perlahan berkata, "Kakek Radit, marga istriku Alinskie."Suaranya terdengar jelas. Saat kalimat itu masuk ke telinga Nirina, rasanya bagai alunan musik yang paling indah.Jantungnya seketika berdegup makin kencang. Matanya berbinar penuh harap. Tatapannya terkunci erat pada bibir Darwis, menunggu pria itu menyebut namanya.Namun, tepat ketika Darwis hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba dering ponsel yang nyaring memecah keheningan singkat itu.Dia mengeluarkan ponselnya dan melirik layarnya. Alisnya sedikit berkerut.Sesaat kemudian, pria itu berdiri. Dia mengangguk ringan kepada Radit. Dengan nada meminta maaf, dia berkata, "Maaf, Kakek Radit. Ada urusan yang mendesak dan harus kutangani. Aku permisi sebentar. Biar istriku yang menemanimu ngobrol."Setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik dan pergi.Tanpa sadar, Nirina langsung menganggap bahwa yang dimaksud Darwis dengan istri adalah dirinya.Bagaimanapun juga, selama i
Read more